Pengembangan Energi Terbarukan Lambat

- Editor

Kamis, 9 April 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Porsi penggunaan energi terbarukan di Indonesia berbanding terbalik dengan potensi energi terbarukan yang sangat besar. Energi terbarukan hanya 6 persen dari total penggunaan energi primer, atau sekitar 17 persen dari total bauran energi listrik. Padahal, Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional menargetkan energi terbarukan mencapai 23 persen dari total bauran energi primer.

“Energi terbarukan adalah masa depan kita, dan Indonesia memiliki banyak sumber, seperti tenaga matahari. Indonesia perlu segera mengadopsi,” kata Director General World Renewable Energy Network Ali Sayigh dalam peluncuran World Renewable Energy Congress ke-15, Rabu (8/4), di Jakarta. Kongres itu akan diadakan September 2016.

Sayigh menilai, Indonesia lambat mengembangkan energi terbarukan. Pada 2013, Indonesia tidak menambah daya listrik yang berasal dari energi terbarukan, seperti dari panas bumi. Namun, Filipina menambah 20 gigawatt (GW), Kenya menambah 36 GW, dan Selandia Baru menambah 196 GW.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Padahal, potensi energi terbarukan di Indonesia sangat besar, seperti panas matahari. Panas matahari di Indonesia menghasilkan 4,8 kilowatt per jam (kWh) per meter persegi. Untuk menghasilkan listrik hingga 6 GW, dibutuhkan lahan 7.920 kilometer persegi. “Indonesia perlu melihat negara lain dalam mengembangkan energi panas matahari,” kata Sayigh.

Menurut Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Marice Hutapea, pemerintah akan mendorong sumber energi terbarukan dari air dan panas bumi.

Pengamat kelistrikan Herman Darnel Ibrahim mengatakan, target 23 persen dalam PP No 79/ 2014 cukup berat dipenuhi. “Kita lihat dari program 35.000 MW, porsi energi terbarukan tidak sampai 1.000 MW,” katanya.

Bisnis Sucofindo
Direktur Utama PT Sucofindo (Persero) Bachder Djohan mengatakan, PT Sucofindo terus mengembangkan sektor bisnis baru, seperti di bidang minyak dan gas bumi (migas), termasuk energi baru dan terbarukan.

Direktur Keuangan dan Sumber Daya PT Sucofindo Beni Agus Permana menambahkan, PT Sucofindo mengembangkan sektor bisnis baru, seperti akuisisi data, terutama di sektor migas bumi dan pertambangan, serta survei potensi sektoral dengan teknologi pesawat tanpa awak (drone).

“Äkuisisi data itu misalnya terkait data strategis mengenai cadangan minyak dan geotermal,” kata Beni dalam kunjungan ke harian Kompas di Jakarta, Rabu (8/4). Selama ini, data strategis lebih banyak ditangani perusahaan asing. (CAS/FER)
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 April 2015, di halaman 19 dengan judul “Pengembangan Energi Terbarukan Lambat”.

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 67 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB