Home / Berita / Perangkap Obesitas Ekstrem

Perangkap Obesitas Ekstrem

Kasus obesitas ekstrem atau morbid yang dialami Titi Wati (37), ibu rumah tangga asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah, adalah alarm bagi kesehatan Indonesia. Meski obesitas ekstrem jarang, itu adalah puncak gunung es atas terus melonjaknya penduduk, termasuk anak-anak, yang obesitas.

Pada tahun 2016, dua kasus obesitas ekstrem anak yang dialami Arya Permana asal Karawang, Jawa Barat dan Rizki R Ramadhan dari Palembang, Sumatera Selatan, mencuat. Kasus-kasus itu menunjukkan obesitas telah menyebar ke semua daerah, semua umur dan semua kelompok ekonomi.

“Obesitas adalah inti dari berbagai penyakit,” kata Presiden Himpunan Studi Obesitas Indonesia (Hisobi) Dante Saksono Harbuwono di Jakarta, Jumat (11/1/2019).

Obesitas ekstrem tidak hanya dipicu karena banyak makan namun kurang gerak seperti pada kasus obesitas umum. Namun, ada berbagai persoalan kesehatan lain yang bisa membuat seseorang mengalami obesitas tak wajar.

Salah satu kondisi yang membuat seseorang mengembangkan obesitas ekstrem adalah terjadi gangguan metabolik. Gangguan itu membuat metabolisme tubuh seseorang untuk membakar kalori lebih lambat dibanding orang lain. Konsekuensinya, kalori yang tak terbakar disimpan tubuh dalam bentuk lemak.

Sejumlah gangguan metabolik yang memicu obesitas antara lain penurunan fungsi tiroid atau hipotiroid dan gangguan hormon yang memengaruhi sinyal rasa lapar dan kenyang seperti hormon leptin dan ghrelin. Sejumlah orang menderita sindrom Prader-Willi yang membuat ingin makan terus dan sulit kenyang.

Gangguan metabolik itu juga bisa terjadi dalam sistem sistem pencernaan yang membuat seseorang sensitif berlebih menyerap energi hingga glukosa mudah masuk darah.

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIBOWO–Titi Wati (37) digotong tim Tagana Palangkaraya saat menuju ruangannya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Doris Sylvanus Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Jumat (11/1/2019).

Selain itu, persoalan genetik juga bisa memicu obesitas ekstrem. “Kelainan genetik penderita obesitas ekstrem umumnya karena mutasi, bukan yang diturunkan,” kata Dante yang juga Kepala Divisi Metabolik Endokrin, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

KOMPAS/M ZAID WAHYUDI–Dante Saksono Harbuwono, Kepala Divisi Metabolik Endokrin, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Di luar persoalan kesehatan, Sekretaris Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) Tirta Prawita Sari mengatakan penderita obesitas ekstrem, seperti Titi, umumnya mengambangkan gaya hidup keliru sejak awal dan membiarkannya terus terjadi. Situasi itu kian parah jika dalam tubuh pun mengembangkan kondisi yang membuatnya lebih mudah gemuk.

Jika obesitas ekstrem tidak segera ditangani, penderita akan sulit bergerak. Lama tidak bergerak akan memicu atrofi inaktivitas (disuse atrophy) akiabt mengecilnya otot. Pergerakan sendinya pun terbatas hingga makin susah menggerakkan anggota tubuh.

“Berbagai komplikasi akibat obesitas dan produk obesitas membuat risiko kelainan jantung dan pembuluh darah kian besar,” ujar Dante. Ditambah terbatasnya gerak, maka risiko serangan jantung, stroke, hipertensi, diabetes, kanker, hingga gangguan metabolisme kolesterol kian mudah terjadi.

Kelainan jantung itu, lanjut Tirta, terjadi karena jantung harus bekerja lebih keras memompa darah ke pembuluh darah yang terjepit oleh lemak. Mekanisme itu pula bisa membuat penderita meninggal dalam tidur akibat lemak yang besar menekan saluran napas.

Bedah bariatrik
Tindakan medis untuk penderita obesitas ekstrem tingkat lanjut, seperti Titi atau Arya, umumnya dengan bedah saluran pencernaan bernama bedah bariatrik. Tindakan itu dipilih karena obesitas ekstrem sulit diatasi dengan pengobatan, pengaturan diet dan peningkatan aktivitas fisik seperti penderita obesitas umumnya.

Menurut Dante, bedah bariatrik bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti mengurangi volume lambung dengan dijepit atau dipotong, bypass lambung untuk membuat seseorang cepat kenyang, atau dengan memendekkan panjang usus hingga penyerapan kalorinya lebih terbatas.

“Dengan bariatrik, kalori yang diserap tubuh dikurangi,” katanya.

Dalam kasus obesitas ekstrem, sedot lemak atau liposuction bukan pilihan karena akan menyedot lemak tubuh dalam jumlah besar. Tindakan itu bisa memicu penurunan suhu tubuh secara drastis atau hipotermia yang mematikan.

Menurut Tirta yang juga dosen di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta, jika Titi tidak menjalani bedah bariatrik maka risikonya kian besar karena tubuh sudah menginstal sistem baru dengan kadar lemak sangat besar. Akibatnya, penderita tetap sulit mengendalikan nafsu makan.

“Pendampingan psikiater atau psikolog penting hingga penderita kembali bisa mengontrol makannya,” katanya.

NOVRIAN ARBI–Sejumlah tim dokter membawa Arya Permana (10), anak dengan ‘Severe Obesity’ atau Kegemukan yang amat sangat untuk dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung, Jawa Barat, Senin (11/7/2016). Arya Permana, yang berasal dari Kabupaten Karawang, Jawa Barat tersebut, mendapat perawatan selama beberapa waktu untuk memeriksa kesehatan serta melakukan proses penurunan berat badannya yang mencapai 190 Kg.

Namun harus diingat, bariatrik bukan solusi akhir karena mereka tetap bisa gemuk kembali. Bariatrik hanya langkah awal pengurangan berat badan.

Setelah bedah, penderita obesitas ekstrem harus dilatih bergerak hingga bisa berjalan dan melakukan aktivitas harian. Terlebih pada kasus Titi yang sudah tidak bergerak bertahun-tahun. Jika sulit karena masih besarnya berat tubuh yang ditopang, maka bisa dilatih berjalan di kolam renang.

Setelah itu, pola makan penderita harus dikontrol, tinggi serat dan protein, tapi rendah karbohidrat dan lemak. Karena itu, pendampingan dokter dan ahli gizi mutlak diperlukan. Namun pembatasan ini juga jangan sampai menganggu metabolisme tubuh.

Efek samping akibat tindakan bedah bariatrik juga perlu diantisipasi. Ukuran lambung atau usus yang berkurang membuat asupan mikronutrien juga berkurang. Karena itu, penderita perlu mengonsumsi sejumlah suplemen multivitamin dan mineral.

Operasi bariatrik memang jarang dilakukan. Namun, ada beberapa rumah sakit di Indonesia yang bisa melakukan. “Perkeni (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia) siap membantu menangani Titi jika diminta,” kata Dante yang juga Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Perkeni.

KOMPAS–Warga berolahraga di Taman Lansia, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (17/1/2015). Selain pola makan dijaga, rajin berolahraga juga mengurangi obesitas.

Berkaca pada Arya yang kini berat badannya turun, butuh usaha keras setelah operasi bariatrik guna memperoleh berat tubuh ideal. Namun, mencegah sejak awal jauh sebelum obesitas terjadi, tetap pilihan terbaik. Karena itu, usaha ekstra pemerintah diperlukan agar obesitas yang terus meningkat bisa ditahan dan tidak makin membebani negara.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 12 Januari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Tiktok dan ”Techno-nationalism”

Bytedance-Oracle-Walmart sepakat untuk membuat perusahaan baru yang akan menangani Tiktok di AS dan juga seluruh ...

%d blogger menyukai ini: