Pemanfaatan Energi Terbarukan pada Sektor Pertahanan Didorong

- Editor

Kamis, 2 Mei 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemanfaatan energi baru dan terbarukan berpotensi untuk diterapkan pada fasilitas sektor pertahanan. Potensi ini dinilai semakin tinggi dengan berkembangnya teknologi pada era revolusi industri 4.0.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral FX Sutijastoto mengatakan, sektor pertahanan punya peranan besar dalam penggunaan energi. Namun, sebagian besar kebutuhan listrik mereka masih ditopang oleh pembangkit listrik konvensional.

KOMPAS/RHAMA PURNA JATI–Pembangkit listrik tenaga surya di Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (23/4/2019), menjadi salah satu bentuk energi baru terbarukan yang terus dikembangkan. Sampai saat ini baru 9 persen pembangunan energi baru terbarukan yang dbangun dari 23 persen energi baru terbarukan yang ditargetkan selesai sampai tahun 2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Pada wilayah terpencil, seperti di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Utara, sebagian besar kebutuhan listrik masih mengandalkan pembangkit konvensional. Padahal, biaya untuk mengalirkan listrik ke wilayah terpencil cukup mahal karena jauhnya akses wilayah,” ucap Sutijastoto dalam Seminar Nasional Perwira Siswa Sekolah Komando Angkatan Udara Angkatan Ke-105, di Jakarta Timur, Selasa (30/4/2019).

KOMPAS/ADITYA DIVERANTA–Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Minera, FX Sutijastoto

Ia mengatakan, kendala akses wilayah dapat diatasi dengan potensi energi baru dan terbarukan (EBT). Sebagai contoh, pada era revolusi industri 4.0, banyak negara yang menerapkan diversifikasi EBT, mulai dari tenaga panas bumi, bioenergi, surya, angin, air, dan arus gelombang laut.

Sebagai contoh, pembangkit listrik dari panel surya atap dapat dimanfaatkan di wilayah terpencil. Setiap satu panel surya atap menghasilkan pasokan sekitar 10 kilowatt peak. Jumlah sebesar itu, menurut dia, dapat dimanfaatkan untuk aliran listrik pada prasarana jalan, seperti lampu penerangan.

Dari situ, kebutuhan listrik yang lebih besar kemudian dapat dipenuhi dengan diversifikasi EBT. Selain tenaga surya, pasokan listrik dapat dipenuhi dengan pembangkit tenaga angin dan panas bumi.

–Potensi Energi Baru Terbarukan

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Yuyu Sutisna mengatakan, diversifikasi energi melalui EBT sebenarnya sudah mulai dilakukan tahun ini. TNI AU bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah membuat proyek percontohan Pos Satuan Radar yang didukung dengan energi surya.

Selain itu, ia menambahkan, kendaraan operasional di semua satuan radar dan pangkalan udara ingin diperbarui dengan kendaraan bertenaga listrik.

”Hal ini masih diuji coba secara bertahap. Ke depan, kami juga ingin mengarahkan penggunaan EBT tersebut pada 21 Pos Satuan Radar di wilayah terpencil,” ujar Yuyu.

KOMPAS/ADITYA DIVERANTA–Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Yuyu Sutisna

Target
Sutijastoto mengatakan, EBT yang diterapkan di Indonesia saat ini baru sekitar 9,42 gigawatt. Jumlah ini masih sangat sedikit apabila melihat total potensi EBT di Indonesia yang dihitung oleh ESDM, yakni mencapai 442 gigawatt.

Ia menargetkan, penerapan EBT dapat ditingkatkan hingga 23 persen dari potensi total pada 2025. Untuk mengejar hal ini, Kementerian ESDM telah menargetkan sejumlah program pemberdayaan EBT.

”Tahun ini Kementerian ESDM menargetkan 50.000 penerangan jalan umum sudah menggunakan perangkat panel surya. Secara total, pasokan listrik dari EBT kami harap mencapai target sebesar 45,2 gigawatt hingga tahun 2025,” kata Yuyu.

Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia Surya Darma mengatakan, penerapan EBT di Indonesia perlu segera dilakukan. Sebab, selama ini Indonesia hanya mengandalkan komoditas sumber daya alam untuk berbagai macam kebutuhan. Apabila masih seperti itu, ia memprediksi pada 2030 stok sumber daya alam Indonesia akan semakin menipis.

”Logikanya, kalau sumber daya alam digunakan untuk berbagai hal, baik untuk pembangkit listrik, bahan bakar kendaraan, maupun sebagai komoditas impor, semuanya akan habis. Tidak menutup kemungkinan kalau nanti tahun 2030 kita malah mengimpor sumber daya alam dari negara lain,” ungkapnya.–ADITYA DIVERANTA

Sumber: Kompas, 30 April 2019

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 17 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB