Home / Berita / Pengembangan Energi Terbarukan Lambat

Pengembangan Energi Terbarukan Lambat

Porsi penggunaan energi terbarukan di Indonesia berbanding terbalik dengan potensi energi terbarukan yang sangat besar. Energi terbarukan hanya 6 persen dari total penggunaan energi primer, atau sekitar 17 persen dari total bauran energi listrik. Padahal, Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional menargetkan energi terbarukan mencapai 23 persen dari total bauran energi primer.

“Energi terbarukan adalah masa depan kita, dan Indonesia memiliki banyak sumber, seperti tenaga matahari. Indonesia perlu segera mengadopsi,” kata Director General World Renewable Energy Network Ali Sayigh dalam peluncuran World Renewable Energy Congress ke-15, Rabu (8/4), di Jakarta. Kongres itu akan diadakan September 2016.

Sayigh menilai, Indonesia lambat mengembangkan energi terbarukan. Pada 2013, Indonesia tidak menambah daya listrik yang berasal dari energi terbarukan, seperti dari panas bumi. Namun, Filipina menambah 20 gigawatt (GW), Kenya menambah 36 GW, dan Selandia Baru menambah 196 GW.

Padahal, potensi energi terbarukan di Indonesia sangat besar, seperti panas matahari. Panas matahari di Indonesia menghasilkan 4,8 kilowatt per jam (kWh) per meter persegi. Untuk menghasilkan listrik hingga 6 GW, dibutuhkan lahan 7.920 kilometer persegi. “Indonesia perlu melihat negara lain dalam mengembangkan energi panas matahari,” kata Sayigh.

Menurut Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Marice Hutapea, pemerintah akan mendorong sumber energi terbarukan dari air dan panas bumi.

Pengamat kelistrikan Herman Darnel Ibrahim mengatakan, target 23 persen dalam PP No 79/ 2014 cukup berat dipenuhi. “Kita lihat dari program 35.000 MW, porsi energi terbarukan tidak sampai 1.000 MW,” katanya.

Bisnis Sucofindo
Direktur Utama PT Sucofindo (Persero) Bachder Djohan mengatakan, PT Sucofindo terus mengembangkan sektor bisnis baru, seperti di bidang minyak dan gas bumi (migas), termasuk energi baru dan terbarukan.

Direktur Keuangan dan Sumber Daya PT Sucofindo Beni Agus Permana menambahkan, PT Sucofindo mengembangkan sektor bisnis baru, seperti akuisisi data, terutama di sektor migas bumi dan pertambangan, serta survei potensi sektoral dengan teknologi pesawat tanpa awak (drone).

“Äkuisisi data itu misalnya terkait data strategis mengenai cadangan minyak dan geotermal,” kata Beni dalam kunjungan ke harian Kompas di Jakarta, Rabu (8/4). Selama ini, data strategis lebih banyak ditangani perusahaan asing. (CAS/FER)
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 April 2015, di halaman 19 dengan judul “Pengembangan Energi Terbarukan Lambat”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: