Home / Artikel / Pergulatan dengan Kekuasaan

Pergulatan dengan Kekuasaan

Bagi generasi dan zamannya, dan bagi dua-tiga generasi di bawahnya, peran Arief hampir tak tergantikan. Dia pemberi inspirasi bagi yang mencintai dan membencinya.

Arief Budiman dalam hidupnya, sejauh yang saya kenal sejak tahun- tahun mahasiswa 1970- an, selalu berurusan dengan protes sosial dalam bidang apa pun yang bisa dikategorikan sebagai sosial.

Meskipun sudah tak lagi menjadi mahasiswa dia selalu terlibat dengan gerakan mahasiswa baik dalam masalah korupsi, protes terhadap pembunuhan mahasiswa di Bandung (1971), atau melawan dibangunnya Taman Mini Indonesia (1973), dengan memakai APBD masing-masing, dan pembongkaran satu desa demi pembangunan bendungan Kedung Ombo (985).

Setelah kembali dari studi di Harvard, terlibat lagi dalam aksi protes di universitas tempat bekerja dan mengajar sampai harus memilih meninggalkan universitas tersebut, dan beralih ke universitas lain di luar batas negara ini.

Siapa sebenarnya Arief Budiman? Pertanyaan ini beredar luas di masyarakat, apalagi generasi lebih muda yang pasti “bingung” mengapa orang-orang tua itu begitu ribut tentang “satu orang” ini. Semua merangsang penulis mempelajari gejala Arief Budiman dalam masyarakat bangsa dan politik Indonesia.

“The Political Man”
Tentu saja tak mudah menulis tentang Arief Budiman dalam satu artikel untuk membahas kepribadian kompleks, tak sesederhana sebagaimana selalu dilukiskan secara fisikal. Ini termasuk bermacam-macam paradoks yang melekat dalam pribadinya, sebagai manusia, makhluk seni, man of literature, dan ilmuwan, tepatnya sosiolog.

Namun, semuanya atau sebagian mendapatkan momentum berikut ini. Ketika menjemput jenazah adiknya, Soe Hok Gie, di kaki Gunung Semeru ada pengalaman luar biasa yang mengingatkan Arief tentang Gie, yang mengeluh padanya: “ … apa gunanya semua yang saya lakukan? Makin lama makin banyak musuh … kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. … jadi apa sebenarnya yang saya lakukan?” Kenangan semacam ini semakin mencekam ketika berhadapan langsung dengan jenazah kuning pucat adiknya yang memaksanya berkata dalam hati: “Tentunya sepi dan dingin terbungkus dalam plastik itu”.

Semuanya mengungkapkan kesepian, kesendirian, kesepian hidup seorang cendekiawan, Verlassenheitsgefühl, rasa ditinggalkan versi Heideggerian, rasa tidak berguna; dan rasa itu “mempengaruhi hidup saya”, kata Arief.

Namun, ketika ada stop over di Malang untuk memandikan jenazah ada teman yang bertanya kepadanya, apakah Arief ada anggota keluarga di Malang. Ia mengatakan tak ada; namun, Arief terusik mengapa pertanyaan itu diajukan.

Kata sahabatnya ketika memesan peti tukangnya bertanya untuk siapa peti mati itu: “… saya jawab untuk Soe Hok Gie.” Si tukang peti mati tersentak dan menangis, dan hanya mengatakan: “Dia orang berani. Sayang dia meninggal.”

Ketika mampir di Yogya, pilot yang duduk bersama Arief bertanya apa benar jenazah yang dibawa Soe Hok Gie? Dijawab iya. Sang pilot pun berkata: ”Saya kenal namanya, saya senang membaca karangan-karangannya. Sayang sekali dia meninggal. Dia mungkin bisa berbuat lebih banyak, kalau dia hidup terus.”

Dalam satu perjalanan terjadi dua hal tak terduga. Rasa dingin, sepi, dan ditinggalkan tiba-tiba berubah jadi rasa tentang adanya keterhubungan, Verbundenheitsgefühl, bahwa karya intelektual dalam bentuk tulisan, buku, artikel, khotbah, pidato dll ternyata memiliki “mulut, kaki dan tangan sendiri”, yang mampu memaklumkan dirinya sendiri, membela dirinya sendiri, bisa mampir di tempat di mana dia mau. Dengan ini karya itu menghubungkan yang tak terhubungkan antara sang cendekiawan, tukang peti mati, dan pilot pesawat.

Yang kedua, menghubungkan dua kelas sosial berbeda di dua tempat berbeda—seorang proletarian tukang peti mati, dan seorang dari kelas menengah pilot pesawat AU republik ini. Dengan itu Arief mengatakan, dia dapat jawaban bahwa karya intelektual bukan tak berguna dan untuk itu dia siap.

Dengan ini pun tidak dikatakan bahwa baru sejak saat itu kehidupan kecendekiaan Arief mulai berlangsung, karena sudah bertahun-tahun sebelumnya, sejak masa Demokrasi Terpimpin Soe Hok Djin sudah berada di wilayah ini, yang tak terhindar dari hubungan dan tabrakan dengan kekuasaan. Namun, pengalaman ini menjadi pelecut kuat, dan motivasi besar bagi kegiatan selanjutnya.

Psikologi penantang
Berbeda dengan Soe Hok Gie, Arief tak bekerja dalam sepi. Dalam hubungan dengan kehidupan publik pada suatu masa memang Arief menjadi linch-pin, as, poros untuk berputarnya roda, antara Jakarta dan kami di Yogyakarta. Karena Arief berada baik sebagai auctor intellectualis dari banyak gerakan mahasiswa, kalau bukan jadi demonstran sendiri, maka setiap gerakan yang berasal dari Jakarta sering/selalu diasosiasikan dengan dirinya sebagai penggerak.

Apa yang terjadi di Jakarta sangat sering bahkan selalu dapat gema di Yogya.
Dengan begitu Yogya di masa Orde Baru menduduki posisi khusus bagi mahasiswa-mahasiswanya—dalam arti berada di tengah antara “kesombongan” sebagai pusat kerajaan Mataram, ibukota republik masa revolusi, Universitas Gadjah Mada sebagai universitas revolusi Indonesia, dan minderwaardigheidsgevoel, perasaan rendah diri, yang ditimpa lagi oleh minderwaardigheids complex, sakit jiwa kompleks rendah diri, sebagai mahasiswa dari “ndeso”.

Dalam situasi seperti itulah saya dan sekelompok mahasiswa “independen”, yang berarti mereka yang tak terlalu mengikatkan dirinya dengan organisasi besar ekstra-universiter, seperti GMNI, HMI, GMKI, PMKRI merasakan keterikatan dengan Arief.

Ada tiga alasan utama yang memungkinkan sambungan itu. Pertama, dengan bersandarkan independensi Arief tak pernah mengandalkan kekuatan politik, massa actie versi Bung Karno karena memang tak memiliki massa.

—-Foto Arief Budiman (kiri bawah) dan para pendiri majalah sastra Horison lainnya ditampilkan saat sastrawan Taufik Ismail menjelaskan sejarah berdirinya Horison dalam peringatan HUT ke-50 tahun Horison di Jakarta (26/7/2016).

Kedua, karena tak memiliki massa, setiap gerakan melawan Orde Baru (Orba) selalu dikategorikan “gerakan moral”, yang oleh Arief dipertahankan dengan sangat konsekuen, meskipun dengan berlalunya waktu istilah-istilah semacam itu banyak mengandung soal, baik secara teoretis maupun secara praktis, seperti apakah itu bukan pelarian semata-mata karena ketakberdayaan, yang akan menjadi terlalu jauh dari kepentingan tulisan ini.

Ketiga, karena secara kategoris dimasukkan sebagai “gerakan moral” maka kekuatannya terletak dalam linkage, ketersambungan dari segi spasial, Jakarta-Bandung, Jakarta-Yogya, atau Bandung-Yogya dan seterusnya dengan Jakarta atau Bandung bertukar tempat menjadi linch-pin tersebut. Dengan begitu berbagai gerakan mahasiswa melawan Orde Baru, sangat jarang berlangsung tanpa kehadiran Arief.Golput abadi?

Ada banyak gerakan, yang tak mungkin dikutip di sini; di antara yang banyak itu berikut ini sangat membekas dalam diri penulis baik bagi pergerakan maupun bagi kehidupan intelektual-akademis, dan karya-karya profesional sesudahnya dalam jarak waktu panjang sekali. Gerakan dalam hubungan dengan pemilu paling fenomenal, dan dalam arti tertentu begitu paradoksal sehingga meninggalkan gema sampai hari ini.

Fenomenal karena “bertabrakan” dengan Orba dalam inti-inti politik Orba yaitu politics without politics, yang dalam terjemahan praktis berarti politik dengan tak boleh menjalankan politik, massa mengambang dll. Pengamat politik Bill Liddle merumuskan dengan baik bahwa keputusan menjalankan pemilu pertama Orba adalah keputusan dengan semangat anti-partai secara fundamental, “the fundamentally anti-party motivation” di baliknya.

Paradoksal, karena gerakan moral itu sungguh-sungguh politikal dalam arti apapun dan berkekuatan politik dalam arti sebenarnya. Mungkin juga bukan karena gerakan-gerakan itu begitu kuat, tetapi karena berhadapan dengan rezim yang menempatkan rust en orde, ketenangan dan keteraturan, dalam derajat absolut sehingga setiap riak sekecil apa pun jadi gangguan dan harus dibasmi.

Paradoks itulah yang membuat gerakan berikut jadi fenomenal. Pada gilirannya yang paradoksal jadi fenomenal, dan sebaliknya.

Mei 1971, Arief dkk di Jakarta memproklamasikan apa yang disebut “Golongan Putih”, lebih terkenal dalam akronim “Golput”, yang tak mengasosiasikan diri dengan suatu partai dengan mengumumkan dasar “…Golongan ini bukanlah suatu pengelompokan politik, melainkan pengelompokan kultural dalam arti yang mau ditegakkan adalah suatu tradisi kebudayaan dari suatu cara bermasyarakat yang sehat”, dengan tujuan melindungi hak yang mau memilih, juga melindungi “kebebasan untuk tak memilih”.

Ini juga suatu kekuatan, tapi kekuatannya terletak dalam moral force, dan memang istilah Inggris ini yang dipakai. Semua gerakan yang berhimpun di dalam suatu pengelompokan kultural, dengan kekuatan moral mendapat respons politik berat dalam bentuk penangkapan, penahanan oleh polisi dan militer, termasuk Arief sendiri, yang ditahan Laksusda, pelaksana khusus daerah.

Hampir sepanjang hidup sejak dewasa sampai umur tuanya, Arief tak pernah melepaskan diri dari pertarungan dengan kekuasaan segala jenis, hampir-hampir suatu pengalaman Foucaultian dalam arti kalau unsur kekuasaan ada di mana-mana di seluruh sektor sosial, hierarki sosial, maka kekuasaan itu dalam satu cara atau lainnya berkontak, bergeser, dan bertabrak dengan Arief.

Saya mencoba mengangkat satu sisi ke permukaan, meski juga tidak mungkin suatu tulisan pendek berdasarkan pengamatan ala kadarnya mampu merumuskan sesuatu yang bukan saja tak lengkap dan tak memuaskan akan tetapi bisa saja keliru. Untuk menutup upaya yang tidak mungkin ini bisa dikatakan bahwa sebagai manusia dia terutama menjadi a political man, yang selalu mempersoalkan kekuasaan.

Perubahan yang dihasilkan teknologi digital memungkinkan “desentralisasi” dan pelipatgandaan jumlah tokoh seperti itu, yang dikenal maupun tak dikenal publik. Teknologi digital yang memungkinkan akses tanpa batas ruang dan waktu memungkinkan adanya berbagai ragam kelompok dalam Facebook, WhattsApp grup, Instagram, Twitter, dll di mana scientific community itu dibentuk, berkembang, dan melahirkan banyak tokoh dengan peran sebagaimana dijalankan Arief.

Namun, betapa pun andal teknologi, the man behind the gun seperti Arief tetap sulit tergantikan bukan saja karena kehebatannya, yang bisa ditandingi oleh generasi lebih muda, tetapi karena komitmen, etos, dan etika di bidang kecendekiaan tanpa pamrih.

Bagi generasi dan zamannya, dan bagi dua-tiga generasi di bawahnya, peran Arief hampir tak tergantikan. Dia pemberi inspirasi bagi yang mencintai dan membencinya. Di sana Arief Budiman tampil sebagai seorang aktivis yang tidak pernah tenang sampai maut menjemputnya 40 hari lebih lalu menuju ketenangan abadi.

Daniel Dhakidae, Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Prisma, Jakarta.

Sumber: Kompas, 26 Juni 2020

Share
x

Check Also

Rasionalisasi Penerapan Kriteria ”Sembuh” dari Covid-19

Berkaca dari penerapan normal baru di sejumlah daerah di Indonesia, normal baru yang diterapkan dianggap ...

%d blogger menyukai ini: