Home / Berita / Peretasan Situs Telkomsel dan “Hacktivism”

Peretasan Situs Telkomsel dan “Hacktivism”

Murahin harga KUOTA INTERNET, …!!!” . Pesan itu sangat jelas. Pada laman situs resmi Telkomsel yang diretas, Jumat (28/4), pelaku menyampaikan pesan kepada raksasa operator seluler itu agar menurunkan harga kuota internetnya.

Peretas memprotes paket data Telkomsel yang dinilai mahal dengan makian dan kata kasar untuk mengungkapkannya. “Makan aja susah, apalagi beli kuota internet”, demikian pesan lainnya. Ia juga mengeluhkan soal pembatasan kuota dari 2G/3G/4G dan bundling dengan layanan internet lain.

Di media sosial, peristiwa bobolnya situs Telkomsel itu sempat menjadi pembicaraan populer. Oleh karena pesannya sangat jelas, tak sedikit yang mendukung pesan peretas meskipun ada juga yang mengecam.

Belum diketahui siapa pelaku peretasan tersebut. Ahli forensik digital Ruby Alamsyah saat dimintai tanggapan mengatakan, untuk mengetahui siapa pelaku peretasan dibutuhkan penyelidikan.

Dilihat dari lambang di situs Telkomsel yang diretas, terdapat gambar orang berdasi dengan kepala tanda tanya, yang merupakan lambang kelompok hacktivist Anonymous. Apakah peretas Telkomsel anggota kelompok ini belum diketahui.

Jika pelakunya berniat protes, ini adalah salah satu contoh kegiatan hacktivism. Penggunaan internet dan teknologi terkait juga membawa metode baru di semua kegiatan manusia, termasuk para pemrotes yang tidak puas dengan suatu keadaan.

Internet menjadi alat yang kuat untuk menyebarkan pesan luas dan inovasi teknologi memberi para aktivis kemampuan memanfaatkan hacking untuk melakukan protes. Mereka memindahkan aksi protes dari jalan menjadi protes di dunia maya. Penggabungan hacking dengan activism inilah yang disebut hacktivism.

Salah satu kelompok hacktivist yang terkenal adalah Anonymous. Contoh aksi Anonymous, seperti dikutip dari laman The Guardian, adalah saat mereka “berperang” melawan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah dengan merusak situs dan komunikasi daring kelompok itu.

Ruby belum bisa memastikan apakah motif peretas adalah hacktivism, sekadar iseng, atau motif lain, seperti persaingan bisnis dan persoalan tarif.

Sebatas “defacing”
Ia menduga, apa yang dilakukan peretas situs Telkomsel itu hanya sebatas defacing atau mengubah tampilan halaman utama www.telkomsel.com, tidak sampai melakukan pencurian data atau meretas serverbilling Telkomsel. “Tapi, pelaku cukup jahil. Jadi, bukan hanya tampilan dasar web yang diubah, tapi juga header-nya, sehingga saat di-search di Google, tampil pesan seperti yang mereka inginkan,” kata Ruby.

Lebih jauh, ia menduga bahwa pelaku melakukan peretasan data DNS (domain name service) record pihak ketiga yang dipakai www.telkomsel.com, seperti pelaku peretasan laman Presidenri.go.id beberapa tahun lalu. Dugaan itu muncul, ujar Ruby, melihat lamanya Telkomsel melakukan mitigasi dan pemulihan situsnya.

Presiden Direktur Telkomsel Ririek Adriansyah dalam konferensi pers kemarin sore menyebutkan, salah satu laman server diretas pukul 05.15. Informasi ini serempak menyebar di media sosial pukul 05.30.

Pihaknya langsung melakukan berbagai upaya agar laman server itu kembali normal dan baru bisa pulih pada pukul 15.00. Dia menegaskan, laman server yang diretas itu hanya berisi informasi layanan. Penegasan itu sekaligus membantah berita yang beredar bahwa laman yang diretas berisi data pelanggan.

Menurut Ririek, Telkomsel memang tengah melakukan migrasi semua jenis laman server ke zona aman. Hanya, laman server yang diretas kemarin belum dipindahkan ke zona aman tersebut.

“Upaya forensik digital sedang dilakukan. Kami masih menunggu hasilnya. Kami sekarang fokus melakukan mitigasi risiko,” kata Ririek.

Pihak kepolisian menyarankan agar Telkomsel melapor kepada polisi. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono menuturkan, belum ada laporan dari Telkomsel kepada polisi. “Kami menunggu laporan dari Telkomsel. Kalau ada laporan akan kami bantu,” kata Argo.

Penetapan tarif
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan, peretasan itu menunjukkan pentingnya keamanan siber. “Stakeholders itu tentunya perhatian akan adanya jaringan internet yang lebih affordable atau harganya lebih terjangkau oleh masyarakat secara umum. Selain itu, itu (peretasan) juga menunjukkan betapa pentingnya keamanan siber,” ujar Rudiantara di Jakarta, Jumat.

Terkait tarif paket internet yang dinilai mahal, ia menyatakan, pemerintah ingin memberikan kualitas jaringan yang bagus agar pelanggan dapat menikmati layanan broadband Telkomsel dengan baik.

“Saat menetapkan tarif, kami merujuk pada komponen biaya jaringan, termasuk untuk kebutuhan akses bandwidth internasional. Kami tak mungkin menerapkan tarif pada batas bawah,” katanya.

Yang jelas, di negara demokrasi, menyampaikan protes boleh-boleh saja, asal sesuai aturan. (MED/WAD/HAR/RAY)
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 April 2017, di halaman 14 dengan judul “Peretasan Situs Telkomsel dan “Hacktivism””.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: