Home / Berita / Penggunaan Hasil Riset Rendah

Penggunaan Hasil Riset Rendah

Pemanfaatan hasil riset di perguruan tinggi dan lembaga penelitian masih sangat rendah. Baru sekitar 10 persen hasil riset yang bisa dikomersialkan.


Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mengatakan, potensi riset dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian harus bisa bermanfaat untuk masyarakat. Untuk itu, kendala-kendala dalam mengaplikasikan dan mengomersialkan hasil riset ke dunia usaha harus diatasi. Hal itu diungkapkan Nasir dalam acara Temu Bisnis dan Pameran Inovasi yang digelar Universitas Indonesia (UI) di Jakarta, Senin (1/12).

Adakan pertemuan
Nasir mengatakan, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi akan memfasilitasi pertemuan peneliti dengan dunia usaha. Kesempatan itu juga dipakai untuk memamerkan 721 hasil penelitian dalam kurun 2008-2014 yang berpotensi untuk dimanfaatkan dunia usaha.

Pejabat Rektor UI Bambang Wibawarta menyampaikan, UI mencoba mempertemukan peneliti, dunia usaha, dan pemerintah daerah. Pertemuan itu untuk memperkenalkan hasil riset UI yang sudah mendapat hak paten dan berpotensi untuk diproduksi. UI yang memiliki 50.000 mahasiswa dan 3.500 dosen berpotensi menghasilkan riset yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

”Perlu upaya sistematis, terarah, payung hukum, atau kebijakan untuk mempercepat dan meningkatkan pemanfaatan riset di perguruan tinggi,” kata Bambang.

Mengacu data Indeks Kompetitif Global, indikator inovasi di Indonesia meningkat. Namun, indikator kesiapan teknologi sangat rendah. ”Artinya, banyak riset yang dilakukan, tetapi belum dimanfaatkan,” ujar Bambang.

Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (Kabinet Indonesia Bersatu II) Dahlan Iskan mengatakan, banyak penelitian yang mirip di sejumlah perguruan tinggi. Oleh karena itu, kolaborasi juga dapat dilakukan di antara perguruan tinggi. Selain itu, perguruan tinggi juga mesti membuka diri untuk menerima masukan dari dunia usaha mengenai penelitian yang dibutuhkan dan berskala komersial.

Direktur Utama Jasa Raharja Budi Setyarso mewakili dunia usaha mencontohkan, perusahaan yang dipimpinnya membutuhkan penelitian terkait upaya menurunkan kecelakaan lalu lintas sebagai pencegahan. Untuk itu, kerja sama dengan perguruan tinggi yang dapat membantu kebutuhan itu mulai dijalin. (ELN)

Sumber: Kompas, 2 Desember 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: