Kondisi Mangrove Dinyatakan Bahaya

- Editor

Kamis, 29 Maret 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tutupan ekosistem mangrove saat ini hanya tersisa 52 persen. Sebagian besar hutan mangrove hilang karena perubahan fungsi menjadi tambak, permukiman, dan perkebunan. Hal ini akan menghilangkan fungsi utama ekosistem lahan basah di pesisir sebagai penjaga abrasi dan segudang fungsi ekologis.

Apabila fungsi utama ini hilang, sejumlah bencana, seperti abrasi dan intrusi air laut, bakal menjadi permasalahan selanjutnya. Apabila hal itu terjadi di pulau-pulau terdepan, akan berpotensi mengubah garis batas teritori perairan Indonesia.

”Mangrove yang tinggal 52 persen ini, menurut saya, sudah red-zone alias bahaya. Harus ada terobosan untuk beralih ke konservasi (perlindungan),” kata Agung Kuswandono, Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Kemaritiman, Selasa (27/3/2018) di Jakarta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Pakar dari kampus dan kementerian memaparkan presentasi dalam Lokakarya Nasional Strategi Pencegahan dan Penanggulangan Penurunan Muka Tanah di Lahan Basah Pesisir, Selasa (27/3/2018) di Jakarta.

Ia hadir dalam Lokakarya Nasional Strategi Pencegahan dan Penanggulangan Penurunan Muka Tanah di Lahan Basah Pesisir yang diselenggarakan kementeriannya bersama Wetlands International. Pertemuan ini dihadiri akademisi dan kelompok masyarakat sipil yang bekerja di pesisir ataupun isu air.

Agung pun mendorong agar sudah saatnya industri kehutanan tidak lagi mengeksploitasi kayu dari hutan mangrove.

KOMPAS/DANU KUSWORO–Salah satu bagian Suaka Margasatwa Baun, Kepulauan Aru, berupa hutan bakau (mangrove), yang menjadi tempat berkumpul dan minum, bagi kawanan burung, Minggu, (4/3/2018). Kondisi sebagian hutan bakau tampak merana.

Di Papua Barat, terdapat satu perusahaan kehutanan yang mendapatkan izin menebang hutan alam untuk pembuatan cip (kepingan kayu untuk bahan bakar).

”Harus diakui kalor dari kayu mangrove itu tinggi, arangnya bagus. Tapi tingkat pengambilan dan hasilnya harus dipertimbangkan. Menanam itu lebih berat daripada menebang,” katanya.

Ia mengatakan, konservasi pesisir melalui penyelamatan mangrove telah dikerjakan oleh banyak kementerian/lembaga serta kelompok masyarakat sipil. Namun, ini masih bersifat sporadis.

Seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan yang menggunakan rekayasa penyelamatan pesisir di Demak, Jawa Tengah, dengan memunculkan kembali sedimen-sedimen yang muncul ke permukaan. Lahan ini kemudian ditanami dengan mangrove.

KOMPAS/KARINA ISNA IRAWAN–Ketua kelompok peduli lingkungan Cinta Alam Mangrove Asri dan Rimbun (CAMAR), Juraimi, mengecek perkembangan 2.113 mangrove di Desa Tambakrejo, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (22/1/2018). Mangrove tersebut ditanam Sahabat Alat Lindungi Hutan. Setiap proses tumbuh kembang mangrove dapat dipantau melalui aplikasi khusus.

Hendra Yusran Sirry dari Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil KKP memberi contoh lain, seperti pemasangan sabuk pantai sepanjang 3,3 kilometer di Karawang, Jawa Barat.

Sabuk pantai tersebut diharapkan dapat menjebak sedimen dan membentuk lahan 3.000 ha. Area ini sebelumnya berupa mangrove yang dikonversi menjadi tambak dan menghilang karena abrasi.

”Setelah lahan terbentuk, kami ingin agar segera disertifikasi atas nama pemerintah kabupaten untuk menjadi sabuk hijau (ditanami mangrove),” katanya.–ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 27 Maret 2018

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Berita ini 29 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB