Home / Berita / Perbaikan Jembatan Cisomang Tahap Dua Fokus pada Keselamatan Stabilitas

Perbaikan Jembatan Cisomang Tahap Dua Fokus pada Keselamatan Stabilitas

Perbaikan Jembatan Cisomang tahap kedua difokuskan pada peningkatan faktor keselamatan stabilitas. Hal itu dilakukan melalui penambahan jangkar tanah untuk menahan beban lateral dan fondasi berbentuk tabung (bored pile).

Fondasi itu untuk meneruskan beban struktur bangunan di atasnya dari permukaan tanah sampai lapisan tanah keras di bawahnya. “Fungsinya sama dengan fondasi tiang pancang,” kata Direktur Jembatan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Hedi Rahadian, Minggu (2/4), di Jakarta.

Selain itu, pihaknya memperkuat struktur atas dan menangani badan sungai serta sistem drainasenya. Hal itu bertujuan meminimalkan longsor dan banjir bagi fondasi pilar.

Jembatan Cisomang resmi dibuka kembali untuk semua golongan kendaraan pada Sabtu (1/4). Akses jembatan di Jalan Tol Purbaleunyi Km 100+700 itu dibuka setelah perbaikan tahap pertama selesai. Perbaikan tahap kedua dikerjakan secara simultan sehingga perbaikan ditargetkan selesai September 2017.

Sistem inspeksi
General Manager Jasa Marga Cabang Purbaleunyi Setia Budi menambahkan, meski truk telah bisa melintasi jembatan itu, tetap akan ada larangan bagi kendaraan yang kelebihan beban melewati jembatan. Sebab, struktur pilar penyangga tidak lagi punya kekuatan penuh setelah retak dan bergeser.

Sejauh ini, perbaikan berupa penutupan bagian retak dan penguatan fondasi. Itu bertujuan menahan laju keretakan dan pergeseran akibat gerakan tanah.

Batas beban kendaraan boleh melintasi jembatan adalah Golongan 2-4 beban maksimal 10 ton tiap sumbu. Golongan 5 dengan berat maksimal 45 ton per kendaraan. Pemantauan kendaraan bermuatan berlebih bisa secara visual. “Kendaraan kelebihan muatan tak bisa melaju dengan kecepatan minimum yang disyaratkan,” ujarnya.

Meski demikian, Jasa Marga dan kepolisian menyiapkan skenario sistem penapisan atau pemeriksaan elektronik kendaraan bermuatan lebih, yakni yang melintasi ruas Cipularang dari arah Bandung (Km 120) ataupun arah Jakarta (Km 83). Pemantauan itu memakai alat Weigh in Motion (WIM), bekerja sama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan.

Sistem itu terdiri dari sensor-sensor dipasang di badan jalan. Sensor mendeteksi berat poros kendaraan dan bobot kendaraan saat melintasi alat itu. Sensor utama berupa kristal kuarts di WIM mengukur gaya vertikal kendaraan. (YUN)
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 3 April 2017, di halaman 14 dengan judul “Perbaikan Tahap Dua Fokus pada Keselamatan Stabilitas”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: