Pendidikan Sektor Utama Pembangunan

- Editor

Jumat, 23 Oktober 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pendidikan tidak dapat dijalankan dengan cara yang biasa-biasa saja atau business as usual. Kini, pendidikan harus menjadi prioritas utama dalam pembangunan bangsa agar dapat memiliki daya saing dalam kancah global.

Apalagi, tuntutan terhadap pendidikan bukan sekadar membuka akses, melainkan pendidikan berkualitas dan inklusif bagi semua orang. Pendidikan pun sekarang tidak bergerak hanya di wajib belajar pendidikan dasar, tetapi juga dimulai dari usia dini hingga pendidikan menengah.

“Tanpa pendidikan berkualitas, tidak mudah dapat pekerjaan baik, kesehatan, dan masa depan yang baik. Jadi, investasi pendidikan itu harus sejak usia dini karena memberikan dampak besar. Namun, 40 persen anak di negara berkembang masih hidup dalam kemiskinan sehingga harus dijangkau,” kata Julia Gillard, Chair of the Board of Directors, The Global Partnership for Education yang juga mantan Perdana Menteri Australia. Hal itu diungkapkannya dalam konferensi internasional ke-4 tentang Pengentasan Masyarakat dari Kemiskinan dan Perkembangan Anak yang dilaksanakan Asia-Pacific Regional Network for Early Childhood di Beijing, Tiongkok, Kamis (22/10), demikian dilaporkan wartawan Kompas,Ester Lince Napitupulu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jeffrey Sach selaku Direktur dan Guru Besar The Earth Institute, Columbia University, Amerika Serikat, mengatakan, tiap negara secara internal ataupun kemitraan global harus berjuang agar pendidikan anak usia dini dan pendidikan universal berkualitas bisa tercapai sebagai komitmen pada tujuan pembangunan berkelanjutan. Tiap negara harus mengidentifikasikan intervensi kunci yang dibutuhkan agar operasional pendidikan berkualitas tercapai.

“Pendidikan kini harus jadi leading sector (sektor utama) dalam pembangunan. Perlu pengukuran hasil belajar tepat. Selain itu, perkuat riset yang mendukung cara efektif dan inovatif untuk operasionalnya,” katanya.

Terkait investasi pendidikan yang berdampak pada kemajuan, Tiongkok dijadikan contoh. Rana Flowers, Perwakilan Unicef Tiongkok, mengatakan, sejak reformasi, Tiongkok menaruh perhatian besar pada pendidikan.

Dalam paparannya, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Harris Iskandar mengatakan, Indonesia menjangkau semua anak usia dini lewat program Satu Desa Satu Pendidikan Anak Usia Dini.
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Oktober 2015, di halaman 12 dengan judul “Pendidikan Sektor Utama Pembangunan”.

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 31 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB