Home / Berita / Pengelolaan Sumber daya Air; Rehabilitasi Hulu, Redam Banjir

Pengelolaan Sumber daya Air; Rehabilitasi Hulu, Redam Banjir

BANJIR, bahkan banjir bandang di hilir sungai terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Bencana ini dampak dari lingkungan hulu yang terabaikan. Penataan kawasan hilir tak akan meredam bencana itu apabila pangkal masalah tak dibenahi. Karena itu, rehabilitasi pengelolaan hulu menjadi keharusan.

Kawasan daerah aliran sungai di Indonesia umumnya merupakan daerah subur karena mendapat pasokan air cukup dari hulu. Sebagai penampung air alami, hutan di hulu menuai hujan kemudian mengalirkan ke tanah lewat perakaran hingga tersalur ke mata air lalu ke sungai sampai ke muara.

Namun, keseimbangan sistem hidrologi ini terganggu dengan meluasnya kawasan permukiman di perbukitan. Sebaliknya, menciutkan luasan hutan di hulu daerah aliran sungai (DAS). Berkurangnya areal vegetasi menjadi daerah terbuka tentu akan mengurangi daya serap air hujan oleh lingkungan DAS.

6183317hMaka, ketika hujan, air hujan mengikis permukaan tanah terbuka dan langsung meluncur ke dataran rendah. Air hujan yang membawa material tererosi ini akan mengendap dan menyebabkan pendangkalan sungai hingga melimpas, dan mengakibatkan banjir.

Kondisi DAS di Indonesia umumnya telah rusak karena konversi kawasan hutan menjadi perkebunan dan permukiman. Beberapa waktu lalu Hasil Sembiring dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pertanian Kementerian Pertanian menuturkan, sekitar setengah jumlah DAS di Indonesia, yakni 282 dari 458 DAS, dalam kondisi kritis. Sebanyak 60 DAS di antaranya kritis berat. Kekritisan, antara lain, dilihat dari tingkat kelerengan, cakupan vegetasi dan erosinya.

Erosi terjadi di lereng yang bertanah lapuk. Penggerusan tanah ini tergolong tinggi karena curah hujan di sebagian besar, hampir 60 persen, zona musim Indonesia umumnya tinggi, yaitu 2.000-3.500 mm per tahun.

Tingkat erosi di DAS yang rusak di Indonesia semakin tinggi, mencapai 423,6 ton per hektar per tahun. Ini yang menimbulkan kekritisan lahan di DAS. Kerugian akibat erosi DAS di Jawa saja mencapai 406 juta dollar AS, sekitar Rp 4 triliun per tahun.

Selain kerusakan di kawasan hulu, erosi dan terjangan air banjir menimbulkan kerugian harta benda, bahkan korban jiwa di kawasan hilir. Di Jakarta, kerugian akibat banjir awal tahun 2013, menurut Gubernur DKI Joko Widodo, mencapai Rp 20 triliun.

Banjir bandang
Awal tahun ini banjir kembali melanda Jakarta walau tidak separah tahun lalu. Terjangannya pun tak sehebat yang terjadi di Sulawesi Utara dan Sumatera Barat beberapa hari lalu.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho, Jumat (17/1), menjelaskan, terjadinya banjir bandang disebabkan curah hujan tinggi dan berdurasi lama di wilayah yang luas. Faktor penyebab lain adalah terbentuknya bendung alam akibat longsor di kawasan perbukitan.

Material longsoran berupa tanah dan pepohonan yang roboh membendung sungai di hulu. Bendung ini kemudian jebol karena tak mampu menahan tingginya volume air hujan yang turun. Bendung alam ini bukan hanya disebabkan ulah manusia, melainkan juga akibat gempa dan gerakan tanah. Kasus ini pernah terjadi di Bohorok, Sumatera Utara; Way Ela, Lampung; dan Jember, Jawa Timur.

Kasus longsor di Sulawesi Utara diikuti banjir bandang terjadi di 11 kabupaten/kota, termasuk Kota Manado. Adapun banjir bandang di Sumatera Barat melanda Kabupaten Pesisir Selatan, Pasaman, Solok, Tanah Datar, dan Kota Padang.

Langkah antisipasi
Dengan mengetahui fenomena terbentuknya bendung alam, kata Sutopo, perlu ditemukan lokasi bendung alam yang terbentuk di hulu sebelum memasuki masa puncak hujan untuk mengantisipasi banjir bandang.

”Ini bisa dilakukan dengan melakukan susur sungai atau melalui survei udara,” katanya.

Pencarian potensi bendung alam dapat dilakukan dengan menyisir sungai, mengerahkan relawan, pencinta alam, TNI, Polri, atau masyarakat. Mereka kemudian membongkar bendung alam apabila menemukan. Dengan demikian, tidak terjadi banjir bandang yang membawa material bendung alam berupa tanah dan pepohonan roboh.

Untuk meredam erosi dapat dilakukan penutupan tanah terbuka dengan plastik berlubang agar air hujan tidak menggerus tanah. Untuk penutup alami digunakan rumput, semak, atau perdu yang pertumbuhannya cepat.

Untuk mengurangi tekanan air di lapisan tanah di lereng dilakukan upaya mekanik, yaitu membuat saluran drainase.

Selain itu, untuk mencegah longsor dapat dibangun dinding tembok penahan material longsor, bangunan penguat tebing, dan trap/undakan terasering.

Serangkaian perbaikan DAS di kawasan hilir dilakukan dengan melakukan pengerukan dasar sungai dan pelebaran. Upaya ini dilakukan untuk mengembalikan atau meningkatkan kapasitas badan sungai untuk menampung aliran air dari hulu dalam jumlah besar.

Inspeksi tanggul juga perlu dilakukan secara rutin untuk mengetahui secara dini kerusakan tanggul sehingga dapat cepat diperbaiki dan mencegah jebol dengan melakukan perkuatan dinding tanggul. Rembesan di badan tanggul dapat menjadi indikasi ancaman tanggul jebol.

Masyarakat di sekitar tanggul dan DAS perlu diberikan penyuluhan untuk membantu memantau kondisi hulu dan tanggul. Penyadaran masyarakat sepanjang DAS diperlukan untuk membangun pola hidup bersih dan ramah lingkungan.

Oleh: YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas, 21 Januari 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: