Home / Berita / Perempuan Masih Tertinggal dari Laki-laki di Sejumlah Bidang

Perempuan Masih Tertinggal dari Laki-laki di Sejumlah Bidang

Perempuan Indonesia masih tertinggal dari laki-laki, terutama dalam pendidikan, kesehatan, dunia kerja, serta akses dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi.

Kendati terdapat sejumlah kemajuan dan peningkatan dalam indeks pembangunan jender dalam sembilan tahun terakhir, hingga kini masih ada kesenjangan antara laki-laki dan perempuan di Indonesia. Perempuan masih tertinggal dari laki-laki terutama dalam pendidikan, kesehatan, dunia kerja, serta akses dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi.

Kendati demikian, perkembangan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) di Indonesia dalam sembilan tahun terakhir meningkat dari 68,15 (2010) menjadi 72,10 (2018). Selain karena persentase perempuan dalam parlemen yang mencapai 17,32 persen, peningkatan tersebut disumbang oleh persentase perempuan sebagai tenaga profesional, manajer, dan teknisi sebesar 47,02 persen, serta persentase sumbangan pendapatan perempuan sebesar 36,70 persen.

KOMPAS/SONYA HELLEN SINOMBOR–Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Sri Soelistyowati, menyampaikan materi pada Seminar “Publikasi Data dan Informasi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2019” yang merupakan kerjasama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan BPS, Selasa (3/12/2019) di Jakarta.

Hal ini terungkap dalam Seminar “Publikasi Data dan Informasi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2019” yang merupakan kerja sama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) dengan Badan Pusat Statistik (BPS), Selasa (3/12/2019), di Jakarta.

Selain membahas buku Profil Perempuan Indonesia 2019, seminar tersebut juga membahas tiga buku publikasi lain yakni Pembangunan Manusia Berbasis Gender, Profil Anak Indonesia 2019, serta Statistik Gender Tematik dengan tema Kajian Ketimpangan Kesempatan Anak terhadap Pelayanan Kebutuhan Dasar di Indonesia. Keempat buku publikasi tersebut disusun KPPPA dan BPS.

Seminar yang dibuka oleh Sekretaris KPPPA Pribudiarta Nur Sitepu dan Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Sri Soelistyowati tersebut mendengarkan paparan publikasi tentang empat buku tersebut dari tim BPS yakni Nur Sahrizal, Dendi Romadhon, Wisnu Winardi, dan Windhiarso Ponco Adi Putranto.

Nur Sahrizal saat memaparkan Profil Perempuan Indonesia (PPI) 2019, mengungkapkan dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, untuk rata-rata lama sekolah penduduk bersia 15 tahun ke atas, perempuan berumur 15 tahun ke atas rata-rata bersekolah hingga kelas 2 SMP. Kendati demikian, angka partisipasi murni perempuan pada jenjang perguruan tinggi lebih tinggi dari laki-laki.

Adapun kualitas kesehatan, keluhan kesehatan dan angka kesakitan perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Begitu juga dengan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki yakni perempuan (51,88 persen) dan laki-laki (82,69 persen).

KOMPAS/SONYA HELLEN SINOMBOR–KONDISI PEREMPUAN DALAM DUNIA KERJA (Sumber BPS berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional/Sakernas 2018)

Dari 17 lapangan pekerjaan utama, mayoritas perempuan bekerja pada tiga lapangan pekerjaan utama yakni pertanian, kehutanan, dan perikanan (26 persen), kemudian perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor (23,71 persen), dan industri pengolahan (16,46 persen). “Sekitar 6 dari 10 perempuan berusia 15 tahun ke atas bekerja di sektor informal. Rata-rata upah gaji bersih, sebulan pekerja laki-laki lebih tinggi dari perempuan,” kata Sahrizal.

Di bidang teknologi informasi, 7 dari 10 perempuan (70,49 persen) usia 5 tahun ke atas menggunakan telepon genggam. Namun, baru 2 dari 10 perempuan yang menggunakan komputer.

IMG_20191204_114930.jpgKOMPAS/SONYA HELLEN SINOMBOR–Para pembicara menyampaikan materi dalam Seminar “Publikasi Data dan Informasi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2019” Selasa (3/12/2019) di Jakarta. Seminar digelar atas kerjasama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Badan Pusat Statistik (BPS).

Sri Soelistyowati saat menjadi pembicara kunci, mengungkapkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) laki-laki memang masih lebih tinggi daripada perempuan. Meski demikian, tingkat kesenjangan antara perempuan dan laki-laki dari tahun 2010 hingga 2018, sudah semakin sempit. Hal itu terlihat dari peningkatan Indeks Pembangunan Gender dari 68,15 (2010) menjadi 72,10 (2018).

Harus dimulai dari perempuan
Menurut Sri, untuk mencapai kesetaraan jender dan memberdayakan perempuan, semua itu harus dimulai dari perempuan sendiri yang harus berkiprah. “Memang sempat ramai, kadang-kadang karena kuota di suatu lembaga sehingga agak terbatasi peran perempuan seperti di kepolisian, mohon maaf katanya ada kuota saya sendiri belum paham, tapi kita melihat belum ada kapolri maupun jaksa agung perempuan, itu mungkin bisa diperjuangkan KPPPA,” katanya.

Pribudiarta dalam sambutannya menyatakan bahwa pada tahun 2017 Indeks Pembangunan Gender (IPG) Indonesia berada di peringkat ke-9 dari 10 negara ASEAN, dan merupakan satu dari negara ASEAN yang berada di bawah nilai rata-rata dunia. Hal ini menunjukkan bahwa kesetaraan pembangunan perempuan dan laki-laki di Indonesia masih sangat jauh tertinggal dibanding negara ASEAN lainnya.

“Namun, meskipun lambat, pembangunan jender di Indonesia secara terus menerus sejak tahun 2010 mengalami peningkatan, pada tahun 2018, IPG Indonesia sebesar 90,99. Pembangunan perempuan tumbuh lebih cepat dibanding pembangunan laki-laki yang menyebabkan peningkatan nilai IPG,” katanya.

Kondisi IPG dipengaruhi oleh sejumlah faktor yakni perempuan lebih berumur panjang, tidak ada lagi perbedaan peluang sekolah antara perempuan dan laki-laki, namun lama sekolah perempuan masih perlu ditingkatkan, dan perekonomian masih didominasi laki-laki. Ketimpangan pembangunan gender masih terjadi antar wilayah, karena Kawasan Barat Indonesia lebih maju dibandingkan Kawasan Timur Indonesia.

“Sebenarnya di balik data dari empat buku publikasi tersebut ada keberhasilan dan ketidakberhasilan dari pembangunan dalam bidang PPPA. Selanjutnya itu menjadi bahan masukan untuk menyusun rencana pembangunan 2020-2024. Ini harus menjadi indikator,” katanya.

Karena itu dia, berharap dengan adanya empat buku publikasi tersebut dengan data dan informasi yang terpilah yang memuat kondisi perempuan dan anak saat ini, hal itu dapat dimanfaatkan dari tahap perencanaan, penganggaran, pelaksanaan sampai pada saat dilakukan evaluasi program dan kegiatan atau pengukuran capaian kinerja pembangunan.

Oleh SONYA HELLEN SINOMBOR

Editor YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 4 Desember 2019

Share
%d blogger menyukai ini: