Home / Berita / Anomali Hujan dan Kondisi Lahan pada Banjir Bandang di Luwu Utara

Anomali Hujan dan Kondisi Lahan pada Banjir Bandang di Luwu Utara

Anomali cuaca dan kondisi morfologi setempat memicu banjir bandang di Luwu Utara yang menewaskan 36 orang. Ada pula dugaan keterkaitannya dengan konversi kawasan lindung yang mengganggu fungsi hidrologi ekosistem.

Anomali cuaca yang memicu hujan lebat secara persisten diduga menjadi penyebab terjadinya banjir bandang yang menewaskan 36 orang di Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Senin (13/7/2020). Selain itu, kemiringan lereng di hulu dan pembukaan lahan di sekitar daerah aliran sungai diduga berkontribusi memicu bencana.

”Banjir ini didahului oleh hujan yang turun secara persisten sehari sebelumnya pada Senin (12/7/2020) sejak siang hari hingga Selasa (13/7/2020) paginya. Hujan lebat bahkan turun pada Selasa dini hari. Selanjutnya hujan dengan intensitas sedang kembali turun pada siang hingga sore hari,” kata Erma Yulihastin, peneliti klimatologi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), di Jakarta, Sabtu (18/7/2020).

Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Fachri Radjab mengatakan, hujan merata terjadi di sekitar kawasan ini. Pada 13 Juli intensitas hujan di Stasiun Meteorologi Masamba mencapai 34,2 mm per hari, Pos Hujan Malangke Bara 37 mm per hari, Pos Hujan Towuti 31 mm per hari, dan Pos Hujan Malili 18 mm per hari.

—Analisis kondisi cuaca oleh Lapan sebagai salah satu penyebab banjir bandang yang melanda Luwu Utara pada 13 Juli 2020.

Berdasarkan data cuaca Satellite-Based Disaster Early Warning System (Sadewa)- Lapan, hujan yang turun secara persisten itu terkonsentrasi di sekitar Teluk Bone. ”Bentuk garis pantai yang cekung turut berperan mengonsentrasikan hujan diurnal di sekitar Teluk Bone (Luwu),” kata Erma.

Menurut kajian Erma bersama koleganya di Lapan, Wendi Harjupa dan Eddy Hermawan, penguatan monsun timuran yang membawa awan hujan terjadi karena menghangatnya suhu permukaan laut di Teluk Bone dan pembentukan sirkulasi tekanan rendah di Selat Makasar.

”Hujan persisten selama musim kemarau di Sulawesi Selatan tersebut, yang seharusnya mengalami puncak hujan pada bulan April dan Desember, menunjukkan kondisi anomali musim yang disebut dengan kemarau basah,” katanya.

Ema menyebutkan, kemarau basah pada tahun ini dipicu tiga faktor utama. Pertama, fenomena daerah pertemuan massa udara antartropis atau yang dikenal intertropical convergence zone (ITCZ) ganda yang sering terbentuk sejak bulan Mei hingga Juli.

Kedua, aktivitas gelombang atmosfer yang menjalar dari utara ke selatan yang berkaitan dengan aktivitas musim panas bernama Boreal Summer Intra-seasonal Oscillation (BSISO) di Samudra Hindia pada 12-13 Juli yang memengaruhi pembentukan konvergensi luas yang memanjang dari Samudra Hindia hingga wilayah Sulawesi. Ketiga, pemanasan suhu permukaan laut di perairan lokal Indonesia yang terkonsentrasi di Laut Maluku, Arafuru, dan Teluk Bone.

Agar waspada
Berdasarkan prediksi musim Kamajaya (Kajian Awal Musim Wilayah Indonesia Jangka Madya)-Lapan, Sulawesi masih harus waspada terhadap potensi hujan ekstrem hingga pertengahan Juli. ”Pada Agustus wilayah Sulawesi akan lebih kering tetapi kembali basah yang berpotensi ekstrem pada bulan September 2020,” katanya.

Selain faktor cuaca, menurut analisis Badan Informasi Geospasial (BIG), kondisi kontur di daerah hulu yang memiliki kemiringan terjal. Kepala Bidang Pemetaan Kebencanaan dan Perubahan Iklim Badan Informasi Geospasial (BIG) Ferari Pinem mengatakan, kemiringan lereng yang curam di hulu menjadi salah satu faktor penyebab banjir bandang pada dataran aluvial di daerah Masamba, Sabbang, dan Baebunta.

”Walaupun jarak yang cukup jauh dari hulu sampai ke dataran aluvial, morfometri sungai yang terjal di hulu bisa mengalirkan material sedimen, serta ditambah akumulasi aliran dan sedimen pada pertemuan cabang sungai,” kata dia.

Menurut Pinem, pada kasus banjir bandang di Masamba dan sekitarnya, akumulasi material sedimen terbawa dari hulu di utara akibat tingginya curah hujan yang terjadi beberapa hari terakhir. Pertemuan cabang sungai pada perbatasan dengan dataran aluvial menyebabkan material sedimen yang terbawa meluap sehingga memicu banjir bandang. Kasus serupa juga terjadi di Kecamatan Sabang hingga Baebunta.

—-Peta pembukaan lahan di sekitar aliran sungai di area banjir bandang di Luwu Utara. Sumber: BIG

Selain itu, tambah Pinem, berdasarkan pengamatan citra satelit resolusi tinggi (CSRT) ditemukan wilayah sepanjang sungai banyak telah mengalami pembukaan lahan untuk permukiman dan lahan pertanian atau perkebunan. Ini tentunya akan mengurangi daya dukung lahan dalam menahan laju air yang jatuh di atasnya.

”Seberapa besar pengaruh penggunaan lahan ini terhadap kejadian banjir bandang dan longsor perlu dikaji lebih jauh,” katanya.

Kemampuan lahan untuk menyerap air akibat ketidaksesuaian penggunaan lahan pada daerah hulu akan berimbas terhadap terjadinya banjir bandang. Oleha karena itu, rehabilitasi lahan dan hutan pada daerah hulu perlu menjadi prioritas guna mengurangi risiko bencana di kemudian hari.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 18 Juli 2020

Share
x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: