Home / Berita / Perdagangan Elektronik Naik

Perdagangan Elektronik Naik

Tren Pertumbuhan 100 Persen Per Bulan
Dengan pertumbuhan penetrasi internet yang tinggi dan cara transaksi yang semakin mudah, perdagangan elektronik terus berkembang. Perkembangan tersebut perlu didukung karena bermanfaat untuk menyediakan kesempatan berusaha.

Ketua Asosiasi E-Commerce Indonesia Daniel Tumiwa memperkirakan perdagangan elektronik di Indonesia pada akhir 2014 atau pertengahan 2015 akan mengalami titik balik, yakni saat perdagangan elektronik menjadi lebih massal meski porsinya masih kecil dibandingkan seluruh model perdagangan.

Menurut Daniel, hal tersebut terlihat dari perkembangan sejak tiga tahun lalu, termasuk kecenderungan konsumen perdagangan elektronik saat ini yang mulai memprioritaskan kepraktisan bertransaksi dibandingkan tinggi rendahnya harga barang.

”Pertumbuhan jumlah transaksi elektronik sudah sekitar 100 persen setiap bulan,” kata Daniel di Jakarta, ketika dihubungi pada Rabu (2/7).

Berdasarkan pengalaman dalam dunia perdagangan elektronik, Daniel mengatakan, nilai per transaksi terus meningkat. Dua tahun lalu, nilai transaksi rata-rata hanya Rp 150.000 per transaksi. Setahun kemudian, nilainya meningkat menjadi Rp 400.000-Rp 500.000 sekali transaksi. Tahun ini, Daniel memperkirakan nilai transaksi mencapai Rp 800.000 per transaksi.

Daniel menilai, perkembangan perdagangan elektronik perlu terus didorong karena berkontribusi mempercepat pemerataan manfaat ekonomi di Indonesia. Lewat perdagangan menggunakan media digital, seluruh pengusaha, baik bermodal besar maupun kecil, memiliki posisi yang sama. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak perlu membangun toko untuk menjual barang kepada konsumen.

Hal tersebut dibenarkan oleh salah satu pelaku UMKM, Yetti Desianti. Sejak setahun lalu, Yetti memasarkan pempek buatan kakaknya secara daring lewat laman pempekenak.com. Menurut Yetti, sebagai pengusaha kecil, cara berjualan secara daring lebih menguntungkan daripada membuka toko fisik.

”Saya bisa menjual pempek dengan harga terjangkau lewat cara daring. Jika membuka toko, saya harus membayar sewa gedung sehingga terpaksa menjual pempek lebih mahal,” ujar Yetti.

Yetti mengatakan, hampir semua konsumennya membayar dengan cara transfer melalui bank. Konsumen yang datang langsung dan membayar tunai hanya sekitar 10 persen, itu pun hanya yang sudah menjadi pelanggan tetap Yetti.

Yetti juga mengungkapkan, saat ini, omzetnya rata-rata Rp 1,5 juta per hari. Saat awal berbisnis, ia mengaku, omzetnya hanya sekitar Rp 500.000 per hari. (A03)

Sumber: Kompas, 3 Juli 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: