Home / Berita / Kebakaran Hutan Menurun, Faktor Cuaca Berperan

Kebakaran Hutan Menurun, Faktor Cuaca Berperan

Puncak musim kemarau terlewati dengan intensitas kebakaran hutan dan lahan menurun drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Selain berbagai upaya yang telah dilakukan, faktor cuaca yang cenderung basah berkontribusi terhadap menurunnya kebakaran hutan dan lahan.

“Jumlah hotspot (titik panas) menurun 32,6 persen selama tahun 2017 dibandingkan tahun 2016,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Rabu (25/10).

Berdasarkan rekapitulasi data yang dianalisis dari pantauan satelit NOAA, pada 2016 ada 3.563 titik panas, sedangkan selama 2017 ada 2.400 titik panas. Begitu juga titik panas kebakaran hutan dan lahan dari pantauan satelit Terra-Aqua, menurun 46,9 persen. Selama 2016 terdapat 3.628 titik panas, sedangkan tahun 2017 sebanyak 1.927 titik panas untuk tingkat kepercayaan di atas 80 persen.

Luas kebakaran hutan dan lahan, menurut analisis citra satelit yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), juga berkurang. Selama 2017 terdapat 124.983 hektar (ha) hutan dan lahan yang terbakar. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan tahun 2016 seluas 438.360 ha dan tahun 2015 seluas 2,61 juta ha.

Perubahan pola
Selain penurunan titik dan luasan lahan yang terbakar, pola kebakaran juga berubah. Jika sebelumnya daerah yang banyak terbakar ada di Sumatera dan Kalimantan, pada 2017 bergeser ke Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Papua.

Data KLHK, selama 2017, daerah yang banyak terbakar di NTT seluas 33.030 ha, NTB 26.217 ha, dan Papua 16.492 ha. Adapun daerah-daerah langganan kebakaran hutan justru berkurang, misalnya di Riau luas yang terbakar 6.841 ha, Sumatera Selatan 3.007 ha, Jambi 109 ha, Kalimantan Barat 6.992 ha, Kalimantan Selatan 3.007 ha, Kalimantan Tengah 1.365 ha, dan Kalimantan Timur 262 ha.

Sutopo mengatakan, penurunan kebakaran ini tak lepas dari berbagai upaya yang dilakukan. Patroli terpadu dilakukan dengan mendirikan 300 posko desa dengan jangkauan 1.203 desa rawan kebakaran hutan dan lahan. KLHK menggerakkan 1.980 personel Manggala Agni dan 9.963 anggota Masyarakat Peduli Api. Personel TNI dan Polri juga dikerahkan untuk antisipasi dan pemadaman.

“BNPB mengerahkan 26 helikopter water bombing dan 3 pesawat untuk hujan buatan,” katanya.

Segenap upaya ini butuh biaya besar. “Setiap tahun rata-rata anggaran untuk penanggulangan kebakaran hutan dan lahan Rp 500 miliar-Rp 700 miliar,” kata Sutopo.

Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Ramlan mengatakan, pola kebakaran hutan dan lahan pada tahun ini sebagian besar hanya berupa titik panas dan tidak sampai meluas. Ini mengindikasikan upaya mengendalikan sebaran api bisa dilakukan. “Memang ada kesiapan dari instansi yang menangani soal ini,” katanya.

Namun, menurut Ramlan, kondisi ini juga terbantu kondisi cuaca tahun ini yang tidak terlalu kering. “Tahun 2017 ini musim kemarau cenderung normal mengarah ke basah, terutama di daerah yang sering terjadi kebakaran, seperti Palembang dan Pekanbaru,” katanya. (AIK)

Sumber: Kompas, 26 Oktober 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: