Home / Berita / Pemicu Obesitas Bukan Hanya Banyak Makan dan Kurang Olahraga

Pemicu Obesitas Bukan Hanya Banyak Makan dan Kurang Olahraga

Kegemukan atau obesitas adalah faktor risiko yang memicu banyak penyakit degeneratif, mulai dari diabetes melitus atau kencing manis, penyakit jantung dan stroke, hingga sejumlah kanker.

Obesitas juga bisa menimbulkan gangguan kejiwaan, seperti stres dan depresi, akibat menurunnya rasa percaya diri. Bahkan, obesitas juga menurunkan kesehatan otak dengan meningkatkan risiko demensia atau pikun.

Kini, banyak orang makin sadar bahaya obesitas. Berbagai usaha pun dilakukan untuk menurunkan berat badan, mulai dari berolahraga, mengurangi konsumsi karbohidrat, mengatur pola diet, hingga menempuh sejumlah yang hal bisa mendatangkan bahaya, seperti minum obat pelangsing, operasi sedot lemak, hingga operasi bariatrik.

Namun, tidak semua cara mengurangi berat badan itu berhasil pada semua orang. Dalam banyak kasus, orang-orang yang melakukan olahraga rutin secara bersama-sama memberikan efek pengurusan badan yang berbeda. Demikian pula mereka yang melakukan pola diet yang sama seperti dilakukan orang lain ternyata memberikan hasil berbeda.

Obesitas kini menjadi pandemi dunia. Semua negara mengalaminya dan berusaha menekan laju pertumbuhan penduduk obesitas yang terus meningkat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Oktober 2017 menyebut jumlah penduduk dunia yang mengalami obesitas meningkat hampir tiga kali lipat sejak tahun 1975.

Pada 2016, ada 1,9 miliar penduduk dewasa dunia berumur lebih dari 18 tahun yang kelebihan berat badan (overweight). Dari jumlah itu, 650 juta orang mengalami obesitas.

Jumlah anak yang mengalami obesitas dan kelebihan berat badan juga banyak. Pada 2016, terdapat 41 juta anak berumur kurang dari 5 tahun (balita) dan 340 juta anak dan remaja berumur 5-19 tahun yang mengalami kelebihan berat badan dan obesitas.

Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar 2013 menyebut 14,8 persen penduduk dewasa berumur lebih dari 18 tahun mengalami obesitas.

Obesitas kini menjadi pandemi dunia. Semua negara mengalaminya dan berusaha menekan laju pertumbuhan penduduk obesitas yang terus meningkat.

Dengan jumlah penduduk dewasa pada 2018 mencapai 177 juta orang atau dua pertiga penduduk Indonesia yang mencapai 265 juta orang, berarti ada 26 juta orang dewasa yang obesitas di Indonesia.

Jumlah itu kemungkinan besar bertambah mengingat masih ada 11,5 persen atau 20 juta penduduk dewasa yang kelebihan berat badan dan berpotensi mengalami obesitas.

–Para anggota Komunitas Besar Indonesia mengikuti kursus make up singkat di kawasan Serpong, Tangerang, Banten, Sabtu (3/8/2013). Melalui kegiatan tersebut, mereka yang bertubuh gemuk itu berharap bisa merias diri dengan tepat sehingga bisa tampil menarik di tengah masyarakat.

Sementara itu, jumlah anak kelebihan barat badan dan obesitas tak kalah mengkhawatirkan. Meski kasus anak stunting (pendek) mencapai sepertiga jumlah anak balita, kasus anak balita yang kegemukan terus meningkat. Demikian juga jumlah anak dan remaja yang mengalami obesitas.

Pemicu obesitas memang tidak sederhana. Bukan hanya karena kebanyakan makan atau kurang aktivitas gerak semata. Berbagai hal bisa memengaruhi kegemukan, mulai dari kondisi mikroba usus, genetika, jam makan, pikiran tentang makanan, hingga persoalan hormon.

Oleh karena itu, memerangi obesitas harus dilakukan secara komprehensif. Bukan sekadar niat kuat atau kemauan keras untuk menurunkan berat badan, melainkan juga berdasarkan ilmu medik yang benar.

Mikroba usus
Salah satu hal yang bisa memengaruhi obesitas pada seseorang adalah kondisi mikroba usus. Mereka yang memiliki pola makan sehat, beragam, dan kaya akan bermacam-macam serat memiliki mikroba usus yang lebih beragam.

NATIONAL INSTITUTES OF HEALTH–Salah satu mikroba usus adalah bakteri Escherichia coli.

Keragaman mikroba usus itu bisa dideteksi melalui uji terhadap tinja. Mereka yang lebih kurus memiliki keragaman spesies mikroba jauh lebih banyak dibandingkan mereka yang mengalami obesitas.

”Setiap kali kita makan, itu berarti kita memberi makan 100 triliun mikroba di usus. Kita tidak pernah makan sendirian,” kata Tim Spector, profesor epidemiologi genetika Kings College, London, Inggris, yang juga pemimpin studi Twin Research United Kingdom, seperti dikutip dari BBC, Sabtu (28/4/2018).

Sayangnya, makanan banyak dan beragam serat itu belum menjadi gaya hidup banyak orang, termasuk di Indonesia. Padahal, sayur, buah, dan kacang-kacangan yang menjadi sumber serat relatif mudah dan murah didapat di Indonesia.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan, 93,5 persen penduduk berumur lebih dari 10 tahun kurang mengonsumsi sayur dan buah, yaitu kurang dari lima porsi per hari dalam satu minggu. Jumlah itu hanya turun 0,1 persen dibandingkan hasil Riskesdas 2007. Anehnya, konsumsi sayur dan buah justru lebih sedikit di perdesaan dibandingkan mereka yang tinggal di perkotaan.

Pola konsumsi sayur dan buah itu juga berbanding lurus dengan penambahan usia dan tingkat pendidikan. Artinya, makin muda usia dan makin rendah tingkat pendidikan yang ditamatkan, makin rendah pula konsumsi sayur dan buahnya. Polanya pun sama di semua provinsi, yaitu konsumsi buah lebih sedikit dari memakan sayur.

Genetika
Selain mikroba usus, pemicu kegemukan lain adalah kondisi genetika. Studi peneliti dari Universitas Cambridge, Inggris, menunjukkan 40-70 persen kegemukan yang dialami seseorang berasal dari variasi genetik yang diwariskan.

Persoalan genetika inilah yang membuat sebagian orang yang sudah mengatur pola makan dengan baik dan berolahraga secara teratur tetap tidak mendapat berat badan yang ideal. Sementara sebagian orang yang makan berlebih dan jarang berolahraga justru sulit menjadi gemuk.

HTTP://GIZI.DEPKES.GO.ID–Piring Makanku sebagai panduan pola makan dengan gizi seimbang.

”Gen terlibat dalam pengaturan berat badan manusia. Kesalahan genetika tertentu bisa mendorong seseorang menjadi lebih rentan obesitas,” kata Sadaf Farooqi, profesor dari Departemen Biokimia Klinis Universitas Cambridge, Inggris.

Gen tertentu dapat memengaruhi nafsu makan serta jumlah dan jenis makanan yang ingin dikonsumsi seseorang. Kondisi genetika juga bisa memengaruhi bagaimana tubuh seseorang membakar kalori dan menangani lemak secara efisien.

Selain mikroba usus, pemicu kegemukan lain adalah kondisi genetika.

Setidaknya, ada 100 gen yang bisa memengaruhi berat badan seseorang. Salah satunya gen melanocortin-4 receptor atau MC4R yang bekerja di otak manusia untuk mengendalikan rasa lapar dan keinginan untuk makan.

Setidaknya, setiap satu dari 1.000 orang memiliki gen MC4R yang cacat sehingga menyebabkan mereka cenderung lebih lapar dan suka makan makanan berlemak tinggi.

”Saat seseorang mengalami cacat gen MC4R, tidak ada hal yang bisa dilakukan. Namun, dengan mengetahui kepemilikan atas gen ini, bisa mendorong seseorang mengelola berat badannya melalui perubahan pola makan dan olahraga,” lanjut Farooqi.

Jam makan
Penyebab kegemukan lainnya adalah jam makan dan porsi makan yang keliru. Pepatah lama Inggris menyebut, ”Sarapan ibarat raja, makan siang bak tuan, dan makan malam seperti orang miskin”.

Pakar obesitas dari Sekolah Ilmu Hayati dan Kesehatan Universitas Aston, Birmingham, Inggris, James Brown, mengatakan, dari ketiga waktu makan itu, makin mundur urutannya, makin besar pula kemungkinannya menambah berat badan seseorang.

Waktu makan yang paling berisiko memicu kegemukan secara berurutan adalah makan malam, makan siang, dan sarapan.

Penyebab tingginya risiko makan malam memicu kegemukan bukan karena kita kurang aktif pada malam hari seperti kekhawatiran banyak orang selama ini. Namun, saran untuk membatasi makan malam itu berkaitan dengan jam tubuh manusia. Kondisi itu membuat orang-orang yang bekerja sif atau jam kerjanya tidak teratur akan sulit untuk menjaga berat badannya.

”Tubuh diatur untuk membakar kalori jauh lebih efisien pada saat hari terang atau siang hari daripada malam atau saat hari gelap,” ujarnya.

Sepanjang malam, tubuh berusaha ekstra untuk membakar lemak dan karbohidrat sehingga makan malam sebelum pukul 19.00 bisa membantu mengurangi berat badan atau mencegah kegemukan.

Dari riset yang dilakukan Brown, jam malam rata-rata masyarakat Inggris selama satu dekade terakhir telah bergeser dari pukul 17.00 menjadi pukul 20.00. Kondisi itu turut berperan mendorong peningkatan jumlah warga yang mengalami obesitas.

Perubahan pola makan itu terjadi seiring dengan perubahan pola kerja dan gaya hidup yang serba terburu-buru. Konsekuensinya, lingkar pinggang seseorang jadi mudah bertambah.

Sarapan ala kadarnya yang menjadi tren saat ini juga harus dihindari. Sarapan dengan makanan yang lebih banyak mengandung protein dan sedikit lemak plus karbohidrat memadai akan membuat seseorang merasa kenyang lebih lama.

Selanjutnya, makan siang perlu diisi dengan makanan yang bergizi tinggi. Sementara menu makan malam seharusnya memiliki nilai gizi yang lebih ringan.

Kendalikan pikiran
Jumlah kalori yang dibutuhkan manusia untuk menopang kegiatannya sehari-hari bervariasi 2.000-2.500 kalori per hari. Namun, sebagian orang sulit menentukan atau cenderung meremehkan jumlah kalori yang telah dikonsumsinya sepanjang hari.

Di Inggris, data Behavioural Insights Team Inggris menyebutkan, warga Inggris buruk dalam menentukan berapa kalori yang dikonsumsinya dalam sehari. Akibatnya, konsumsi kalori mereka kelebihan 30-50 persen per hari.

Penasihat Utama Behavioural Insights Team yang juga ahli ilmu perilaku Hugo Harper mengatakan, daripada rumit menghitung jumlah kalori, lebih baik mengubah perilaku makan hingga masuk dalam pikiran bawah sadar kita.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menghapus pandangan visual makanan. Cara itu diyakini jauh lebih efektif dibandingkan mengendalikan asupan jumlah kalori dengan mengandalkan tekad atau niat.

Meniadakan pandangan visual makanan itu antara lain bisa dilakukan dengan mengganti camilan di lemari makan atau di meja makan dengan buah atau kudapan sehat lain. Selain itu, hindari mengonsumsi camilan langsung dari toplesnya saat duduk menonton televisi, tetapi taruh camilan yang ingin dimakan pada piring dan hanya konsumsi kudapan yang ada di piring itu selama menonton.

Harper juga menyarankan pola konsumsi substitusi, yaitu mengganti makanan favorit dengan makanan sejenis, tetapi yang rendah kalori. Cara ini lebih efektif daripada tidak memakan makanan kesukaan itu sekaligus. Selain jenisnya, porsinya pun bisa dikurangi.

Perilaku itu antara lain bisa diwujudkan dengan mengonsumsi minuman ringan rendah kalori atau mengurangi potongan kue cokelat yang menemani minum teh sore daripada menghindari makanan itu sama sekali.

”Orang-orang cenderung kurang memperhatikan saat porsi makanan mereka berkurang 5-10 persen,” katanya. Manusia cenderung untuk makan tanpa memikirkan jumlahnya alias cenderung memakan apa yang tersaji. Karena itu, makan malam dengan piring kecil lebih disarankan daripada piring besar yang penuh dengan makanan.

Hormon
Salah satu cara yang banyak dipilih orang untuk mengatasi obesitas adalah dengan melakukan operasi bariatrik. Cara ini dianggap paling efektif dalam mengatasi obesitas. Sejumlah rumah sakit di Indonesia pun sudah menawarkan tindakan ini.

Operasi bariatrik adalah operasi besar yang bisa mengurangi ukuran perut hingga 90 persen. Tujuan operasi ini adalah membuat hormon yang memicu rasa cepat kenyang meningkat dan menurunkan kadar hormon yang membuat seseorang cepat lapar.

Selain itu, operasi ini hanya diperuntukkan bagi orang yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) minimal 35. Sementara seseorang dikatakan obesitas jika BMI-nya lebih dari 30.

Salah satu cara yang banyak dipilih orang untuk mengatasi obesitas adalah dengan melakukan operasi bariatrik.

Bedah bariatrik dilakukan dengan mengecilkan ukuran perut. Tindakan itu bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti mengikat lambung, bypass lambung, dan pengangkatan sebagian organ pencernaan (sleeve gastrectomy).

Semua cara itu akan memodifikasi organ pencernaan sehingga seseorang cepat merasa kenyang dan kapasitas tampung organ pencernaan terhadap makanan pun mengecil.

Operasi bariatrik juga dilakukan dengan menempatkan implan listrik di organ pencernaan. Alat itu akan mengirimkan sinyal ke otak sewaktu-waktu yang menyatakan bahwa lambung sudah penuh atau kenyang.

Saat ini, peneliti dari Imperial College London, Inggris, telah menciptakan hormon usus yang bisa mengubah nafsu makan seseorang setelah menjalani operasi bariatrik. Hormon buatan yang terdiri atas tiga jenis hormon dan diberikan dalam bentukan suntikan setiap hari selama empat minggu itu saat ini sedang menjalani uji klinis.

”Pasien yang diberi hormon ini akan merasa kurang lapar, makan lebih sedikit, dan kehilangan badan 2-8 kilogram hanya dalam 28 hari,” kata Tricia Tan, konsultan penyakit endokrin dan metabolik di Imperial College, London.

Jika obat yang mengandung hormon buatan itu berhasil, obat itu bisa diberikan kepada mereka yang sudah menjalani operasi bariatrik hingga cepat mencapai berat badan yang ideal. (BBC/WHO)–M ZAID WAHYUDI

Sumber: kompas, 3 Mei 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: