Home / Berita / Pendidikan Tinggi Swedia; Kesetaraan dan Keterbukaan yang Mendorong Lahirnya Inovasi

Pendidikan Tinggi Swedia; Kesetaraan dan Keterbukaan yang Mendorong Lahirnya Inovasi

Dalam era ekonomi kreatif, inovasi adalah kunci. Inovasi adalah pendorong bagi kegiatan ekonomi yang tak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga menjamin keberlanjutan. Karena itu, inovasi harus terus-menerus dilakukan secara komprehensif, termasuk membangun sistem dan budaya inovasi sejak dini.

Upaya itulah yang dilakukan Pemerintah Kerajaan Swedia, setidaknya seperti yang terlihat dalam sistem pendidikan tingginya. Mereka memperlakukan mahasiswanya sebagai mitra setara dengan profesornya. Profesor bukanlah sumber kebenaran mutlak, melainkan rekan untuk berbagi ilmu dan pendorong kreativitas mahasiswa.

“Di Swedia, kita bisa memanggil profesor cukup dengan nama panggilannnya, tidak perlu menyebut nama belakangnya, apalagi dengan gelar profesornya,” kata Raka Prasetya, mahasiswa program magister Manajemen Teknologi Informasi di Universitas Umeå, Oktober 2015. Umeå adalah kota pendidikan di utara Swedia yang berjarak 400 kilometer sebelah selatan garis lingkar Kutub Utara.

Kesederajatan antara mahasiswa dan dosen itu juga diakui Satu Cahaya Langit, mahasiswa magister Ilmu Komputer di KTH-Royal Institute of Technology, Stockholm. “Jangan kaget jika ada dosen menawarkan mengambilkan kopi saat waktu fika datang,” katanya. Fika adalah budaya Swedia untuk menyebut rehat kopi di antara waktu kerja atau jam kuliah.

Namun, kesetaraan itu justru tidak membuat mahasiswa meremehkan atau tidak menghargai dosen mereka. Kesetaraan itu justru memancing keterbukaan serta rasa ingin tahu antara dosen dan mahasiswa.

“Para dosen dan profesor selalu menekankan, ‘tidak ada pertanyaan bodoh’. Kondisi itu membuat mahasiswa tidak takut bertanya atau mengutarakan pendapatnya yang bisa saja berbeda dengan pandangan dosen,” ucap Roy Thaniago, mahasiswa magister Studi Media dan Komunikasi di Universitas Lund, selatan Swedia.

Suasana yang mendukung itu sangat memacu siswa untuk terus meningkatkan ilmunya. Seperti yang dialami Roy, ia harus membaca sejumlah buku setiap minggu agar bisa aktif dalam diskusi di kelas. Usaha yang menuntut disiplin diri itu memang melelahkan, tetapi hasil yang diperoleh bakal sepadan.

ac121efdaa1d4933a3d81e330eab29c9KOMPAS/M ZAID WAHYUDI–Sejumlah mahasiswa tekun mengerjakan tugas dan berdiskusi di dalam aula Sekolah Ekonomi Stockholm, Swedia, akhir 2015. Diskusi yang intensif, setara, dan terbuka di antara warga kampus akan memunculkan pertukaran pengetahuan dan ide serta berpotensi melahirkan inovasi.

Kondisi itu membuat diskusi di kelas menjadi dinamis. Terlebih lagi, latar belakang mahasiswa di berbagai perguruan tinggi Swedia sangat beragam. Di berbagai perguruan tinggi terkemuka di negara itu, jumlah mahasiswa asing sangat besar. Mereka bukan hanya berasal dari negara-negara Uni Eropa, melainkan juga dari Asia, Amerika Latin, dan Afrika.

Keterbukaan itu salah satunya ditunjukkan oleh Ketua Sekolah Ekonomi Stockholm (SSE) Lars Strannegård. Di tengah kesibukannya memimpin SSE dan melakukan risetnya di bidang organisasi, ia sangat membuka diri kepada mahasiswa SSE yang ingin berbincang secara langsung atau bertanya melalui surat elektronik tentang apa pun hingga menyangkut persoalan pribadi yang dihadapi mahasiswa.

“Pengetahuan nyata datang dari mediasi fisik. Karena itu, kuantitas dan kualitas interaksi langsung antara mahasiswa dan profesor maupun antarmahasiswa sangat penting,” katanya.

Interaksi antarpribadi, pikiran, dan kebudayaan itu akan membuat semua orang yang terlibat mendapat informasi yang memadai hingga bisa mengambil keputusan berdasarkan nilai- nilai yang ada. Hubungan itu juga akan memunculkan ide-ide cemerlang dan mendorong seseorang lebih kreatif hingga mampu menghasilkan inovasi.

Kesetaraan itu bukan hanya berlaku dalam hubungan antara mahasiswa dan dosen semata, melainkan juga bagi dosen yang ingin menempuh karier akademik di Swedia. Siapa pun dosen, apa pun kewarganegaraannya, dan dari pendidikan negara mana saja, bisa menjadi profesor di sana.

Suparna Sanyal adalah salah satu profesor yang merasakan manfaat keterbukaan sistem akademik di negeri itu. Ia menyelesaikan pendidikan doktoralnya di India. Kini, ia menjadi profesor bidang biologi molekuler di Universitas Uppsala dan memimpin kelompok riset yang beranggotakan sejumlah mahasiswa program magister, doktoral, ataupun pasca doktoral dari sejumlah negara.

“Infrastruktur riset di Swedia sangat baik. Budaya risetnya pun sangat kuat,” katanya.

Beberapa orang Indonesia pun bisa menjadi profesor di sejumlah universitas di Swedia, seperti Nawi Ng yang menjadi profesor epidemiologi dan kesehatan global di Universitas Umeå dan Yudi Pawitan yang menjadi profesor biostatistika di Institut Karolinska, Stockholm. Keduanya menempuh pendidikan sarjana di Indonesia.

Di luar kehidupan akademis, kesetaraan dan keterbukaan itu juga ada dalam masyarakat Swedia. “Masyarakat di sini tidak terlalu memusingkan urusan atau kehidupan pribadi orang lain, termasuk dalam soal agama. Meski demikian, mereka tetap saling menghormati dan suka membantu orang yang membutuhkan,” ujar Arlisa Febriani, mahasiswi program magister Teknik Sumber Daya Air, Universitas Lund.

Industri
Selain proses pendidikan yang menjunjung tinggi kesetaraan dan keterbukaan di antara sivitas akademika, perguruan tinggi di Swedia umumnya memiliki lembaga inkubator bisnis yang bisa dimanfaatkan mahasiswa. Mereka tak hanya membimbing siswa membuat bisnis baru, tetapi juga menyalurkan ide-ide cemerlang mereka ke sejumlah industri yang bekerja sama dengan perguruan tinggi.

“Lembaga inkubator bisnis membantu saya menyusun proposal bisnis dan mempertemukan saya dengan sejumlah pelaku bisnis yang sudah mapan,” kata Huajun Wang, mahasiswa asal Tiongkok yang mengambil program master bidang Sistem dan Layanan Jaringan di KTH Royal Institute of Technology, Stockholm. Pengalaman itu memberikannya pengetahuan yang jauh lebih banyak ketimbang hanya belajar di kampus.

Hubungan yang erat antara perguruan tinggi dan industri itu memberikan keuntungan mutualisme di antara keduanya. Industri bisa mendapatkan ide-ide segar yang menjadi solusi atas persoalan yang dihadapinya, sementara kalangan akademis bisa menerapkan ilmu yang dimilikinya sehingga menghasilkan manfaat langsung bagi masyarakat.

Eva Malmström Jonsson, Wakil Rektor KTH Royal Institute of Technology, menambahkan, untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman dosen terkait persoalan industri serta mendorong mereka untuk terus berinovasi, perguruan tinggi memberikan kesempatan kepada para dosen untuk bekerja selama beberapa tahun di industri. Setelah itu, mereka bisa kembali mengajar dan melakukan penelitian di kampus.

“Pola itu bagus karena membuat dosen memahami persoalan yang ada di industri sehingga mereka bisa memberikan solusi atas masalah yang dihadapi industri secara nyata,” katanya.

Kerja sama erat antara industri dan perguruan tinggi itulah yang menjadi penopang mendunianya sejumlah perusahaan Swedia, mulai dari Ericsson, Scania, ABB, Ikea, H&M, Skype, Electrolux, hingga Volvo. Produk-produk asal negara itu pun bisa dengan mudah ditemukan di Indonesia.

Penerapan inovasi yang lahir dari perguruan tinggi itu bukan hanya terjadi pada kelompok ilmu rekayasa, melainkan juga pada berbagai kelompok keilmuan lain, termasuk bidang kesehatan masyarakat. Aplikasi dari temuan-temuan baru itu mendorong peningkatan layanan negara kepada masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup mereka, sekaligus makin mendorong para peneliti terus menghasilkan karya-karya baru.

“Hal yang menyenangkan di Swedia adalah banyak riset perguruan tinggi yang diaplikasikan langsung ke masyarakat sehingga memacu para ilmuwan terus meneliti,” ujar Alicia Nevriana, mahasiswa magister Kesehatan Masyarakat Institut Karolinska, Stockholm.

Berbagai upaya mendorong inovasi itu menempatkan Swedia pada urutan ketiga negara dengan inovasi terkuat dalam Indeks Inovasi Global (GII) 2015. Indeks untuk melihat aspek multidimensi pendorong inovasi itu menempatkan Swiss dan Inggris pada urutan pertama dan kedua, sementara Indonesia pada peringkat ke-97. Indeks inovasi itu menggambarkan kemampuan suatu bangsa mewujudkan pertumbuhan ekonomi jangka panjang, meningkatkan produktivitas, dan mendorong pertumbuhan lapangan kerja

Inovasi adalah kunci untuk mewujudkan daya saing, kesejahteraan, dan ketahanan bangsa. Usaha itu harus dilandasi dengan pengembangan sistem pendidikan yang terintegrasi dengan industri. Ide dan karya sekecil apa pun tetap harus dihargai karena inovasi-inovasi kecil itulah yang menjadi batu tolak lahirnya inovasi-inovasi besar.–M ZAID WAHYUDI
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Januari 2016, di halaman 9 dengan judul “Kesetaraan dan Keterbukaan yang Mendorong Lahirnya Inovasi”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: