Diteliti, Mengapa Orang Kurus Tetap Langsing

- Editor

Senin, 28 Januari 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penelitian terhadap obesitas biasa dilakukan ilmuwan, tetapi penelitian terhadap orang kurus jarang dilakukan. Sejumlah ilmuwan di Inggris menemukan, orang kurus tetap bisa langsing karena risiko genetik untuk menjadi obesitas lebih rendah dibandingkan orang gemuk.

PANDU WIYOGA UNTUK KOMPAS–Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi (Pushidrosal) TNI AL Laksamana Muda Harjo Susmoro saat menghadiri peringatan Hari Dharma Samudra di atas KRI dr Soeharso-990 yang bersandar di Dermaga Sunda Pondok Dayung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (15/1/2019). Orang kurus cenderung tetap langsing karena faktor genetik.

Penelitian berjudul ”Arsitektur Genetik Kekurusan Manusia Dibandingkan dengan Obesitas Parah” itu dimuat dalam jurnal PLOS Genetics edisi 24 Januari 2019 yang juga dipublikasikan Sciencedaily.com. Penelitian dilakukan tim ilmuwan Universitas Cambridge, Inggris.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam laporan penelitian disebutkan, sedikit yang diketahui tentang karakteristik genetik spesifik individu yang tetap kurus. Definisi kurus adalah indeks massa tubuh atau body mass index (BMI) ?18kg/m2. Definisi obesitas adalah orang dengan BMI > 30 kg/m2.

Sebuah penelitian besar terhadap 7.078 anak-anak dan remaja di Inggris sebelumnya menemukan bahwa prediktor terkuat dari kurusnya anak remaja adalah status berat badan orangtua. Prevalensi kekurusan tertinggi (16,2 persen) ketika kedua orangtua kurus dan semakin rendah ketika kedua orangtua memiliki berat badan normal, kelebihan berat badan atau obesitas (Whitaker KL, et al, 2011).

KOMPAS/ZAINUDDIN ISMAN–Dua keluarga asal Jawa Barat menjadi transmigran di Kalimantan Barat, 29 September 1984. Kekurusan merupakan hal yang diturunkan secara genetik.

Dalam studi terbaru, sebuah tim yang dipimpin oleh Sadaf Farooqi dari Universitas Cambridge memeriksa mengapa dan bagaimana beberapa orang merasa lebih mudah untuk tetap kurus daripada orang lain.

Tim merekrut 1.622 orang yang kurus tetapi sehat, tanpa kondisi medis atau gangguan makan. Mereka mengambil sampel air liur untuk memungkinkan analisis DNA dan meminta peserta untuk menjawab pertanyaan tentang kesehatan dan gaya hidup mereka secara umum. Tim membandingkan DNA orang kurus dengan DNA 1.985 orang sangat gemuk dan 10.433 lainnya sebagai kontrol berat badan normal.

Sebanyak tiga dari empat orang (74 persen) dalam kelompok orang kurus memiliki riwayat keluarga yang kurus dan sehat. Tim menemukan beberapa varian genetik umum yang sudah diidentifikasi berperan dalam obesitas. Selain itu, mereka menemukan daerah genetik baru yang terlibat dalam obesitas parah dan beberapa yang terlibat dalam kekurusan yang sehat.

KOMPAS–Beragam upaya dilakukan oleh sejumlah perempuan untuk menghindari kegemukan. Salah satunya dengan metode pelangsingan electro lipolysis with IR therapy seperti yang ada di klinik kecantikan Jean Yip Beauty and Slimming di Mal Pondok Indah, Jakarta Selatan, Jumat (2/8/2013). Namun, kekurusan merupakan faktor genetik.

”Kami menemukan bahwa orang gemuk memiliki skor risiko genetik yang lebih tinggi daripada orang dengan berat badan normal, yang berkontribusi terhadap risiko kelebihan berat badan,” kata Ines Barroso, peneliti lain dari Universitas Cambridge.

Yang penting juga, tim menunjukkan bahwa orang kurus memiliki skor risiko genetik yang jauh lebih rendah. Orang-orang kurus memiliki lebih sedikit varian genetik yang meningkatkan peluang seseorang menjadi kelebihan berat badan.

”Penelitian ini menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa orang kurus yang sehat umumnya kurus karena mereka memiliki beban gen yang lebih rendah yang meningkatkan peluang seseorang menjadi kelebihan berat badan dan bukan karena mereka secara moral unggul, seperti yang disarankan beberapa orang,” kata Farooqi.

Menurut tim peneliti, memahami mekanisme yang mendasari kekurusan atau resistensi terhadap obesitas dapat menjadi peluang pembuatan obat anti-obesitas baru pada masa depan.

Oleh SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 25 Januari 2019

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 13 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB