Pendidikan Islam; Indonesia Bisa Menjadi Rujukan

- Editor

Rabu, 23 Desember 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Berbeda dengan di negara-negara Muslim lain, pendidikan Islam di Indonesia unik karena lahir dan hidup di tengah masyarakat yang plural. Keberagaman masyarakat dalam tradisi, termasuk dalam hal agama dan kepercayaan, melahirkan sikap toleran terhadap perbedaan. Ini merupakan kekayaan yang bisa menjadikan Indonesia sebagai rujukan pendidikan Islam bagi dunia melalui pesantren dan madrasah.

Hal itu mengemuka dalam diskusi “Mewujudkan Pendidikan Islam yang Unggul, Moderat, dan Menjadi Rujukan Dunia dalam Integrasi Ilmu Agama, Pengetahuan, dan Teknologi” yang diselenggarakan Education Sector Analytical and Capacity Development Partnership Indonesia dan Kementerian Agama (Kemenag), Selasa (22/12), di Jakarta.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Kamaruddin Amin menjelaskan, mendorong pendidikan Islam yang moderat dan unggul itu menjadi visi Kemenag. Pesantren dan madrasah menjadi modern karena, antara lain, proses pendidikan di keduanya mengikuti kurikulum pendidikan nasional dan mengajarkan agama Islam yang moderat. Karena keunikan ini, Indonesia bisa menjadi referensi dan pusat peradaban dunia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, keunikan Indonesia ini tidak akan diketahui dunia jika hanya disosialisasikan melalui promosi-promosi. Untuk itu, kita perlu mengajak dunia, setidaknya mahasiswa, agar mau mempelajari pendidikan Islam moderat di Indonesia. Bentuknya bisa berupa pemberian beasiswa pendidikan bagi mahasiswa asing, khususnya dari negara-negara Muslim lain.

“Untuk tahap awal mungkin hanya 10-15 negara yang diajak. Nanti bisa disediakan anggarannya,” kata Kamaruddin.

Guru Besar Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang, Abdurrahman Mas’ud menambahkan, Muslim di Indonesia perlu bangga menjadi Muslim yang berbeda dan tidak inferior terhadap negara-negara di Arab dan Barat. “Kita memiliki pendidikan Islam yang menekankan keagamaan dan sains,” ujarnya.

Menurut Abdurrahman, pesantren lahir dan berkembang dari masyarakat sebagai cikal bakal pendidikan Islam. Selain memiliki landasan sejarah kuat di Indonesia, pesantren juga mempunyai landasan ideologis dan budaya karena mampu beradaptasi dengan budaya lokal.

Gerakan Ayo Mondok
Secara terpisah, Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama dan situs NU Online kembali menggairahkan gerakan Ayo Mondok setelah kampanye melalui dunia maya pada Juni 2015. Gerakan ini ingin merangkul kaum menengah perkotaan untuk merasakan pendidikan agama Islam di pesantren.

Gerakan ini untuk menunjukkan peran pesantren dalam menghasilkan tokoh-tokoh agama yang toleran. “Setelah program Juni lalu, sejumlah pondok pesantren, terutama di Jawa Timur, mendapatkan banyak santri baru,” ujar aktivis NU, Hamzah Sahal, di Jakarta.

Direktur Utama NU Online Savic Ali mengatakan, gerakan ini ingin merangkul kaum menengah perkotaan untuk memasukkan anaknya ke pesantren, bukan pesantren kilat. ?Pesantren mengenalkan nilai-nilai agama yang? toleran. (LUK/IVV)
———–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Desember 2015, di halaman 12 dengan judul “Indonesia Bisa Menjadi Rujukan”.
—–
Pesantren Didorong Jadi Contoh Pendidikan Islam Moderat

Pendidikan Islam di Indonesia terbilang unik. Bukan hanya karena cikal bakalnya dari pesantren yang memiliki ikatan sejarah kuat, tetapi juga tumbuh di masyarakat yang beragam. Karena itu, pesantren diharapkan bisa menjadi contoh pendidikan keagamaan di Indonesia.

c9002e2f979e4bfc9532b9fe75f139cfKOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Anak-anak bermain di halaman Pesantren Bidayatul Hidayah di Desa Cigedang, Kecamatan Luragung, Kuningan, Jawa Barat, Kamis (23/7). Penggagas dan pendanaan pembangunan pesantren tersebut berasal dari perantau.

Apalagi mengingat pesantren yang lahir dan berkembang di masyarakat tidak hanya menekankan pada pengetahuan keagamaan Islam, tetapi juga ilmu pengetahuan umum. Sayangnya, banyak pesantren sulit berkembang karena mayoritas berada di pedesaan dan peserta didiknya dari keluarga miskin.

Hal ini mengemuka dalam diskusi pendidikan “Mewujudkan Pendidikan Islam yang Unggul, Moderat, dan Menjadi Rujukan Dunia dalam Integrasi Ilmu Agama, Pengetahuan, dan Teknologi” yang diselenggarakan Education Sector Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP), Selasa (22/12), di Kementerian Agama, Jakarta.

“Ini tantangan kita. Masalahnya ada pada anggaran pendidikan bagi pesantren dalam hal ini madrasah. Alokasi anggaran belum cukup,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin.

Multiperan
Guru Besar Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang, Abdurrahman Mas’ud menjelaskan secara historis, pendidikan Islam di Indonesia dimulai dari pesantren yang merupakan lembaga swadaya masyarakat yang tidak hanya menjadi penyelenggara pendidikan keagamaan Islam, tetapi juga memberdayakan masyarakat dan menjadi pusat peradaban Islam. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren berkontribusi besar dalam memberikan layanan pendidikan keagamaan Islam terutama di daerah pedesaan dengan menjangkau anak dari keluarga miskin.

Pesantren yang semula fokus pada pendidikan agama Islam kemudian menjadi madrasah dengan memasukkan ilmu pengetahuan umum. Dalam perkembangannya, banyak pesantren mendirikan sekolah. Sebagian sekolah itu berkembang menjadi sekolah Islam terpadu yang menyelenggarakan sekolah mulai jenjang pra sekolah hingga sekolah menengah dan memadukan pendidikan umum di sekolah di pagi hari dan pendidikan keagamaan Islam di sore dan malam hari.

f1cf73a13fbc4fa19e228d74b22bbc66KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Sejumlah santri memindahkan kayu yang akan digunakan untuk membangun asrama Pondok Pesantren Al Mumtaz di Desa Beji, Patuk, Gunung Kidul, DI Yogyakarta, Jumat (18/9). Kegiatan itu untuk mengajarkan sikap rajin dan mandiri agar kelak mereka dapat berkembang menjadi wirausahawan yang tangguh.

“Sebagian pesantren menggabungkan kedua jenis kegiatan itu dalam bentuk sekolah berasrama. Sistem yang ada di madrasah, yang berakar dari budaya pesantren, telah banyak diadopsi oleh sekolah-sekolah umum yang berciri khas Islam,” kata Abdurrahman.

Dengan pertumbuhannya yang cepat, peningkatan peran pesantren sebagai lembaga pendidikan ditanggapi pemerintah dengan memasukkan program pendidikan keagamaan Islam dan madrasah menjadi satu bagian sistem pendidikan nasional.

Sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, pesantren juga memberikan keterampilan tepat guna bagi santri dan masyarakat lingkungannya. Tetapi lama kelamaan peran ini berkurang karena pesantren tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi. Akibatnya, program yang ditawarkan tidak menarik lagi. Sarana prasarana pendukungnya pun terbatas. Di sisi lain, semakin banyak santri memperoleh kesempatan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Sebagai pusat peradaban Islam, pesantren berhasil memberi warna pada pengembangan peradaban Islam, bahkan peradaban Melayu dan Jawa. Ini dilakukan melalui tiga cara. Pertama, digunakannya media pembelajaran bahasa Melayu dan Jawa di pondok pesantren. Melalui media ini, pesantren menjadi sarana transit pemikiran Islam Timur Tengah. Pesantren juga memiliki tradisi debat dan diskusi sehingga terjadi proses dialektika antara pemikiran keagamaan dan pemikiran rasional dunia Barat, juga antara guru dan murid sehingga menghasilkan tradisi berkarya. Pesantren juga memiliki keunggulan menghasilkan cetak biru peradaban Islam karena jaringan keilmuan santrinya tersebar di Asia Tenggara.

Namun, keunggulan pesantren itu meredup. Salah satu penyebabnya adalah melalui dialektika keilmuan, terjadi juga pertarungan paradigma dalam studi Islam antara Timur dan Barat yang meningkatkan dialektika pengembangan keilmuan Islam. Sayangnya, ini tidak diikuti dengan peningkatan tradisi menulis pada santri.

Di sisi lain, pendidikan Islam sebagai produk pengembangan pesantren telah berkembang pesat dan menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional. Dengan didukung sekitar 75.000 madrasah, 14.000 pesantren, 676 perguruan tinggi, sistem pendidikan Islam di Indonesia menjadi sistem pendidikan Islam yang terbesar di Asia Tenggara. Dengan modal itu, ACDP merekomendasikan perlunya kebangkitan Islam di Indonesia melalui peran pesantren.

LUKI AULIA

Sumber: Kompas Siang | 22 Desember 2015

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 2 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB