Home / Sosok / Nazirudin; Pelestari Hutan di Tepi Danau Maninjau

Nazirudin; Pelestari Hutan di Tepi Danau Maninjau

Hutan adalah salah satu bagian terpenting dari alam. Menjaganya sama dengan berinvestasi untuk kehidupan. Hutan rusak akan menjadi malapetaka bagi siapa pun, saat ini dan masa yang akan datang.


Itulah yang dipahami Nazirudin (51) dan mendorongnya bekerja keras melestarikan hutan nagari di kampung halamannya, Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Nazirudin mulai tergerak serius menyelamatkan hutan di kampungnya setelah 12 tahun lebih menetap dan bekerja sebagai pedagang di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Suasana Tanjung Priok yang panas, gersang, dan minim pepohonan mengingatkannya pada kampung halaman.

”Saya memegang teguh falsafah hidup orang Minangkabau, Alam Takambang Jadi Guru atau alam dengan segala fenomenanya adalah guru. Apa yang saya temukan selama tinggal di Tanjung Priok mengajarkan saya betapa tidak enaknya udara kotor dan berdebu yang selalu mengganggu pernapasan,” kata Nazirudin yang khawatir jika hal itu yang juga terjadi di kampung halamannya.

Akhir tahun 2009, Nazirudin memutuskan pulang kampung dan bertepatan dengan masa pemilihan kepala desa atau di Minangkabau disebut wali nagari. Atas dorongan sejumlah pihak, dia memutuskan ambil bagian karena merasa itu kesempatan untuk bisa berbuat lebih banyak bagi kampungnya. Nasib mengamini niat baiknya. Nazirudin terpilih sebagai Wali Nagari Koto Malintang.

Sayang, ada pihak yang tidak menyukai kemenangannya sehingga Nazirudin tak kunjung dilantik hingga awal 2011. Keadaan itu membuat Nagari Koto Malintang dipimpin pelaksana tugas. Akhirnya, setelah sejumlah pihak turun tangan, termasuk Bupati Agam Indra Chatri, disepakati adanya pemilihan ulang pada 2011. Nazirudin kembali menang. Bahkan, perolehan suaranya lebih tinggi daripada sebelumnya.

Setelah resmi menjadi wali nagari, dia memikirkan apa yang harus dilakukan untuk melestarikan hutan Nagari Koto Malintang. Kala itu, setelah gempa bumi yang mengguncang Sumatera Barat tahun 2009, banyak hal yang berubah. Sebagai wali nagari yang baru saat itu, Nazirudin salah satunya dihadapkan pada keadaan masyarakat setempat yang kembali menebang pohon seenaknya.

Sebagai sebuah nagari, Koto Malintang memiliki penataan ruang yang baik. Bagian hulu hutan dibiarkan menjadi kawasan lindung (Suaka Alam Maninjau Utara Selatan). Selanjutnya bagian tengah dijadikan kawasan penyangga berupa hutan nagari atau parak. Adapun bagian hilir dijadikan daerah pengembangan pertanian seperti persawahan, kolam ikan, jala apung, hingga pemanfaatan lain, yakni keramba jaring apung di Danau Maninjau.

Dengan tata ruang seperti itu, Nazirudin sadar, jika penebangan pohon terus dibiarkan, lambat laun hutan nagari di Koto Malintang seluas 350 hektar, yang sekaligus menjadi penyangga kawasan lindung seluas 22.000 hektar di atasnya, akan hilang.

”Kalau kawasan penyangga habis, saya khawatir warga akan merambah kawasan lindung di atas Nagari Koto Malintang. Jika itu terjadi, dampak yang paling besar adalah hilangnya sumber air yang diperuntukkan tidak hanya untuk keseharian 3.785 warga, tetapi juga lahan persawahan hingga Danau Maninjau,” kata Nazirudin.

Kearifan lokal
Penebangan pohon di hutan nagari oleh masyarakat saat itu, menurut Nazirudin, terjadi akibat memudarnya kearifan lokal yang secara turun-temurun diwariskan. Karena itu, dia percaya, menguatkan kembali kearifan lokal menjadi cara yang tepat. Jika itu bisa diwujudkan, dampak kerusakan hutan yang lebih buruk bisa dihindari.

Nazirudin mulai membuat aturan tertulis dari kearifan lokal dalam bentuk peraturan wali nagari. Sebelumnya, kearifan lokal berupa kesepakatan lisan. Masyarakat yang hendak memotong pohon di kawasan parak yang menjadi penyangga kawasan lindung tak bisa lagi sembarangan. Untuk bisa memotong satu pohon saja, seseorang harus mendapatkan izin dari enam orang, yakni perempuan, paman, mamak tunganai (kepala waris laki-laki), kepala jorong, ketua Kerapatan Adat Nagari, dan wali nagari.

Selain aturan memotong kayu, dia juga membuat peraturan wali nagari yang dihubungkan dengan pernikahan. Setiap warga yang hendak menikah diharuskan menanam tiga batang pohon sebelum akad nikah. Ada juga aturan tentang pemotongan kayu hanya dilakukan untuk kebutuhan warga seperti membangun rumah dan bukan untuk dijual. Jika melanggar, berbagai sanksi disiapkan.

Terlaksananya aturan itu terlihat kini. Setiap musim kemarau tiba, Koto Malintang tak pernah mengalami defisit air, malah tetap melimpah. Begitu juga saat musim hujan, bencana alam seperti banjir dan longsor bisa terhindari.

Tak mulus
Nazirudin mengakui, langkahnya itu tidak mulus. Di awal, terutama saat mengutarakan keinginan itu, masih ada warga yang menolak. ”Bahkan, ada yang menyebut saya sebagai preman lantaran pernah tinggal di Tanjung Priok. Saya dituduh membuat aturan agar bisa menjual hasil hutan nagari,” kata Nazirudin.

Namun, Nazirudin percaya bahwa niat baik akan selalu mendapat jalan. Bermodal keinginan kuat dan kerja keras, berbagai upaya sosialisasi ke warga dilakukan, dibantu instansi terkait seperti Dinas Kehutanan dan Perkebunan, lembaga swadaya masyarakat, dan lainnya. Perlahan tapi pasti, warga yang semula menolak mulai mendukungnya.

Apa yang dilakukan Nazirudin mendapat apresiasi dari sejumlah pihak. Keberhasilan memperkuat kearifan lokal sebagai bagian utama dalam melestarikan hutan di Nagari Koto Malintang mengantarkannya meraih Kalpataru kategori Penyelamat Lingkungan pada tahun 2013.

NazirudinSetahun kemudian, nagari yang dipimpinnya itu juga meraih juara pertama Wana Lestari 2014 kategori desa peduli kehutanan. Yang membuatnya terharu, dua penghargaan itu diserahkan langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

”Saya tidak pernah bermimpi soal itu. Sebagai anak kampung yang hanya lulusan SMA, sebuah kebanggaan bisa bertemu dan menerima penghargaan yang diserahkan langsung Presiden RI,” kenang Nazirudin.

Upaya Nazirudin menjadi teladan delapan nagari lain di selingkar Danau Maninjau untuk menjaga hutan. Ini langkah baik untuk mengembalikan kelestarian lingkungan di kawasan Danau Maninjau. Apalagi saat ini Danau Maninjau disorot karena pencemaran akibat maraknya keramba jaring apung.
—————————————————————————
Nazirudin Dt Palimo Tuo
? Lahir: Koto Malintang, 19 Mei 1963
? Istri: Rahmawati (49)
? Anak:
– Vera Soviana (28)
– Vina Cahaya Kusuma (17)
–  Rendi Rizaliyadi (16)
? Pendidikan Terakhir: Paket SMA (2013)
? Prestasi
(Pribadi dan Bersama Nagari):
– Juara 1 Lomba Pendidikan Kesejahteraan Keluarga-keluarga Berencana Kesehatan Tingkat Kabupaten Agam 2012
– Juara 1 Lomba Pendidikan Kesejahteraan Keluarga-keluarga Berencana Kesehatan Tingkat Provinsi Sumatera Barat 2012
– Juara 2 Lomba Nagari Berprestasi Tingkat Kabupaten Agam 2013
– Juara 3 Lomba Sekretaris Nagari Tingkat Kabupaten Agam 2013
– Peraih Penghargaan Kalpataru Bidang Penyelamat Lingkungan Tahun 2013
– Juara 2 Lomba Kompetensi Wali Nagari Berprestasi Tingkat Kabupaten Agam 2013
– Juara 2 Lomba Nagari Berprestasi Tingkat Kabupaten Agam 2014
– Juara 1 Lomba Kompetensi Sekretaris Nagari Tingkat Kabupaten Agam 2014
– Juara 1 Wana Lestari 2014 Kategori Desa Peduli Kehutanan

Oleh: ISMAIL ZAKARIA

Sumber: Kompas, 18 Januari 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Prof Soemantri, Ahli Darah Penjunjung Nilai Kemanusiaan Itu, Berpulang

Salah satu inisiasi Soemantri adalah memberi pelayanan transfusi darah bagi anak penderita talasemia dan hemofilia ...

%d blogger menyukai ini: