Home / Berita / Diet dan Aktivitas Fisik Seimbang Cegah Kerusakan Sel

Diet dan Aktivitas Fisik Seimbang Cegah Kerusakan Sel

Kerusakan sel DNA menjadi akar berbagai persoalan kesehatan, mulai dari percepatan penuaan dan meningkatan kerentanan penyakit degeneratif seperti kanker dan demensia. Diet anti-inflamasi dan aktivitas fisik yang cukup bisa meningkatkan kemampuan regenerasi sel sehingga memperlambat proses penuaan.

Kaitan antara kerusakan DNA (deoxyribonucleic acid atau asam deoksiribonukleat), pola makan sehat dan penyakit tidak menular (PTM) ini didiskusikan pada seminar di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jakarta, Kamis (18/7/2019). Pembicara dalam diskusi itu adalah, ahli gizi genomik dari University of South Australia Prof Michael Fenech, peneliti gizi Universitas Gadjah Mada Harry Freitag Luglio Muhammad, dan peneliti senior Lembaga Eijkman Safarina G Malik.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI–Pengunjung mencoba menyusun menu porsi makanan sehat dalam kampanye zona sehat Nestle Indonesia di Jakarta, Kamis (10/4/2014). Penerapan pola makanan sehat menjadi salah satu upaya dalam mengatasi obesitas. Cara yang mudah dalam diet makanan sehat adalah perbandingan yang seimbang antara zat gizi karbohidrat, protein, lemak dan makanan sumber serat seperti sayur dan buah.–KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Fenech menjelaskan, proses penuaan dipicu oleh hilangnya kemampuan sel untuk membelah dan tumbuh. Sel-sel dalam tahap penuaan cenderung menyebabkan penyimpangan atau mutasi kromosom, memiliki panjang telomer yang berlebihan, dan kehilangan integritas DNA mitokondria. Semua ini mempercepat proses penuaan dengan memicu mekanisme penuaan pro-inflamasi.

Menurut Fenech, pola makan yang seimbang menjadi salah satu kunci mengurangi kerusakan DNA. Sebaliknya, asupan nutrisi spesifik seperti vitamin, dapat mengurangi inflamasi atau peradangan dengan menghilangkan sel-sel tua. “Kekurangan ataupun kelebihan nutrisi akan menyebabkan kerusakan DNA yang pada akhirnya akan mempercepat penuaan dan memicu inflamasi,” katanya.

Harry menjelaskan, tingkat inflamasi dalam tubuh seseorang berhubungan erat dengan tingkat obesitas dan penyakit metabolik lainnya, seperti diabetes melitus dan penyakit kardiovaskuler. Di sisi lain, profil inflamasi seseorang dapat menentukan tingkat keberhasilan upaya penurunan berat badan.

Pilihan makanan
Orang yang memiliki profil inflamasi tinggi dapat mempercepat kembalinya berat badan setelah diet (rebound). “Setiap makanan yang kita konsumsi memiliki indeks inflamasi diet (Dietary Inflammatory Index/DII). Jadi, yang penting bukan hanya mengurangi jumlah makanan atau kalorinya, tetapi juga pilihan makanannya,” ungkapnya.

Jenis makanan dan cara mengolahnya dapat mempengaruhi tingkatan DII tersebut. Contoh jenis makanan yang dapat memicu inflamasi adalah karbohidrat, daging merah, dan makanan olahan. Kandungan gula dalam suatu makanan juga merupakan faktor pemicu inflamasi yang banyak di temukan di masyarakat Indonesia. Adapun contoh makanan rendah inflamasi adalah sayur-sayuran, kacang-kacangan, minyak zaitun, teh dan kopi tanpa gula.

“Salah satu yang sering jadi rekomendasi pola makan sehat adalah diet orang Mediterania. Idealnya, dalam sehari 400 gram sayur dan buah dan setengahnya mentah. Atau secara sederhana, porsi sayur yang dimakan sama dengan karbohidrat,” ucapnya.

Menurut Harry, selain pola makan, yang juga menentukan adalah aktivitas fisik. “Misalnya gudeg Yogyakarta yang manis, dulu mungkin dibutuhkan oleh masyarakat yang aktivitas fisiknya tinggi, seperti petani. Tetapi, itu tidak cocok jika dimakan tiap hari oleh masyarakat kota saat ini yang aktivitas fisiknya kurang. Pecel dan karedok contoh diet yang baik,” katanya.

Studi Harry di Yogyakarta menemukan, banyak responden tukang becak yang setiap hari mengonsumsi karbohidrat hingga 4000-6000 kilo kalori, namun karena aktivitas fisiknya sangat tinggi tidak mengalami obesitas. “Jadi, antara pola diet dan aktivitas fisik memang tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.

Semakin Berisiko
Safarina memaparkan, pola hidup masyarakat di Indonesia saat ini meningkatkan risiko terkena PTM, misalnya obesitas yang menjadi pemicu penyakit jantung dan berbagai penyakit lain. “Bahkan, penyakit jantung telah menjadi beban utama dari BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan,” paparnya.

Padahal, PTM dapat dicegah terutama dengan mengatur gaya hidup. Menurut Safarina, Grup Mitokondria dan Penyakit Gaya Hidup di Lembaga Eijkman telah merancang studi Indonesian Model for Epidemic Lifestyle Disease Associations (IMELDA). Tujuannya untuk menyelidiki peran berbagai faktor risiko, seperti genetika, mikrobioma usus, dan gaya hidup terhadap peningkatan prevalensi obesitas dan penyakit metabolik lainnya.

Model pertama dalam IMELDA yang dipelajari adalah orang Bali. Ditemukan bahwa gaya hidup perkotaan dibanding pedesaan, faktor genetika, dan mikrobioma usus, sangat terkait dengan tren obesitas di Bali. Masyarakat Bali di perkotaan lebih rentan obesitas. Hasil lebih lanjut dari meta-analisis mikrobioma dengan populasi dari posisi etno-geografis yang berbeda menempatkan orang Bali di antara populasi industri dan pra-industri.

Sementara dalam studi IMELDA pada orang Punan di Kalimantan Utara ditemukan profil metabolik dan nutrisi berbeda pada tiga suku yang dipelajari, yaitu Punan Tubu, Punan Aput, dan Punan Batu. Suku Punan Tubu, yang direlokasi dan telah menetap di daerah semi-perkotaan selama lebih dari 40 tahun, memiliki profil biokimia darah lebih menyebar dibandingkan suku Punan Aput dan Punan.

Dalam studi mikrobioma usus, ditemukan bahwa suku Punan Tubu dan Punan Aput memiliki komposisi yang berbeda. Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui peran faktor-faktor risiko tripartit seperti disebutkan di atas (genetika, mikrobioma usus, dan gaya hidup) dalam meningkatkan obesitas di masyarakat Indonesia.

“Harapannya, pengetahuan ini dapat menjadi landasan upaya pencegahan dan manajemen obesitas dan epidemi penyakit tidak menular terkait, serta mengembangkan nutrisi presisi dan pengobatan presisi di masa depan,” ujarnya.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 19 Juli 2019

Share
x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: