Home / Berita / Operasi Hujan Buatan Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan

Operasi Hujan Buatan Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan

Untuk mengantisipasi munculnya pencemaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan, sejak 30 Juli 2018 Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di Provinsi Sumatera Selatan. Sebelumnya operasi yang sama telah dilaksanakan pada 16 Mei hingga 9 Juni 2018.

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT, Tri Handoko Seto menjelaskan hal itu, Jumat (3/8/2018), di Jakarta. “Sore, jam 15.00 WIB, apel kesiapsiagaan Karhutla diadakan di Sumsel. Pembina apel Panglima TNI dan Kapolri,” kata Tri.

Dalam beberapa minggu terakhir kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera Selatan yang ditunjukkan citra satelit dengan titik panas atau hotspot mengalami peningkatan. Kebakaran di areal lahan gambut ini berpotensi menimbulkan pencemaran asap.

Liputan asap yang meningkat dan meluas dikhawatirkan membatasi jarak pandang hingga mengganggu keselamatan penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Polusi asap juga dapat mengganggu pelaksanaan Asian Games 2018 di Palembang mulai 18 Agustus 2018.

KOMPAS/IRENE SARWINDANINGRUM (IR) –Pesawat jenis cessna yang akan menyemai bibit hujan buatan mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, Sumatera Selatan, Senin (12/9/2011). Program hujan buatan guna memadamkan kebakaran lahan akan dilakukan di tiga provinsi, yaitu Sumatera Selatan, Riau, dan Kalimantan Tengah selama 30 hari ke depan.–Kompas/Irene Sarwindaningrum

Penerapan TMC di Sumatera Selatan dilaksanakan sejak 30 Juli 2018 hingga 2 Agustus 2018. “Hingga Kamis (2/8) telah dilakukan tujuh sorti penerbangan penyemaian awan dan menghasilkan volume air sebesar 30,7 juta meter kubik,” kata Tri. Rekapitulasi selama kegiatan TMC dari tanggal 16 Mei 2018 hingga 2 Agustus 2018 telah dilakukan sebanyak 39 sorti penerbangan dengan jumlah volume air yang dihasilkan 301,1 juta meter kubik.

Kegiatan penyemaian awan didukung oleh 2 pesawat CASA yaitu 1 pesawat CASA milik PT Pelita Air Service dengan kode registrasi PK-PCT dan 1 pesawat CASA milik TNI AU dengan kode registrasi A-2105. Operasi TMC ini dikendalikan dari Posko yang bertempat di Lanud Sri Mulyono Herlambang Palembang.

Untuk membantu pengamatan cuaca dan kondisi awan di wilayah target, telah ditempatkan personel di 2 lokasi Pos Pengamatan Meteorologi (Posmet), yaitu di daerah Kayu Agung dan Sekayu. Hasil pengamatan cuaca dan potensi awan hujan ini dilaporkan setiap saat oleh petugas di Posmet kepada Tim Pelaksana di Posko, untuk dianalisis dan dijadikan sebagai masukan guna menentukan strategi pelaksanaan penyemaian awan setiap harinya.

Pihak BPPT juga bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk memanfaatkan data radar cuaca Stasiun Meteorologi Palembang.

Potensi hujan dan angin kencang
Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Nurhayati, menjelaskan ada potensi hujan dan angin kencang di Sumatera Selatan pada tiga hari mendatang. Kehadiran TMC diharapkan akan mendukung dalam ‘menjaga kelembaban’ di daerah gambut khususnya di Kabupaten OKI.

Peluang keberhasilan modifikasi cuaca didukung dengan ketersediaan massa udara basah yang saat ini masih mendominasi daerah Sumsel. “Karena tanpa adanya inti kondensasi berupa awan konvektif, TMC pun tidak akan berhasil,” ujar Nurhayati.

Selain di Sumsel, menurut Tri Handoko, operasi TMC dilakukan di Riau dan Kalimantan Barat. Untuk itu BPPT berkoordinasi dengan BNPB selaku kuasa anggaran.

Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan untuk mendukung Asian Games di Sumsel, BNPB mengerahkam 10 helikopter water bombing untuk mendukung Satgas udara dalam pengendalian Karhutla.

“Saat ini 7 heli sudah beroperasi di Palembang dan setiap hari digunakan untuk pemadaman dari udara dan patroli udara. Tiga helikopten sedang disiapkan sehingga sebelum Asian Games 10 helikopter sudah siap,” jelasnya. Untuk TMC, BNPB mengeluarkan dana Rp 30,9 milyar yang diambil dari dana siap pakai BNPB.

Saat ini 7 heli sudah beroperasi di Palembang dan setiap hari digunakan untuk pemadaman dari udara dan patroli udara. Tiga helikopten sedang disiapkan sehingga sebelum Asian Games 10 helikopter sudah siap.

Operasi Hujan buatan
Teknologi ini merupakan upaya manusia mengintervensi sistem awan untuk meningkatkan intensitas curah hujan atau mempercepat proses hujan di suatu tempat, jelas Tri.

TMC dilakukan dengan meniru proses alamiah yang terjadi di dalam awan. Sejumlah partikel higroskopik yang dibawa dengan pesawat sengaja ditambahkan langsung ke dalam awan jenis Cumulus (awan hujan) agar proses pengumpulan tetes air di dalam awan segera dimulai. Bahan semai yang digunakan adalah garam (NaCl) berbentuk powder dengan ukuran butir yang sangat halus (orde mikron).

KOMPAS/JUMARTO YULIANUS (JUM)–Anggota tim teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk hujan buatan memasang perlengkapan penyemaian awan di dalam pesawat CN 295 milik TNI Angkatan Udara di Pangkalan Udara Syamsudin Noor Banjarmasin di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Selasa (20/10/2015).–Kompas/Jumarto Yulianus

Dengan terjadinya pembesaran tetes air di tubuh awan maka proses hujan menjadi lebih cepat dan menghasilkan curah hujan yang lebih banyak, papar Tri. Selama operasi TMC Total sudah lebih dari 35 ton garam yang disemai.

Dalam hal ini, hujan yang terjadi diharapkan akan dapat mengisi embung-embung, pembasahan tanah dan bahkan hujan tersebut akan memadamkan sejumlah hotspot yang ada dan menipiskan kabut asap sehingga meningkatkan visibility (jarak pandang) yang kerap mengganggu kesehatan dan aktivitas penerbangan.

Peranan TMC untuk mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan telah tertuang dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2015 tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, dimana Presiden RI memberikan instruksi kepada Menteri Riset dan Teknologi untuk melakukan koordinasi dalam pemberian bantuan penanganan kebakaran hutan dan lahan dengan menggunakan teknologi pembuatan hujan buatan. (YUN)–YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas, 4 Agustus 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: