Nobel Kedokteran 2016; Anugerah bagi Pembuka Tabir Otofagi

- Editor

Selasa, 4 Oktober 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Profesor dari Tokyo Institute of Technology, Yoshinori Ohsumi, dianugerahi Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran. Penghargaan itu diberikan karena ia telah mengungkap mekanisme otofagi, proses fundamental dalam degradasi dan daur ulang komponen sel.

Pengumuman itu disampalkan Sekretaris Komite Nobel Prof Thomas Perlmann di Stockholm, Swedia, Senin (3/10).

Ketua Komite Nobel Prof Juleen Zierath menyampaikan, kata autophagy atau otofagi berasal dari bahasa Yunani auto yang berarti sendiri dan phagein yang berarti memakan. ”Jadi, otofagi diartikan sebagai upaya sel mendaur ulang komponen-komponen dalam dirinya,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Konsep otofagi dikenal ilmuwan sejak tahun,1960-an saat diketahui bahwa sel mengirim komponennya yang rusak pada pusat daur ulang yang dinamakan lisosom. Hanya sampai di situ yang diketahui ilmuwan. Bagaimana proses daur ulang berlangsung belum diketahui.

Pada tahun 1990-an Yoshinori menggunakan ragi untuk meneliti gen apa yang berperan dalam otofagi. Kemudian ia mengungkap mekanisme yang mendasari otofagi terjadi. Ia pun menunjukkan otofagi juga terjadi pada sel tubuh manusia.

20161004_100918wMenurut Juleen, setiap hari kita perlu mengganti 200-300 gram protein dalam tubuh. Protein yang kita makan setiap hari tak mencukupi untuk menggantikan itu. Mekanisme otofagi pada sel menghasilkan protein pengganti yang memungkinkan sel-sel tubuh kita bertahan.

Hasil riset Yoshinori membuka pemahaman terhadap mekanisme otofagi dalam proses fisiologis seperti dalam adaptasi terhadap kelaparan dan respons terhadap infeksi. Mutasi gen otofagi bisa menimbulkan penyakit dan proses otofagi berperan dalam beberapa kondisi seperti kanker dan penyakit saraf.

Setelah infeksi, misalnya, otofagi bisa menghilangkan bakteri atau virus yang menyerang sel. Otofagi berperan dalam pembentukan embrio dan pembelahan sel. Otofagi juga berperan menangkal efek negatif penuaan.

Penyekit degeneratif
Terganggunya proses otofagi dikaitkan dengan penyakit parkinson, diabetes melitus tipe 2, dan penyakit degeneratif lain. Sementara mutasi pada gen yang berperan pada otofagi berhubungan dengan kanker.

Otofagi dikenal sejak 50 tahun lalu. Namun pentingnya otofagi dalam fisiologi dan kedokteran baru diketahui setelah Yoshinori melakukan penelitian tahun 1990-an.

Yoshinori dilahirkan di Fukuoka, Jepang, tahun 1945. Ia mendapat gelar PhD dari University of Tokyo tahun 1974 dan pernah bekerja di Rockefeller University, Amerika _Serikat. Tahun 2009, Yoshinori jadi guru besar di Tokyo Institute of Technblogy. Kini, ia masih jadi peneliti aktif bekerja di laboratoriumnya,

Saat dihubungi Chief Scientific Ofiicer of Nobel Media melalui sambungan telepon, Yoshinori menyatakan dirinya merasa amat terhormat mendapat Hadiah Nobel. Apalagi anggerah itu ia peroleh sendiri, tak berbagi dengan ilmuwan lain.

Pada awal riset, hanya ada sekitar 20 makalah ilmiah tentang otofagi per tahun yang muncul. Kini jumlahnya mencapai sekitar 5.000 makalah ilmiah setahun.

Yoshinori akan menerima langsung Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran di Stockholm, Swedia, pada Desember mendatang (NOBELPRIZE.ORG/ADH)

Sumber: Kompas, 4 September 2016

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 57 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB