Pemulihan DAS; Cirasea, Potret Pemulihan Citarum

- Editor

Jumat, 15 April 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dua bulan lalu, aliran air di dam pengendali Curug Eti yang dihadang beronjong kawat berisi batu itu dalamnya 4 meter. Kini, dipenuhi sedimen lumpur dan pasir, menyisakan kedalaman semata kaki.

“Senang, tetapi miris,” kata Tri Adi Wibisono, pegawai Ditjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kepada wartawan yang melihat pemulihan sub-Daerah Aliran Sungai Cirasea, bagian DAS Citarum, itu.

Senang, karena dam pengendali yang selesai dibangun Desember 2015 itu mampu menahan material sedimen. Miris, karena dam penuh material menunjukkan hulu DAS Citarum kritis. Lahan di sana berubah menjadi areal pertanian sayur, palawija, dan tanaman rempah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tanaman berkayu dengan akar kuat sangat jarang. Tanaman berkayu dengan naungan lebar dianggap pengganggu tanaman sayur karena sinar matahari terhalang.

“Masih banyak masyarakat menganggap hiyeum (rindang) itu tidak bagus,” kata Ayi Hidayat (45), Ketua Kelompok Tani Cimenteng di Desa Loa, Kecamatan Paseh, Bandung.

Ia bersama 26 petani tiga bulan terakhir mengerjakan 25 hektar lahan kelompok untuk menjadi pionir pembuktian. Mereka ingin menunjukkan, penanaman kayu keras di sekeliling, bahkan di dalam kebun sayur, sangat memungkinkan dan membawa panen yang baik.

Gayung bersambut, rencana mereka disetujui Balai Pengelolaan DAS Citarum-Ciliwung KLHK. Mereka mendapat dana Rp 200 juta untuk memperbaiki lahan dan menanami areal pertanian dengan tanaman keras.

Lahan yang semula dibuat lurus dari perbukitan diubah dengan sistem terasiring untuk mengurangi laju air saat hujan. Tanaman keras, seperti jati putih/gamalina dan sengon yang dicampur tanaman kopi dan avokad, menghiasi petak-petak pertanian yang ditumbuhi cabai, sayur, dan jahe.

Ayi yakin, jati putih bisa dipanen dalam lima tahun, sedangkan kopi dipanen pada usia dua tahun. Untuk tetap memberi akses cahaya matahari, jarak antar-tanaman kayu 5-9 meter atau minimal 400 pohon per hektar. Di dekatnya, ditanam tanaman kopi tahan naungan.

Hasilnya belum terlihat karena masa tanam baru tiga bulan. Namun, kesejahteraan masyarakat diyakini akan terdongkrak. “Tanaman diusulkan masyarakat, ditanam, diawasi, dan dinikmati masyarakat. Ini cara paling baik merehabilitasi DAS,” kata Ahmad Sudirman atau Abah Alit Gunung Wayang (60), Ketua Forum Komunikasi Kelompok Tani Agroforestri di Hulu Citarum.

Abah Alit yang 20 tahun menjadi pegiat lingkungan yakin, pada 2018 mulai tampak hasil dari penanaman itu.

fe5848f7dcc44ddd8585895f8cd23823KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Areal pertanian di sub-DAS Citarum, di DAS Cirasea, Desa Loa, Kecamatan Paseh, Bandung, awal April 2016, mulai ditanami tanaman keras. Program bernama Quick Wins itu juga menyentuh konservasi tanah untuk mengurangi laju air permukaan dan menambah cadangan air setempat.

Meski program itu baik, menurut Kepala Balai Pengelola DAS Citarum-Ciliwung Dody Susanto, Cirasea baru sekelumit dari lahan yang harus dipulihkan di Citarum selain sub-DAS Ciwidey, Cisangkuy, Cihaur, dan Ciminyak. Saat ini, tercatat sekitar 77.000 hektar lahan di DAS Citarum Hulu kritis.

Untuk merehabilitasi butuh sentuhan agroforestri terhadap 84.000 hektar yang diiringi pembangunan 400 dam pengendali, 4.200 dam penahan, dan 75.000 sumur resapan. “Kajian dan permodelan ahli, langkah itu bisa mengurangi 60-70 persen sedimentasi,” katanya.

Apa daya, karena keterbatasan anggaran, hanya bisa dilakukan agroforestri pada 5.500 hektar lahan kritis, 2 dam pengendali, 440 dam penahan, dan 2.100 sumur resapan.

Tahun ini, kata Dody, agroforestri diproyeksikan hanya bisa 500 hektar, pembangunan 30 dam penahan, dan 200 sumur resapan. Tanpa pembangunan dam pengendali.

Pemulihan kondisi DAS Citarum Hulu tak bisa dilakukan sendiri. Kerusakan bertahun-tahun itu butuh dikeroyok berbagai pihak agar sumber air utama Jakarta tersebut membaik.

Pemulihan DAS melalui penanaman merupakan instruksi langsung Presiden Joko Widodo pada 29 November 2016 saat memimpin Hari Menanam Pohon Indonesia 2014 dan Gerakan Penanaman 1 Miliar Pohon. Penghijauan kawasan hulu, kata Presiden, satu-satunya jalan. Tidak ada jalan lain. (ICH)
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 April 2016, di halaman 14 dengan judul “Cirasea, Potret Pemulihan Citarum”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma
Habibie Award: Api Intelektual yang Menyala di Tengah Bangsa
Cerpen: Lagu dari Koloni Senyap
Di Balik Lembar Jawaban: Ketika Psikotes Menentukan Jalan — Antara Harapan, Risiko, dan Tanggung Jawab
Tabel Periodik: Peta Rahasia Kehidupan
Kincir Angin: Dari Ladang Belanda Hingga Pesisir Nusantara
Surat Panjang dari Pinggir Tata Surya
Berita ini 5 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 19 November 2025 - 16:44 WIB

Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami

Rabu, 12 November 2025 - 20:57 WIB

Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma

Sabtu, 1 November 2025 - 13:01 WIB

Habibie Award: Api Intelektual yang Menyala di Tengah Bangsa

Kamis, 2 Oktober 2025 - 16:30 WIB

Di Balik Lembar Jawaban: Ketika Psikotes Menentukan Jalan — Antara Harapan, Risiko, dan Tanggung Jawab

Rabu, 1 Oktober 2025 - 19:43 WIB

Tabel Periodik: Peta Rahasia Kehidupan

Berita Terbaru

Berita

Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami

Rabu, 19 Nov 2025 - 16:44 WIB

Artikel

Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma

Rabu, 12 Nov 2025 - 20:57 WIB

Fiksi Ilmiah

Cerpen: Tarian Terakhir Merpati Hutan

Sabtu, 18 Okt 2025 - 13:23 WIB

Fiksi Ilmiah

Cerpen: Hutan yang Menolak Mati

Sabtu, 18 Okt 2025 - 12:10 WIB