Joging, Olahraga Terbaik untuk Melawan Gen Obesitas

- Editor

Selasa, 6 Agustus 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Obesitas menjadi masalah kesehatan dunia. Kegemukan memicu sejumlah gangguan metabolisme sehingga menjadi sejumlah faktor risiko penyakit degeneratif yang berbiaya mahal, berpotensi mengganggu pertumbuhan ekonomi, serta menurunkan tingkat kesejahteraan warga.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN–Siswa sebuah sekolah dasar di Tangerang Selatan, Banten mengikuti mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di lapangan sekolah, Kamis (24/1/2019). Olahraga merupakan salah satu kegiatan luar ruang di sekolah yang bisa mengontrol obesitas pada anak.

Interaksi antara faktor genetik dan gaya hidup yang kompleks menjadikan obesitas gampang-gampang susah ditangani. Tak jarang, obesitas menimbulkan stres dan depresi pada mereka yang mengalami akibat tekanan psikologi dan sosial yang dihadapi. Belum lagi, kecemasan akibat kekhawatiran terkena berbagai penyakit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Orang-orang yang memiliki gen obesitas akan lebih mudah mengalami penambahan berat badan dibanding yang tidak memiliki gen tersebut. Meski mereka sudah mengatur pola diet dan olahraga dengan baik, mereka umumnya akan tetap lebih mudah mengalami kegemukan.

Namun, studi terbaru yang dipimpin Wan-Yu Lin dari Institut Epidemiologi dan Kedokteran Preventif, Sekolah Kesehatan Masyarakat, Universitas Nasional Taiwan di Taipei, Taiwan menunjukkan, meski seseorang memiliki gen obesitas, hal itu bukan berarti peluang mereka mengalami kegemukan tidak bisa dicegah atau dilawan.

Studi yang dipublikasikan di jurnal PLOS Genetics, Kamis (1/8/2019), menunjukkan ada enam jenis olahraga yang efektif mencegah kegemukan. Keenam jenis olahraga itu adalah joging, mendaki gunung, jalan kaki, jalan cepat yang disertai gerakan lengan (power walking), jenis tarian tertentu terutama ballroom dancing atau dansa dan yoga yang cukup lama.

“Dari (keenam) jenis olahraga itu, joging teratur secara konsisten menunjukkan bukti kuat mengurangi efek genetik obesitas,” tulis peneliti.

Kesimpulan itu diperoleh dari studi terhadap 18.424 orang berumur 30-70 tahun dari etnis Han, China, yang tergabung dalam Taiwan Biobank (TWB). Untuk mengetahui efek jenis olahraga tertentu terhadap penurunan obesitas, para peneliti mengukur lima faktor yang jadi standar pengukuran obesitas, yaitu indeks massa tubuh (BMI), persentase lemak tubuh, lingkar pinggang, lingkar pinggul, dan rasio pinggang-pinggul.

Kelima faktor itu diuji pada 18 jenis olahraga yang dilaporkan para responden. Hasilnya, enam jenis olahraga itulah yang memiliki dampak paling besar dalam melemahkan efek gen obesitas yang memicu kegemukan atau meningkatkan nilai BMI. Dari keenam jenis olahraga itu, joging menjadi olahraga terbaik yang mampu menekan kelima standar pengukuran obesitas.

Secara keseluruhan, seperti dikutip Live Science, responden yang melakukan olahraga teratur cenderung memiliki BMI yang lebih rendah dibanding yang tidak teratur berolahraga. Kondisi ini juga terjadi pada orang-orang yang secara genetik rentan mengalami kegemukan atau memiliki gen obesitas.

KOMPAS/WISNU NUGROHO–Ibu Negara Ny Kristiani Herawati Yudhoyono bersama dua ajudan dan anggota Pasukan Pengamanan Presiden melakukan joging di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (12/5). Setelah berlari tiga putaran, Ny Ani Yudhoyono bermain tenis meja di dekat Kantor Presiden. Sementara di dalam Kantor Presiden, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelar sidang kabinet terbatas lebih dari tiga jam untuk membahas evaluasi darurat sipil di Provinsi Aceh.

Mencegah kegemukan
Bukti itu makin memperkuat teori bahwa olahraga teratur menjadi alat yang efektif untuk mencegah kegemukan, apapun pemicu kegemukannnya, baik akibat persoalan genetika atau gaya hidup.

“Walau faktor keturunan berpengaruh besar dalam obesitas, namun kondisi itu dapat diubah dengan melakukan olahraga (secara teratur),” tulis penulis.

Meski demikian, sejumlah olahraga ternyata tidak terlalu baik dalam menghambat risiko genetik obesitas. Jenis olahraga yang dimaksud tersebut antara lain bersepeda, olahraga peregangan, berenang, hingga permainan Dance Dance Revolution (DDR) atau Dance Stage yang memiliki banyak penggemar.

Temuan itu bukan berarti olahraga selain enam jenis olahraga yang efektif melemahkan efek genetika obesitas tersebut tidak dapat membantu pengendalian berat badan. Hanya saja, olahraga selain itu sepertinya tidak mampu mengimbangi penambahan berat badan pada orang-orang yang memiliki gen obesitas.

Menurut para peneliti, bersepeda atau olahraga peregangan yang umum dilakukan masyarakat membutuhkan energi lebih sedikit dibandingkan enam jenis olahraga yang efektif mengurangi risiko obesitas. Olahraga di air yang cenderung dingin, seperti berenang, justru dapat merangsang dan meningkatkan nafsu makan.

Sementara DDR yang banyak digemari berbagai kelompok usia dianggap bukan olahraga formal yang membutuhkan pelatihan secara konsisten seperti ballroom dancing. DDR lebih cenderung dikelompokkan sebagai permainan.

Responden studi juga menyebut melakukan olahraga angkat beban, bulutangkis, tenis, dan bola basket. Namun, penelitian ini tidak dapat menyebutkan apakah jenis-jenis olahraga tersebut mampu mengimbangi risiko yang dibawa oleh gen obesitas.

Selain itu, riset ini hanya dilakukan pada orang keturunan Han, China. Karena itu, apakah hasilnya akan sama jika dilakukan etnis atau ras lain masih membutuhkan studi lebih lanjut.

Sebagai perbandingan, studi yang dipublikasikan di British Medical Journal pada 19 April 2017 menunjukkan bersepeda bisa menekan risiko penyakit jantung dan kanker. Studi itu dilakukan terhadap 250.000 komuter di Inggris selama lima tahun. Hasilnya, mereka yang teratur bersepeda ke kantor memiliki risiko kematian lebih rendah 41 persen dibanding yang tidak teratur bersepeda.

Sementara risiko mereka terkena penyakit kanker dan jantung juga lebih rendah 45 persen dan 46 persen dibanding yang tidak teratur bersepeda ke kantor. Makin jauh jarak dan makin lama waktu yang ditempuh dengan bersepeda maka manfaat kesehatan yang mereka dapat dari bersepeda makin besar.

Obesitas adalah salah satu faktor risiko penyakit kanker dan jantung. Karena itu, hubungan antara bersepeda yang dalam studi di Taiwan dianggap tidak mampu mengimbangi gen obesitas dengan studi di Inggris yang menunjukkan bersepeda baik untuk menekan penyakit kanker dan jantung perlu disikapi secara bijak dan hati-hati.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 5 Agustus 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 1 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB