pengukuhan guru besar; Kendalikan Kerusakan Ekosistem Pesisir

- Editor

Sabtu, 27 September 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kombinasi proses alam dan ulah manusia mengancam lingkungan kawasan pesisir dan pantai. Pemanfaatan lahan pesisir bagi kegiatan ekonomi umumnya juga mengabaikan aspek pelestarian.

Hal itu disampaikan Chatarina Muryani pada pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Geografi Lingkungan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret, di Solo, Jawa Tengah, Kamis (25/9).

”Kegiatan industri dan perkembangan real estat umumnya memicu kerusakan lingkungan secara signifikan karena diawali pembersihan lahan yang mengganggu ekosistem dan adanya pengurukan, bahkan reklamasi lahan pesisir,” katanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pengembangan pariwisata beserta infrastruktur penunjangnya, seperti bangunan dan jalan, serta pengambilan air tanah juga merusak lingkungan berupa pencemaran air, penumpukan sampah, dan intrusi air laut.

Di sisi lain, pembalakan hutan mangrove untuk diambil kayunya ataupun pemanfaatan lahan menjadi tambak dan kepentingan lain turut merusak fungsi lindung hutan mangrove. Pada 2012, dari 3,1 juta hektar hutan mangrove, seluas 1,8 juta di antaranya rusak.

”Kerusakan lingkungan pantai dan pesisir berdampak pada berbagai bidang, antara lain erosi pantai (abrasi), sedimentasi, pencemaran perairan pesisir, rob, intrusi air laut, penurunan tanah, dan perubahan garis pantai,” katanya.

Chatarina memaparkan, reklamasi pantai di sejumlah daerah mengakibatkan kerusakan ekosistem pesisir, seperti hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Kerusakan ekosistem itu akibat penimbunan, pengeringan, dan pencemaran air. Akibatnya adalah ketidakseimbangan lingkungan dan pembelokan arus laut.

Dicontohkan Chatarina, reklamasi Pantai Marina di Semarang yang membelokkan arus ke arah Pantai Sayung, Demak. Akibatnya, pantai di daerah Sayung mundur 1 kilometer lebih. ”Tiga dusun direlokasi,” tuturnya.

Demi mengendalikan masalah di wilayah pesisir, perlu pengelolaan pesisir terpadu, pengelolaan pesisir berbasis masyarakat, dan pengelolaan pesisir berbasis ekosistem. Pengelolaan pesisir berbasis ekosistem fokus pada kegiatan manusia yang berdampak terhadap lingkungan laut dan pesisir. ”Pengelolaan pesisir berbasis ekosistem paling tepat karena pesisir di Indonesia memiliki kekayaan ekosistem. Namun, terjadi berbagai konflik pemanfaatan dan kerusakan lingkungan pesisir,” katanya.

Kamis lalu, Universitas Sebelas Maret mengukuhkan dua guru besar baru. Selain Chatarina Muryani juga Hartono, Guru Besar Fakultas Kedokteran UNS.

”Kini, UNS memiliki 162 guru besar,” kata Bahtiar dari bagian Humas UNS. (RWN)

Sumber: Kompas, 27 September 2014

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Berita ini 16 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:12 WIB

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB