Home / Berita / Perhitungkan Risiko Tsunami

Perhitungkan Risiko Tsunami

Penemuan deposit tsunami di selatan Jawa seharusnya menjadi dasar bagi perencanaan pembangunan yang digalakkan di kawasan ini, termasuk bandar udara baru yang akan dibangun di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tata ruang kawasan ini perlu disesuaikan karena pembangunan fasilitas umum seperti bandar udara akan diikuti tumbuhnya pusat ekonomi baru.

Sebagaimana diberitakan, tim peneliti dari Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan sedimen tsunami tua di sekitar lokasi pembangunan bandara Yogyakarta yang baru di Wates, Kulon Progo. Temuan ini diperkirakan sezaman dengan deposit tsunami di Lebak (Banten), Pangandaran (Jawa Barat), dan Cilacap (Jawa Tengah), yaitu sekitar 300 tahun lalu.

“Dengan temuan sedimen tsunami di sepanjang pantai selatan Jawa ini, kemungkinan gempa yang memicunya jauh lebih besar dibandingkan yang terjadi di Pangandaran tahun 2006,” kata kata peneliti tsunami Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Widjo Kongko, Senin (24/7).

Secara tradisional, pantai selatan Jawa cenderung tertinggal pembangunannya dibandingkan dengan kawasan utara pulau ini. Namun, akhir-akhir ini pembangunan mulai diintensifkan di sana, salah satunya pembangunan jalan lintas selatan Yogyakarta, pelabuhan internasional, dan rencana pembangunan bandara internasional di Kulon Progo.

Kepala Geoteknologi LIPI Eko Yulianto mengatakan, tren pembangunan di selatan Jawa ini perlu memperhitungkan risiko bencana gempa dan tsunami besar yang terbukti pernah melanda. Potensi gempa di kawasan ini, berdasarkan sebaran deposit tsunaminya. bisa di atas M 9.

Temuan deposit tsunami ini, kata Widjo, seharusnya menjadi dasar bagi perencanaan pembangunan di kawasan selatan Jawa. “Terutama bandara internasional Yogyakarta yang baru, yang berada persis di pinggir pantai,” katanya.

Hal senada dikatakan Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mochammad Riyadi. BMKG telah melakukan kajian tentang risiko gempa dan tsunami di rencana tapak pembangunan bandara Kulon Progo. Hasilnya, akan diserahkan ke PT Angkasa Pura yang bertanggung jawab dalam pembangunan bandara ini. (AIK)
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 Juli 2017, di halaman 14 dengan judul “Perhitungkan Risiko Tsunami”.
———-
Jejak Tsunami Ditemukan Lagi

Deposit di Dekat Bandara Baru Yogyakarta
Tim peneliti Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menemukan deposit tsunami di dekat bakal lokasi bandar udara baru di Yogyakarta. Deposit tsunami itu diperkirakan berusia 300 tahun, seumuran jejak di pantai selatan Banten dan Jawa Barat.

Endapan tsunami ini ditemukan di Pantai Congot, Desa Karangwuni, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulon Progo.

“Jarak temuan deposit tsunami ini dari garis pantai sekitar dua kilometer. Hal ini menguatkan survei kami sebelumnya tentang pernah terjadi tsunami di sepanjang pesisir selatan Jawa,” kata Eko Yulianto, Kepala Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang saat dihubungi dari Jakarta, Minggu (23/7), berada di lapangan.

Peneliti paleotsunami LIPI, Purna Sulastya Putra, yang turut dalam penggalian tersebut, menambahkan, lapisan pasir dengan ketebalan rata-rata 5 sentimeter (cm) hingga 15 cm ditemukan secara konsisten di antara tanah lempung. Kedalaman lapisan itu berkisar dari 80 cm hingga 130 cm. “Kami melakukan banyak sekali pengeboran dan menemukan lapisan yang sama,” katanya.

Menurut Purna, keyakinan bahwa lapisan pasir ini merupakan deposit tsunami dikuatkan oleh penemuan banyak fosil kerang foraminifera yang menandai asalnya dari laut. Dalam berbagai kajian paleotsunami, fosil kerang yang merupakan material organik itu akan dianalisis dengan menggunakan radiokarbon sehingga bisa diketahui kapan tsunami tersebut terjadi.

“Dari kedalaman dan tebal lapisannya, deposit tsunami di pesisir Kulon Progo ini kemungkinan besar sezaman dengan temuan kami di Lebak (Banten), Pangandaran (Jawa Barat), dan Cilacap (Jawa Tengah). Deposit tsunami di tiga lokasi ini sudah diperkirakan umurnya dan ditemukan angka sekitar 300 tahun lalu,” kata Eko.

Timnya juga menemukan lapisan tsunami tua di Pacitan, Jawa Timur, yang saat ini sampelnya tengah diuji di laboratorium untuk mengetahui umurnya. Di Pangandaran, selain lapisan itu, juga ditemukan deposit tsunami dengan umur sekitar 1.000 tahun. Hal itu menunjukkan, kejadian tsunami di kawasan tersebut telah terjadi berulang.

Sangat besar
Dari kajian paleotsunami yang telah dilakukannya secara intensif beberapa tahun terakhir ini, Eko meyakini bahwa pantai selatan Jawa telah berulang kali dilanda tsunami besar di masa lalu. “Jika daerah yang terlanda tsunami dari Lebak hingga Cilacap, berarti jangkauannya sudah sekitar 500 kilometer (km). Ini berarti gempanya di atas M 9 atau setara dengan tsunami Jepang tahun 2011,” ucapnya.

“Sementara jika ternyata jejak tsunami di Pacitan juga sezaman, itu berarti wilayah terdampak sepanjang 800 km,” kata Eko.

Sebagai perbandingan, tsunami Aceh melanda kawasan pesisir sepanjang sekitar 1.300 km. “Kami juga menunggu hasil penanggalan temuan deposit tsunami dari tim Ron Harris di selatan Bali. Jika ternyata juga sezaman, itu berarti tsunaminya sangat besar,” ujarnya.

Menurut Eko, kejadian tsunami sekitar 300 tahun ini bersesuaian dengan gempa besar yang dicatat Arthur Wichman (1918) dalam katalog gempa bumi di Kepulauan Indonesia periode 1538-1877. Dalam katalog tersebut disebutkan, gempa besar pernah melanda di Jawa pada 5 Januari 1699.

Wichman menyebut gempa amat kuat terjadi pada dini hari, pukul 01.30, dan merobohkan banyak bangunan di Batavia (Jakarta) yang berada di pesisir utara Pulau Jawa. Gempa juga disebut menyebabkan bencana tanah longsor besar di Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak, Jawa Barat.

Banjir bandang berisi lumpur dan kayu memenuhi Sungai Ciliwung di Batavia, kemudian mengalir ke laut. Di mana-mana terjadi kehancuran.

Meski Wichman tidak menyebutkan di mana sumber gempa itu, melihat kekuatan dan dampaknya yang luas, gempa tersebut diyakini bersumber dari zona subduksi di selatan Jawa. “Dugaan sementara, gempa inilah yang menimbulkan tsunami dari pantai selatan Jawa Barat hingga Jawa Tengah, dan kemungkinan lebih jauh lagi jangkauannya,” kata Eko. (AIK)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Juli 2017, di halaman 13 dengan judul “Jejak Tsunami Ditemukan Lagi”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: