Home / Berita / Kerja Sama Maksimalkan Energi Terbarukan

Kerja Sama Maksimalkan Energi Terbarukan

Pengembangan energi terbarukan yang ditargetkan mencapai 23 persen pada 2025 perlu melibatkan swasta. Saat ini pemanfaatan energi terbarukan masih rendah yakni 2 persen.

Potensi energi terbarukan Indonesia 441,7 gigawatt (GW) bersumber dari panas bumi, bioenergi, air, angin, surya, dan samudera. Adapun pembangkit dari energi terbarukan yang terpasang 9,1 GW hingga tahun 2017.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbaru Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Harris, Rabu (14/11/2018), di Jakarta, mengatakan, pemerintah berkomitmen mewujudkan energi berkeadilan berdasarkan ketersediaan, keterjangkauan, dan berdampak pada pembangunan berkelanjutan.

FRANSISKUS WISNU W DANY UNTUK KOMPAS–Forum Bisnis Energi Terbarukan memperingati 60 tahun hubungan diplomatik Jepang-Indonesia di Jakarta, Rabu (14/11/2018).

Penggunaan energi terbarukan dilakukan secara maksimal dan mengutamakan efisiensi serta konservasi untuk mengurangi emisi. ” Pemerintah mendorong dan memaksimalkan energi terbarukan melalui kebijakan energi nasional. Dibutuhkan 45 GW untuk mencapai target pada 2025,” kata Harris, dalam peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Jepang dan Indonesia.

Beberapa upaya dilakukan pemerintah demi mencapai target tersebut yakni pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Sidrap berkapasitas 75 megawatt (MW) dan PLTB Jeneponto Tolo-1 berkapasitas 72 MW di Sulawesi Selatan serta pembangunan PLTS Apung Cirata berkapasitas 200 MW di Jawa Barat.

Pemerintah juga berupaya meningkatkan rasio elektrifikasi dari 98,05 persen menjadi 100 persen pada 2020. Saat ini, ada 2.519 desa di 15 provinsi yang belum tersentuh listrik. Hal tersebut menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan dengan memanfaatkan energi terbarukan.

KOMPAS/NINA SUSILO–Presiden Joko Widodo meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap, di Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, Senin (2/7/2018). Bersamaan dengan itu, diresmikan pula dua PLTU yakni PLTU Punagaya, Kabupaten Jeneponto yang berkapasitas 2×100 MW dan dibangun sejak tiga tahun lalu serta PLTU Jeneponto Ekspansi 2×135 MW.

Swasta terlibat
Pemerintah juga mendorong keterlibatan swasta dalam energi terbarukan agar pemanfaatan semakin optimal. Menurut Haryanto, Direktur Konservasi Energi, potensi energi terbarukan membutuhkan sarana dan prasarana penunjang. Pemerintah membutuhkan dukungan swasta untuk menyediakan hal itu.

“Tantangan yang dihadapi adalah teknologi pendukung lokal yang belum maksimal. Teknologi dan alat sangat mahal dan pinjaman lunak juga terbatas. Butuh dukungan swasta yang punya sumber daya dan juga pengalaman,” ucapnya.

Pemerintah melakukan perbaikan dan penyederhanaan regulasi perizinan, aplikasi daring untuk pengurusan data, dan pemberian instrumen fiskal pada proyek energi terbarukan. Itu dilakukan untuk menarik minat swasta terlibat dalam energi terbarukan.

FRANSISKUS WISNU W DANY UNTUK KOMPAS–Masahide Shima, Managing Director of Energy Conservation Center Japan (tengah) menjelaskan tentang forum bisnis energi terbarukan dalam peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Jepang-Indonesia di Jakarta, Rabu (14/11/2018).

Kerja sama
Dalam peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Jepang dengan Indonesia, diadakan forum bisnis energi terbarukan yang melibatkan Kementerian Ekonomi Perdagangan dan Industri Jepang (METI), Kedutaan Jepang, Kementerian ESDM, dan pelaku usaha sektor energi dari kedua negara.

Masahide Shima, Managing Director of Energy Conservation Center Japan mengatakan, penting untuk menjaga ketersediaan dan memenuhi permintaan energi. Jepang menerapkan pemanfaatan energi campuran agar kedua hal tersebut seimbang. Energi campuran merupakan pengoptimalan terhadap sebuah pembangkit listrik.

“Panas yang dihasilkan dari pembangkit listrik dengan energi terbarukan dimanfaatkan dalam bentuk energi lain. Itu bentuk efisiensi. Juga pengoptimalan teknologi dan koordinasi, manajemen kebutuhan untuk pasokan, dan aturan serta standar ketat,” ujarnya.

Selain itu, pengembangan riset dan kerja sama internasional guna pertukaran ilmu pengetahuan dalam pengelolaan energi terbarukan dibutuhkan. Melalui forum tersebut diharapkan terjadi transfer ilmu pengetahuan dan teknologi serta terjalin kesepakatan untuk mengoptimalkan energi terbarukan di Indonesia. (FRANSISKUS WISNU WARDHANA DHANY)–EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 15 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antarktika 90 Juta Tahun Lalu Berupa Hutan Hujan Beriklim Sedang

Pada 90 juta tahun lalu, benua Antarktika masih berupa hutan hujan beriklim sedang. Kini, Antarktika ...

%d blogger menyukai ini: