Home / Berita / Tak Semua Kegemukan Dapat Dikurangi dengan Operasi

Tak Semua Kegemukan Dapat Dikurangi dengan Operasi

Operasi bariatrik atau operasi mengurangi ukuran lambung atau usus untuk kepentingan penurunan berat badan tidak sepenuhnya berhasil karena ada keragaman jenis obesitas atau kegemukan. Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan, operasi bariatrik mungkin paling bermanfaat untuk orang dewasa dengan gangguan makan.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO (WAK)–Para anggota Komunitas Besar (Kombes) Indonesia mengikuti kursus make up singkat di kawasan Serpong, Tangerang, Banten, Sabtu (3/8/2013). Melalui kegiatan tersebut, mereka yang bertubuh gemuk itu berharap bisa merias diri dengan tepat sehingga bisa tampil menarik di tengah masyarakat.

Penelitian berjudul ”Hubungan Subtipe Obesitas dalam Penilaian Studi Longitudinal Bedah Bariatrik dan Perubahan Berat Tiga Tahun Pascaoperasi” itu dimuat dalam jurnal Obesity edisi 13 November 2018 yang juga dipublikasikan sciencedaily.com.

Penelitian dilakukan tim ilmuwan Amerika Serikat, seperti Alison E Field dari Universitas Brown, Thomas H Inge dari Universitas Cincinnati, dan Steven H Belle dari Universitas Pittsburgh.

Tim menganalisis data dari lebih dari 2.400 pasien obesitas yang menjalani operasi penurunan berat badan bariatrik. Peneliti mengidentifikasi setidaknya empat subkelompok pasien yang berbeda yang menyimpang secara signifikan dalam perilaku makan dan tingkat diabetes serta penurunan berat badan dalam tiga tahun setelah operasi.

”Mungkin tidak ada satu peluru ajaib untuk obesitas. Jika ada peluru ajaib, itu akan berbeda untuk kelompok orang yang berbeda,” kata Alison Field.

Field menjelaskan, ada campuran yang sangat beragam dari orang-orang yang dimasukkan ke dalam satu kelompok. Seorang anak yang menjadi sangat gemuk pada usia lima tahun akan sangat berbeda dari seseorang yang secara bertahap bertambah berat badannya dari waktu ke waktu dan pada usia 65 tahun mengalami obesitas.

”Kita perlu mengenali keragaman ini karena dapat membantu kami mengembangkan pendekatan yang lebih personal untuk mengobati obesitas,” ujarnya.

Ini adalah studi pertama yang memeriksa variabel psikologis, seperti pola makan, riwayat berat badan, dan berbagai variabel biologis, termasuk kadar hormon, untuk mengidentifikasi berbagai jenis obesitas.

Tim peneliti menggunakan model komputasi tingkat lanjut untuk mengidentifikasi kelompok pasien yang berbeda di antara lebih dari 2.400 orang dewasa yang menjalani operasi bariatrik antara Maret 2006 dan April 2009.

Mereka menemukan empat kelompok berbeda. Kelompok satu dicirikan oleh rendahnya tingkat liporpotein berdensitas tinggi/high-density lipoprotein (LDL), yang disebut kolesterol ”baik” dan kadar glukosa yang sangat tinggi dalam darah mereka sebelum operasi. Faktanya, 98 persen dari anggota kelompok ini menderita diabetes, berbeda dengan kelompok lain, di mana sekitar 30 persen diabetik.

Kelompok dua dicirikan oleh perilaku makan yang tidak teratur. Secara khusus, 37 persen mengalami gangguan makan. Sebanyak, 61 persen melaporkan merasa kehilangan kontrol atas keinginan makan. Sebanyak 92 persen melaporkan makan ketika mereka tidak lapar.

Field menemukan grup ketiga mengejutkan. Secara metabolik, mereka cukup rata-rata, tetapi mereka memiliki tingkat gangguan makan yang sangat rendah, hanya 7 persen yang melaporkan makan ketika mereka tidak lapar dibandingkan dengan 37 persen untuk kelompok satu, 92 persen untuk kelompok dua dan 29 persen untuk kelompok empat.

Kelompok empat terdiri dari individu yang telah mengalami obesitas sejak kecil. Kelompok ini memiliki indeks massa tubuh atau body mass index (BMI) tertinggi pada usia 18 dengan rata-rata 32, dibandingkan dengan rata-rata sekitar 25 untuk tiga kelompok lainnya. BMI di atas 30 dianggap obesitas, sementara 25 adalah awal dari rentang yang didefinisikan sebagai kelebihan berat badan. Kelompok ini juga memiliki BMI pra-operasi tertinggi, rata-rata 58 dibandingkan dengan sekitar 45 untuk tiga kelompok lainnya.

AFP PHOTO/ STR/CHINA OUT–Dalam foto yang diambil pada 17 Juli 2018 ini terlihat seorang perempuan obesitas sedang melakukan treadmill di klinik pengurangan berat badan di Changchun, Provinsi Jilin, China.

Secara keseluruhan, dalam tiga tahun setelah operasi bariatrik, laki-laki kehilangan rata-rata 25 persen berat badan sebelum operasi dan perempuan kehilangan rata-rata 30 persen. Field dan rekan-rekan menemukan bahwa pasien dalam kelompok dua dan tiga lebih mendapat manfaat dari operasi bariatrik daripada pasien dalam kelompok satu dan empat. Laki-laki dan perempuan dengan gangguan makan kehilangan paling banyak, rata-rata 28,5 persen dan 33,3 persen, masing-masing, dari berat badan pra-operasi.

”Mengidentifikasi kelompok pasien yang berbeda dan memahami karakteristik mereka membantu pengobatan obesitas. Pada perawatan yang ekstrem seperti operasi bariatrik penting untuk mengidentifikasi siapa yang paling diuntungkan dari operasi,” kata Field.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, pria obesitas secara khusus diketahui mengalami tingkat testosteron yang lebih rendah, kepuasan seksual yang lebih rendah, dan mengurangi kesuburan dibandingkan dengan pria dengan berat badan normal. Rata-rata kemungkinan infertilitas pria dikatakan meningkat 10 persen untuk setiap sembilan kilogram seorang pria kelebihan berat badan.

Penelitian yang dilakukan di Kanada oleh Yung Lee dari Universitas McMaster serta Jerry Dang dan Shahzeer Karmali dari Universitas Alberta menemukan bahwa pria yang telah menjalani operasi bariatrik sebagai cara jangka panjang menurunkan berat badan mungkin juga mendapat manfaat dari peningkatan kadar testosteron pascaoperasi.

”Operasi bariatrik tampaknya efektif dalam meningkatkan hormon seks pria dan mengurangi hormon seks perempuan pada pasien laki-laki yang gemuk,” kata Lee.

Operasi bariatrik juga umum dilakukan di Indonesia. Sejumlah rumah sakit di situs web-nya bahkan mengumumkan biaya operasi di atas Rp 100 juta.–SUBUR TJAHJONO

Sumber: kompas, 14 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Endcorona, Aplikasi Deteksi Mandiri Risiko Covid-19 Buatan Mahasiswa UI

Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia berkolaborasi membuat platform self-assessment atau deteksi ...