Home / Berita / Wanita Hamil Tetap Perlu Mengatur Diet dan Berolahraga

Wanita Hamil Tetap Perlu Mengatur Diet dan Berolahraga

Banyak wanita kelebihan berat badan dan obesitas selama kehamilan, yang semakin meningkatkan risiko mereka terhadap komplikasi serius untuk diri mereka dan bayi mereka. Sebuah penelitian di Amerika Serikat menunjukkan, wanita hamil tetap perlu mengatur diet dan berolahraga untuk menjaga berat badan mereka.

KOMPAS/WAWAN PRABOWO–Gerakan Remaja Sayang Ibu (Gemas) bersama Tim PKK Kecamatan Pleret menggelar Senam Massal Ibu Hamil di Gedung Olahraga Pleret, Bantul, DI Yogyakarta, beberapa waktu lalu. Kegiatan diikuti oleh sekitar 500 ibu hamil.

Penelitian berjudul Intervensi Gaya Hidup Membatasi Penambahan Berat Badan pada Wanita Hamil dengan Kegemukan atau Obesitas: Analisis Meta LIFE-Mom itu dimuat dalam jurnal Obesity yang juga dipublikasikan sciencedaily.com pada 7 September 2018.

Penelitian yang didanai Institut Kesehatan Nasional AS menunjukkan bahwa wanita hamil dapat dengan aman membatasi penambahan berat badan mereka dengan intervensi diet dan olahraga. Ini adalah serangkaian uji coba terbesar di AS untuk menargetkan kenaikan berat badan kehamilan wanita yang kelebihan berat badan dan obesitas. Uji coba termasuk beragam kelompok sosioekonomi, yang berarti temuan ini dapat digeneralisasikan untuk populasi yang besar.

”Ini adalah studi penting karena menegaskan bahwa wanita dapat mengubah perilaku untuk mengendalikan jumlah berat yang didapat dalam kehamilan,” kata Alan Peaceman, peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Northwestern, AS.

Tujuh tim peneliti merekrut 1.150 peserta untuk uji LIFE-Mom. Sebanyak 579 wanita diberi intervensi gaya hidup, 571 wanita mengikuti perawatan standar. Penelitian berjalan dari trimester kedua hingga kelahiran. Setiap percobaan menawarkan intervensi gaya hidup yang bervariasi, tetapi semuanya bertujuan meningkatkan kualitas diet dan mengurangi kalori, meningkatkan aktivitas fisik, dan menggabungkan strategi perilaku seperti pemantauan diri.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA–Sebanyak 1.200 ibu hamil mengikuti kegiatan senam massal yophytta maternal di Balai Sudirman, Jakarta, beberapa waktu lalu. Senam yang terdiri dari gabungan yoga, pilates, hypno therapy, dan tai chi tersebut tidak saja menyehatkan, tetapi juga bertujuan membuat ibu hamil lebih rileks, tidak stres, dan siap menghadapi persalinan.

Hasilnya, 62 persen wanita dalam kelompok intervensi, dibandingkan dengan 75 persen pada kelompok kontrol, mengalami kenaikan berat badan kehamilan.

Anjurannya adalah wanita yang kelebihan berat badan membatasi berat badan kehamilan mereka hingga 6,8 kilogram hingga 11,3 kilogram dan wanita yang kegemukan menjadi 5 kg hingga 9 kg, dibandingkan dengan 11,3 kg hingga 16 kg untuk wanita yang tidak kelebihan berat badan.

”Fakta bahwa begitu banyak wanita dalam kelompok intervensi masih melebihi berat badan yang direkomendasikan menunjukkan tantangan mendorong wanita hamil untuk mengikuti diet yang direkomendasikan dan tingkat aktivitas pada saat makan berlebihan dan keengganan untuk berolahraga cenderung meningkat,” kata Peaceman.

KOMPAS/PRIYOMBODO–Ibu-ibu hamil mengikuti senam bagi ibu hamil di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, 16 Oktober 2010.

Dalam studi sebelumnya di Perancis, wanita yang sangat gemuk harus benar-benar menurunkan berat badan selama kehamilan untuk memiliki bayi yang sehat.

Para peneliti di balik penelitian ini berasal dari Centre Hospitalier Universitaire Sud Réunion di Perancis. Penelitian mereka dipublikasikan sciencedaily.com 14 Maret 2018.

Tim merekomendasikan, pedoman saat ini untuk kenaikan berat badan pada kehamilan harus disesuaikan untuk hasil yang lebih baik pada wanita kurus dan sangat gemuk dan bayi mereka.

Ada hubungan kuat antara berat badan ibu dan bayi. Ibu yang sangat kurus cenderung memiliki bayi yang lebih kecil, yang disebut bayi kecil untuk usia kehamilan atau small for gestational age (SGA). Ibu yang mengalami obesitas cenderung memiliki bayi yang lebih besar untuk usia kehamilan atau large for gestational age (LGA).

Bayi-bayi ini berisiko lebih tinggi dari kondisi seperti serangan jantung, hipertensi, obesitas, dan diabetes sebagai orang dewasa daripada bayi yang lahir dengan berat badan normal.

Untuk memastikan bayi memiliki kelahiran yang paling aman dan hidup sehat mungkin, ada pedoman merekomendasikan kenaikan berat badan yang ideal selama kehamilan berdasarkan indeks massa tubuh atau body mass index (BMI).

Pedoman ini, yang ditetapkan oleh Institut Kedokteran AS pada tahun 2009, telah mengalami kontroversi. Di negara-negara di mana perempuan pada umumnya lebih kecil, seperti Jepang dan Korea, penyedia layanan kesehatan telah menyarankan kenaikan berat badan di bagian bawah spektrum tidak cukup. Dengan meningkatnya beban obesitas di banyak negara, telah disarankan bahwa wanita yang sangat gemuk seharusnya sebenarnya menurunkan berat badan selama kehamilan.

Untuk menguji klaim ini, tim melakukan penelitian observasional 16,5 tahun. Mereka mencatat BMI pra-kehamilan, berat badan, dan berat bayi dari 52.092 wanita yang melahirkan pada masa penuh. Penemuan pertama adalah bahwa hanya wanita dengan BMI normal memiliki risiko yang seimbang memiliki bayi SGA atau LGA (keduanya 10 persen risiko); mereka menyebut titik persimpangan ini sebagai Simbiosis Kegemukan Janin-Ibu atau Maternal Fetal Corpulence Symbiosis (MFCS).

Menurut penelitian, seorang wanita dengan BMI 17 harus mendapatkan kenaikan berat badan sekitar 22 kg, bukan yang direkomendasikan 12,5-18 kg. Seorang wanita gemuk dengan BMI 32 harus menaikkan berat badan 3,6 kg bukan yang direkomendasikan 5-9 kg. Wanita yang sangat gemuk dengan BMI 40 harus benar-benar kehilangan berat badan 6 kg.

”Kami terkejut menemukan hubungan linear antara BMI, kenaikan berat badan dan MFCS,” kata Pierre-Yves Robillard, peneliti studi ini.

Hasil penelitian ini akan sangat memudahkan pendekatan individual ketika menasihati para wanita tentang berat badan optimal mereka.-SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 8 September 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: