Home / Berita / Tujuh Lapis Tsunami di Selatan Jawa Ditemukan

Tujuh Lapis Tsunami di Selatan Jawa Ditemukan

Gempa berkekuatan M 5,1 pada Jumat (30/11) pukul 3.42 WIB di selatan Yogyakarta menjadi peringatan aktifnya zona subduksi Samudera Hindia di segmen ini. Zona subduksi di selatan Jawa ini memiliki potensi menghasilkan gempa besar sehingga memicu tsunami raksana. Kajian terbaru menemukan tujuh lapis tsunami di selatan Jawa.Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), episenter gempa terletak pada koordinat 8,83 Lintang Selatan dan 109,75 Bujur Timur, tepatnya di laut pada jarak 116 kilometer (km) arah barat daya Kota Wates, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Sedangkan kedalaman hiposenter 54 km.

?“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya gempa di selatan Yogyakarta dan Jawa Tengah ini tergolong dangkal dan dipicu oleh aktivitas subduksi,” kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono.

–Keberulangan tsunami di selatan Jawa berdasarkan kajian paleotsunami yang dilakukan Puslit Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2018.

?Di zona ini subduksi ini Lempeng Indo-Australia bergerak menyusup ke bawah Lempang Eurasia. Zona ini masih merupakan satu rangkaian dengan subduksi di Samudera Hindia yang memicu gempa Aceh pada 2004. Kecepatan pertemuan lempeng di zona ini juga relatif sama, yaitu sekitar 40 mm per tahun.

?Jadi, dari kecepatan pergerakan lempengnya, zona kegempaan di selatan Jawa memiliki potensi yang hampir sama dengan di selatan-barat Sumatera. Namun, demikian, dalam kurun waktu 20 tahun terakhir gempa yang terjadi di selatan Jawa hanya berkekuatan M 7, sekalipun tsunaminya cukup tinggi.

?Gempa bumi yang terjadi di Pacitan tahun 1994 berkekuatan M 7,8 dan Pangandaran tahun 2006 berkekuatan M 7,8 mengakibatkan gelombang tsunami dengan tinggi mencapai 20 meter. Namun, kajian peneliti gempa bumi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Rahma Hanifa (2014) menunjukkan, zona subduksi di barat Jawa itu berpotensi memicu gempa berkekuatan M 8 atau 9.

?Data dari hasil pemutakhiran Peta Gempa Bumi 2016 oleh Pusat Studi Gempa Bmi Nasional (Pusgen) membagi zona subduksi selatan Jawa dalam tiga segmen, yaitu Selat Sunda-Banten dan Jawa Barat yang masing-masing bisa menghasilkan gempa berkekuatan M 8,8. Sementara segmen Jawa Tengah-Jawa Timur bisa menghasilkan gempa berkekuatan M 8,9. Jika tiga segmen ini runtuh bersamaan, gempa dan tsunami yang dihasilkan bisa sebesar Aceh 2004.

Perulangan tsunami
?Para peneliti paleotsunami atau endapan tsunami tua dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Puslit Geotek-LIPI) telah menemukan jejak perulangan tsunami besar di selatan Jawa ini melalui serangkaian penelitian sejak beberapa tahun terakhir.

?“Baru-baru ini kami menemukan tujuh lapis endapan tsunami tua di dalam gambut d kawasan Ujung Genteng, Sukabumi. Saat ini kami menguji material organik yang ditemukan di sedimen ini untuk mengetahui waktu kejadian tiap lapisannya,” kata Purna S Putra, peneliti palotsunami Puslit Geotek LIPI.

?Dalam riset sebelumnya, timnya telah menemukan endapan tsunami yang tersebar di Lebak, Banten hingga Pacitan, Jawa Timur yang memiliki kesamaan umur, yaitu 400 tahun. Temuan itu menunjukkan, sekitar 400 tahun lalu terjadi tsunami berkekuatan besar membanjiri pesisir di selatan Banten hingga Pacitan. “Dari perhitungan kami, tsunami yang dihasilkan saat itu dipicu gempa raksasa yang bisa jadi kekuatannya sama dengan Aceh tahun 2004,” kata Purna.

?Dalam penelitiannya di Lumajang, Jawa Timur juga ditemukan endapan tsunami berumur 120 tahun dan 670 tahun. Endapan tsunami dengan umur ini tidak ditemukan di bagian barat selatan Jawa. “Jadi, selain tsunami besar, juga ditemukan tsunami lokal di sekitar Jawa Timur. Kemungkinan seperti tsunami Pangandaran 2006 atau Pacitan 1994,” kata dia.

?Secara budaya bisa dikaitkan dengan mitologi Ratu Kidul yang berkembang kuat di kawasan ini. Narasi yang terbangun dalam kisah kemunculan Ratu Kidul memiliki ciri-ciri seperti tsunami.

?Hal ini tertera misalnya dalam Sekar Macapat dalam Serat Sri Nata yang menyebutkan, “air naik ke angkasa” dan laut yang surut sehingga “samudera menjadi pesisir.” Demikian halnya, Babad Ing Sangkala yang ditulis pada tahun 1738 juga mendeskripsikan ciri-ciri tsunami, seperti “lenyapnya daratan dan berubah jadi laut”.

?Secara tradisional, masyarakat Jawa cenderung tidak tinggal di pesisir selatan Jawa. Namun belakangan kawasan itu mulai tumbuh pesat, termasuk dengan rencana pembangunan Bandar Udara Internasional Yogyakarta di tepi pantai Kulon Progro.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 1 Desember 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: