Home / Berita / Penyelamatan Jembatan Cisomang Berlanjut

Penyelamatan Jembatan Cisomang Berlanjut

Jembatan Cisomang di ruas Jalan Tol Purbalenyi telah dibuka lagi untuk lalu lintas bus dan truk. Meski begitu, tahap penguatannya baru selesai September 2017. Pengawasan ketat beban kendaraan dan evaluasi daya tahan jembatan untuk jangka panjang terus dilakukan. Pembangunan jembatan baru menjadi pilihan.

Jembatan beton di ruas Jalan Tol Purwakarta-Bandung-Cileunyi ini terentang di atas Sungai Cisomang, ditopang oleh pilar-pilar beton. Ketinggian pilar berpenampang segi empat dengan panjang tiap sisi satu meter itu bervariasi. Pilar di bagian tengah menjulang hingga 40 meter, sedangkan pilar di segmen kanan dan kiri jembatan tingginya 10 meter.

Inspeksi rutin oleh petugas Jasa Marga pada November 2016 menemukan adanya pergeseran dan keretakan pada enam pilar. Deformasi itu terus berlanjut, mencapai 3 milimeter per hari. Pergeseran terlebar mencapai 57 sentimeter (cm) pada pilar kedua (P2) dan deformasi pilar nol (P0) 18 cm.

Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Arie Setiadi ketika itu menilai, pergeseran pada P2 sudah melebihi batas izin yang disyaratkan. Deformasi pada P2 tidak boleh melebihi 70 cm, sedangkan P0 maksimal 25 cm. Apabila pergeseran melampaui batas itu, jembatan itu harus ditutup.

Penutupan itu harus dicegah karena fungsinya sangat penting bagi kelancaran lalu lintas Jakarta-Bandung, yang per hari lebih dari 60.000 kendaraan. Maka jembatan ini harus terus berfungsi, walaupun dalam kondisi darurat, dan perbaikan dilakukan.

Pengalihan seluruh lalu lintas ke jalur lama tidak dimungkinkan karena kapasitasnya hanya 30 persen dibandingkan jalan tol. Selama beberapa bulan kendaraan berat atau 15 persen volume kendaraan di tol dialihkan ke jalan lama itu. Untuk melancarkan lagi roda perekonomian, perbaikan struktur utama dilakukan secara singkat, sekitar tiga bulan.

Reza Febriano, Vice President Maintenance PT Jasa Marga, mengatakan, selain bertujuan menghentikan pergerakan pilar, penanganan jembatan Cisomang juga untuk mengembalikan kekuatan struktur dan memastikan keamanannya dilalui semua golongan kendaraan.

Pergerakan tanah
Berdasarkan analisis kerusakan dan survei kondisi lingkungan, deformasi pilar terjadi karena tanah yang menjadi tumpuannya bergeser. Daerah ini dikenal sebagai “tanah berjalan”. Staf Ahli Bidang Mitigasi Gerakan Tanah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Sumaryono mengatakan, tanah di bawah jembatan itu memang rawan pergerakan. Pergerakan terjadi di lapisan batuan-disebut lempung serpih-di bawah dasar Sungai Cisomang.

Lapisan itu mengalami pelapukan akibat proses geologis sehingga menurun daya tahannya. Penurunan kekuatannya juga disebabkan oleh kondisi jenuh air akibat rembesan dari Sungai Cisomang di permukaan tanah.

Topografi setempat berupa bukit curam dan minim vegetasi juga menjadi faktor ancaman. Longsor beberapa kali terjadi di sekitarnya. Material longsoran di kawasan hulu dapat membentuk bendung alam hingga mengakibatkan banjir bandang. Banjir bandang yang terjadi di Sungai Cisomang menaikkan permukaan air sungai hingga dua meter hingga merendam fondasi tiang pancang (pile cap).

Dasar pilar yang bergeser mengakibatkan keretakan dinding pilar. Ini terjadi karena struktur pilar tertarik mengikuti arah pergerakan tanah. “Pilar yang terbuat dari beton merupakan material getas atau tidak elastis. Pilar beton itu dirancang hanya untuk menahan gaya tekan vertikal jembatan yang ditopangnya,” kata Hedi Rahadian, Direktur Jembatan Bina Marga.

Ketika beton retak, kekuatannya jauh berkurang. Maka yang diandalkan untuk menumpu jembatan berbobot puluhan ribu ton itu hanyalah rangka baja di dalamnya. Keretakan diperparah oleh kelebihan beban kendaraan yang melintasi jembatan.

Survei yang dilakukan di Tol Purbalenyi menunjukkan, bobot truk yang melewatinya ada yang mencapai 65 ton, padahal batas maksimum yang dipersyaratkan 40 ton. “Jika pengoperasiannya sesuai ketentuan, sebenarnya jembatan dapat tahan hingga 50 tahun lebih,” kata Hedi.

Ada beberapa perbaikan pada enam pilar di jembatan itu. Pengerjaannya, kata Reza, meliputi penambalan dinding pilar yang retak, pemasangan rangka baja untuk mengikat antarpilar, pengurangan material tanah di lereng, pemasangan rangka selubung dan jangkar serta tiang pancang untuk menguatkan pilar.

Tanah di lereng sungai di bawah jembatan dikeruk hingga 10.000 ton untuk membentuk kontur undakan. “Ini dapat mengurangi gaya dorong lereng terhadap pilar,” kata Hedi.

Antara dua pilar, di dasar pilar, juga dipasang struktur kerangka baja. Fungsinya sebagai penahan atau pengikat pilar-pilar miring itu terhadap gaya geser. Adapun di fondasi pilar dipasang tiang pancang yang dibor sampai ke lapisan batuan keras di kedalaman 60 meter dari permukaan tanah. Struktur ini akan meneruskan beban jembatan ke lapisan batuan keras itu.

Guna memperkuat pilar, juga dipasang sistem jangkar hingga kedalaman 60 meter untuk meningkatkan stabilitasnya. “Kombinasi keduanya dapat meningkatkan resistensi fondasi terhadap gerakan tanah,” ujar Hedi.

Setelah itu, dilaksanakan penguatan struktur atas, drainase sungai, dan perkuatan stabilitas lereng. Tujuannya memperkecil longsor dan banjir yang mengancam fondasi.

Kendaraan golongan dua yang terdiri truk dan bus melintasi jalan arteri di dekat Jembatan Cisomang jalan Tol Pubaleunyi KM 100 yang mengalami pergeseran di Purwakarta, Kamis (29/12). Perbaikan jembatan Cisomang yang berjalan hampir seminggu itu hanya dapat dilalui kendaraan golongan satu, sedangkan golongan dua ke atas dialihkan ke jalan arteri. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/foc/16.

Selain Jembatan Cisomang, pemeriksaan rutin diperlukan untuk semua jembatan di Jalan Tol Cipularang. Di jalan tol sepanjang 58,5 km itu juga ada jembatan Ciujung, Cikubang, Cipada, dan Cimeta yang panjangnya berkisar 400 km-720 km.

Pascaperbaikan, kata General Manager Jasa Marga Cabang Purbaleunyi Setia Budi, bobot kendaraan yang melewati jembatan harus dibatasi. Untuk Golongan 2-4, beban maksimal 10 ton setiap sumbu, golongan 5 maksimal 45 ton per unit.

Pemantauan bobot kendaraan menggunakan alat Weigh in Motion, yang terdiri dari sensor yang dipasang di badan jalan. Fungsinya mendeteksi berat poros dan berat total kendaraan ketika melintas alat tersebut.

Jembatan baru
Seusai perbaikan Jembatan Cisomang, akan dilakukan evaluasi menyeluruh kekuatan jembatan terhadap pembebanan jangka panjang termasuk ketahanannya terhadap gempa besar. Kalau jembatan yang berumur 12 tahun itu tidak lagi memenuhi standar keamanan, perlu dibuat jembatan baru.

Survei mendalam diperlukan untuk menemukan lokasi aman dan merancang konstruksi yang sesuai dengan kondisi setempat. Penelitian telah dilakukan dengan mengebor sedalam 70 meter untuk mengetahui sifat setiap lapisan batuan.

Apabila nanti dibangun jembatan baru, menurut Hedi, dipilih jenis jembatan tanpa pilar. Untuk Jembatan Cisomang yang tergolong rentang pendek (250 meter), dapat diterapkan jembatan jenis kantilever atau busur. Pembangunannya akan memakan waktu sekitar 2 tahun.–YUNI IKAWATI
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 Mei 2017, di halaman 14 dengan judul “Penyelamatan Jembatan Cisomang Berlanjut”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: