Home / Berita / Pendidikan Tinggi Islam Disinergikan

Pendidikan Tinggi Islam Disinergikan

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi bersama Kementerian Agama akan melakukan integrasi pengelolaan program studi di perguruan tinggi umum dan keagamaan Islam. Tujuannya agar kesenjangan mutu antara kedua jenis perguruan tinggi bisa diatasi.

“Prodi (program studi) umum yang ada di perguruan tinggi (PT) beserta pengangkatan guru besarnya tetap diatur oleh Kemenristek dan Dikti,” kata Menristek dan Dikti Mohamad Nasir dalam kuliah umum bertajuk “Kebijakan Pengembangan Pendidikan Tinggi dan Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia” di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulah Jakarta, Senin (16/4/2018). Sebaliknya, mata kuliah keagamaan di PT umum seperti Ekonomi dan Perban?kan Syariah diatur oleh Kemenag.

Hal ini agar tidak ada dua standar kurikulum dan kompetensi yang dikeluarkan oleh dua kementerian berbeda. Diharapkan pula, sistem tersebut bisa memacu peningkatan mutu PT Islam yang selama ini dinilai tertinggal dari PT umum.
“Sebagai gambaran, dari 59 PT Agama Negeri (PTAN), baru 3 yang terakreditasi A,” tutur Nasir merujuk data Kemenristek dan Dikti per Februari 2018. Bahkan, untuk PTA Swasta tidak ada yang berakreditasi A. Hanya 22 PTAS berakreditasi B, sisanya seba?nyak 203 lembaga berakreditasi C.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir (kedua dari kanan), didampingi Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah Dede Rosyada (kanan); Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin (kedua dar kiri); dan Direktur Pendidikan Tinggi Islam Kemenag M Arskal Salim (paling kiri) membahas strategi peningkatan mutu perguruan tinggi keagamaan Islam di Jakarta, Senin (16/4/2018)

Hal ini berbeda dengan PTN? yang sebanyak 32 sudah berakreditasi A dan 43 berakreditasi B. Oleh sebab itu, Nasir menargetkan dengan pembagian pembinaan prodi dan guru besar antara dua kementerian, setiap pihak bisa fokus mengembangkan riset dan inovasi yang berujung pada peningkatan kompetensi sivitas akademika.

Sasar publikasi
Menurut Nasir, langkah untuk menggenjot kapasitas sumber daya pendidikan tinggi ialah dengan menerbitkan makalah di jurnal bertaraf internasional dengan reputasi baik. Indonesia memiliki 5.300 profesor dan 32.000 lektor kepala. Apabila setiap orang bisa melakukan riset, inovasi dan kekayaan intelektual bangsa akan luar biasa.

“Terlebih, mahasiswa S-3 kini juga diwajibkan menulis minimal satu makalah berstandar internasional,” ujarnya. ?Per tahun 2017 tercatat Indonesia memiliki 18.952 makalah yang dimuat di jurnal terindeks Scopus.

5.000 doktor
Dalam acara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Kamaruddin Amin mengungkapkan program pemerintah mencetak 5.000 doktor di bidang agama Islam berjalan sesuai rencana 2014-2019. Setiap tahun, ada 1.000 orang yang meraih gelar tersebut.

PT Agama Islam memiliki ?30.000 dosen, 3.000 orang di antaranya bergelar doktor dan 400 orang adalah guru besar. Namun, baru segelintir yang karya ilmiahnya sudah diterbitkan di jurnal internasional (Kompas, 14 Desember 2015).

“Dari 1.000 orang yang diberi beasiswa S-3 setiap tahun, sebanyak 120 orang dikirim ke luar negeri untuk kuliah di PT kelas dunia,” tutur Kamaruddin. Ia mengaku, jumlah mahasiswa S-3 yang dikirim ke luar negeri lebih rendah dari target 200 orang per tahun. Hal ini karena sukar mencari kandidat yang sesuai standar.

Selain meningkatkan kompetensi dosen, Kamaruddin juga menginginkan bertambahnya jumlah riset dan literatur. Hendaknya literatur di PT Agama Islam sekelas dengan PT-PT di Eropa dan Universitas Al-Azhar di Mesir. (DNE)–LARASWATI ARIADNE ANWAR

Sumber: Kompas, 17 April 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: