Gambut di Kebun Mengering

- Editor

Senin, 14 Maret 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Titik-titik Panas Bermunculan, Hujan Minim di Sejumlah Daerah
Pengeringan gambut di sebagian besar lokasi kebun, khususnya di Jambi, sudah melewati batas 40 sentimeter di bawah lahan kebun. Pengelola kebun diminta bekerja lebih keras untuk memastikan kebakaran hutan dan lahan gambut tidak berulang.

Demikian hasil penelitian Asmadi Saad, Kepala Pusat Studi Gambut Universitas Jambi, di Kabupaten Muaro Jambi dan Tanjung Jabung Timur, dua pekan terakhir. Pada lapisan gambut berkedalaman 5-7 meter di kebun sawit PT ATGA, ia menjumpai kekeringan hingga 1 meter. Kondisi serupa di kebun sawit seperti PT BEP, RKK WSI, KU, dan ESW. Hal itu melanggar Peraturan Pemerintah RI No 71/2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut yang melarang pengeringan gambut lebih dari 40 cm di bawah permukaan gambut.

“Di musim hujan saja banyak kebun sawit yang gambutnya kering, bisa diperkirakan bagaimana ancaman kebakaran saat kemarau,” ujarnya, Sabtu (12/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tanpa upaya pencegahan, kekeringan gambut akan lebih dalam lagi pada kemarau mendatang. Tahun lalu, kebakaran meluas pada hamparan gambut yang mengering hingga kedalaman lebih dari 2 meter. Tercatat 9 konsesi kebun sawit di Muaro Jambi dan Tanjung Jabung Timur terbakar hingga 8.000 hektar.

Gubernur Jambi Zumi Zola bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Se-Provinsi Jambi menandatangani maklumat tentang sanksi pidana bagi pembakar lahan, hutan, dan kebun. Setiap orang, termasuk pengelola lahan perkebunan dan kehutanan, dilarang membakar dengan alasan membuka atau mengolah lahan.

Banyak aturan untuk menjerat pembakar, mulai dari KUHP, Undang-Undang tentang Kehutanan, UU tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, serta UU Perkebunan. Ancaman hukuman hingga 20 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar.

Namun, Direktur Eksekutif Pusat Kajian Hukum Lingkungan (ICEL) Henri Subagiyo mengatakan, meski banyak aturan untuk menjerat pelaku pembakaran, pencegahan lebih penting.

Di areal konsesi perlu pencegahan lebih ketat sebelum daerah memasuki kemarau. Sejumlah persiapan, antara lain sistem informasi kebakaran, standar dan pengadaan peralatan pengendalian kebakaran, kemitraan dengan masyarakat, serta membuat petunjuk pemadaman.

Pembakar ditangkap
Setelah dibentuk Kamis lalu, Satgas Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Jambi mulai mengecek titik-titik panas. Hingga Sabtu, hal itu masih dilakukan.

Hasil pengecekan lapangan atas citra satelit Terra Aqua, sepanjang Kamis-Sabtu, terpantau total 5 titik panas. Tim mendatangi titik koordinat dan mendapati pembakaran lahan di Kabupaten Batanghari. Seorang warga ditemukan membakar lahan dengan luas sekitar 1 hektar. Pelaku ditangkap. “Kami berharap ini membuka mata banyak pihak agar tidak berani lagi membakar,” kata Ketua Satgas Kolonel (Inf) Makmur.

Dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah, dilaporkan ada dua titik panas dengan level di bawah 80 persen di dua kabupaten: Murung Raya dan Barito Utara. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalteng Nandang Prihadi mengatakan, Tim Manggala Agni terus memantau di lokasi.

“Dalam satu daerah ada 40-90 orang. Mereka juga diperkuat pasukan terlatih pengendali api,” kata Nandang. Pasukan itu berasal dari masyarakat di setiap daerah operasi.

Kemarin, Balai Taman Nasional Kutai (TNK), Kalimantan Timur, menetapkan status Siaga 1 kebakaran hutan menyusul terpantaunya titik-titik panas. Kepala Balai TNK Erly Sukrismanto mengatakan, Jumat lalu terpantau dua titik panas. “Apinya kecil, di lokasi yang hanya beberapa kilometer dari tepi hutan. Api dapat dipadamkan,” ujarnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Kartanegara Darmansyah mengatakan, pihaknya terus mewaspadai titik-titik panas di Cagar Alam Muara Kaman-Sedulang. Maret kali ini hujan minim turun. (ITA/IDO/PRA)
————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Maret 2016, di halaman 13 dengan judul “Gambut di Kebun Mengering”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Baru 24 Tahun, Maya Nabila Sudah Raih Gelar Doktor dari ITB
Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Berita ini 1 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 1 April 2024 - 11:07 WIB

Baru 24 Tahun, Maya Nabila Sudah Raih Gelar Doktor dari ITB

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 3 Januari 2024 - 17:34 WIB

Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Berita Terbaru

US-POLITICS-TRUMP

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB