Perdagangan Elektronik Naik

- Editor

Kamis, 3 Juli 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tren Pertumbuhan 100 Persen Per Bulan
Dengan pertumbuhan penetrasi internet yang tinggi dan cara transaksi yang semakin mudah, perdagangan elektronik terus berkembang. Perkembangan tersebut perlu didukung karena bermanfaat untuk menyediakan kesempatan berusaha.

Ketua Asosiasi E-Commerce Indonesia Daniel Tumiwa memperkirakan perdagangan elektronik di Indonesia pada akhir 2014 atau pertengahan 2015 akan mengalami titik balik, yakni saat perdagangan elektronik menjadi lebih massal meski porsinya masih kecil dibandingkan seluruh model perdagangan.

Menurut Daniel, hal tersebut terlihat dari perkembangan sejak tiga tahun lalu, termasuk kecenderungan konsumen perdagangan elektronik saat ini yang mulai memprioritaskan kepraktisan bertransaksi dibandingkan tinggi rendahnya harga barang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Pertumbuhan jumlah transaksi elektronik sudah sekitar 100 persen setiap bulan,” kata Daniel di Jakarta, ketika dihubungi pada Rabu (2/7).

Berdasarkan pengalaman dalam dunia perdagangan elektronik, Daniel mengatakan, nilai per transaksi terus meningkat. Dua tahun lalu, nilai transaksi rata-rata hanya Rp 150.000 per transaksi. Setahun kemudian, nilainya meningkat menjadi Rp 400.000-Rp 500.000 sekali transaksi. Tahun ini, Daniel memperkirakan nilai transaksi mencapai Rp 800.000 per transaksi.

Daniel menilai, perkembangan perdagangan elektronik perlu terus didorong karena berkontribusi mempercepat pemerataan manfaat ekonomi di Indonesia. Lewat perdagangan menggunakan media digital, seluruh pengusaha, baik bermodal besar maupun kecil, memiliki posisi yang sama. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak perlu membangun toko untuk menjual barang kepada konsumen.

Hal tersebut dibenarkan oleh salah satu pelaku UMKM, Yetti Desianti. Sejak setahun lalu, Yetti memasarkan pempek buatan kakaknya secara daring lewat laman pempekenak.com. Menurut Yetti, sebagai pengusaha kecil, cara berjualan secara daring lebih menguntungkan daripada membuka toko fisik.

”Saya bisa menjual pempek dengan harga terjangkau lewat cara daring. Jika membuka toko, saya harus membayar sewa gedung sehingga terpaksa menjual pempek lebih mahal,” ujar Yetti.

Yetti mengatakan, hampir semua konsumennya membayar dengan cara transfer melalui bank. Konsumen yang datang langsung dan membayar tunai hanya sekitar 10 persen, itu pun hanya yang sudah menjadi pelanggan tetap Yetti.

Yetti juga mengungkapkan, saat ini, omzetnya rata-rata Rp 1,5 juta per hari. Saat awal berbisnis, ia mengaku, omzetnya hanya sekitar Rp 500.000 per hari. (A03)

Sumber: Kompas, 3 Juli 2014

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 19 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB