Home / Berita / Pemanfaatan Hayati Indonesia Tertinggal

Pemanfaatan Hayati Indonesia Tertinggal

Enam Tokoh Inspiratif Dianugerahi Penghargaan Kehati
Pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia masih tertinggal jauh. Padahal, Indonesia berlimpah keanekaragaman hayati. Untuk memanfaatkan dan mengelola keanekaragaman hayati agar berkelanjutan, dibutuhkan akal, pikiran, dan inovasi.


Anggota Dewan Pengurus Yayasan Kehati, Endang Sukara, utusan Indonesia yang memimpin negara-negara Asia Pasifik di konvensi keanekaragaman hayati global, menyatakan tak bisa berbuat banyak. Itu karena tak ada perangkat pendukung, mulai dari sumber daya manusia hingga dana. ”Sampai saat ini, pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia secara ekonomis masih amat kurang,” kata Endang pada penganugerahan Kehati Award VIII di Jakarta, Rabu (28/1).

Singapura, menurut Endang, negeri yang minim keanekaragaman hayati justru bisa memanfaatkannya, antara lain untuk pengobatan. Indonesia masih jauh tertinggal dari negara-negara maju dalam pemanfaatannya.

Implementasi memasukkan keanekaragaman hayati ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional butuh waktu panjang. Hingga kini, Strategi dan Rencana Aksi Kehati Indonesia (IBSAP) tak juga selesai.

Mantan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Emil Salim menegaskan, banyak persoalan dihadapi manusia. Tanpa dukungan akal pikiran, ilmu pengetahuan, dan inovasi, kapasitas Bumi tak akan cukup mendukung kehidupan manusia.

Nilai tambah
Ilmu pengetahuan dibutuhkan untuk meningkatkan nilai tambah keanekaragaman hayati demi memperoleh manfaat ekonomi. Di sisi lain, keanekaragaman hayati bisa jadi modal kuat pengembangan ekonomi berbasis nonkomoditas.

Indonesia saatnya beralih ke pengembangan ekonomi berbasis nonkomoditas karena ekonomi berbasis komoditas, seperti tambang, akan terus berkurang.

Emil Salim dalam pidato kuncinya mengungkapkan, kapasitas Bumi mendukung kehidupan hanya cukup untuk 5 miliar manusia. Adapun proyeksi penduduk dunia mencapai 9 miliar pada 2050. Itu butuh dua Bumi untuk mendukung kehidupan manusia.

”Jalan keluarnya harus dicari. Manusia bisa menggunakan otak, akal, dan pikiran untuk memecahkan masalah tersebut. Alam telah menyediakan obat, makanan, dan sebagainya. Yang dibutuhkan otak, ilmu, dan kreativitas agar itu cukup,” tuturnya.

Pada jumpa pers sebelumnya, Endang mengatakan, keanekaragaman hayati bisa menjadi mesin ekonomi dan Indonesia bisa menjadi amat kaya. ”Keanekaragaman hayati Indonesia unik dan luar biasa besar jumlahnya,” ujarnya. Kekayaan hayati Indonesia masuk tiga besar dunia setelah Brasil dan Kongo. Namun, keanekaragaman itu harus diolah menggunakan ilmu pengetahuan dan inovasi.

Salah satu juri Kehati Award, Yono Reksoprodjo, menyebutkan, kini saatnya mengembangkan ekonomi berbasis nonkomoditas, yaitu komoditas bernilai tambah. Perusahaan hendaknya memiliki perilaku selalu mau menggali kekayaan alam sendiri.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Yayasan Kehati MS Sembiring mengatakan, nilai tambah kekayaan hayati Indonesia mensyarakatkan kerja sama antarsektor. Pemerintah atau swasta tak bisa berjalan sendiri.

Tokoh inspiratif
Kemarin, Yayasan Kehati menetapkan enam orang dan komunitas menerima Kehati Award pada enam kategori. Mereka merupakan tokoh inspiratif dalam pengelolaan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati.

Kepedulian Aziil Anwar terhadap kondisi desanya, Desa Binanga, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, misalnya, membawanya sebagai penerima Kehati Award kategori Prakarsa Lestari Kehati. Ia memprakarsai penanaman mangrove dan membangun Mangrove Learning Centre untuk mencegah bencana akibat tsunami.

Adapun Januminro, menerima penghargaan kategori Pendorong Lestari Kehati. Sebagai pegawai negeri, ia mendorong masyarakat memulihkan kawasan bekas kebakaran hutan di lahan gambut, yang kini menjadi Hutan Hak Milik Jumpun Pambelon.

Penghargaan Peduli Lestari Kehati diberikan kepada Ambarwati Esti, dari Bintaro, Kota Tangerang Selatan. Penghargaan Cipta Lestari Kehati diberikan kepada Achmad Subagio, sedangkan penghargaan Citra Lestari Kehati diraih Agustinus Sasundu yang membuat alat musik dari bambu tutul. Kelompok Studi Ekosistem Mangrove Teluk Awur mahasiswa Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Diponegoro mendapat anugerah Tunas Lestari Kehati.

”Bukan berarti para finalis lain kurang berprestasi. Mereka memiliki karya dan keunggulan masing-masing. Kami harus memilih berdasarkan sejumlah indikator,” kata Ketua Dewan Juri Eko Baroto. (ICH/ISW)

Sumber: Kompas, 29 Januari 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: