Home / Berita / Budidaya Tanaman untuk Perbaiki Hutan

Budidaya Tanaman untuk Perbaiki Hutan

Menaikkan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan akan mengurangi laju deforestasi dan degradasi hutan. Warga tiga kampung Dayak di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, memulainya dengan menanam puluhan ribu bibit tanaman. Selain memunculkan kebiasaan budidaya tanaman, dalam konteks luas upaya ini juga akan mengurangi emisi karbon.

Warga tiga kampung tersebut, yakni Kampung Batu Rajang dan Siduung Indah di Kecamatan Segah, serta Kampung Long Keluh di Kecamatan Kelay, Minggu (1/10), serentak menanam hampir 82.500 bibit di lahan seluas sekitar 200 hektar. Bibit yang ditanam, antara lain, adalah lada (49.500 bibit), gaharu (24.750 bibit), cabai, bayam, tomat, dan empon-empon seperti jahe, kunyit, dan lengkuas. Selain itu juga bibit tanaman hutan seperti meranti dan sengon.

Bibit-bibit itu diberikan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah bersama Kehati dan Millenium Challenge Account (MCA) Indonesia. Masyarakat juga didampingi dan mendapat sejumlah alat pertanian. Dibentuk juga koperasi sebagai wadah bersama untuk pemasaran hasil panen.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir dan Ketua Umum PP Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini turut bersama masyarakat menanam bibit itu. “Apa yang kami tinggalkan, jejak ini, siapa tahu bermanfaat. Alam kita kaya, harus dijaga,” ujar Haedar.

Pemikiran baru
Kepala Kampung Batu Rajang Gregorius Laway Ipuy mengatakan, awalnya masyarakat tidak mengerti bertani secara efektif dan menanam tanaman bernilai ekonomis tinggi. Apalagi memikirkan membuat koperasi untuk memasarkan hasil panen.

“Dulu kami tidak tahu kalau jahe dan lainnya bisa diolah jadi minuman (serbuk kemasan) sehat. Sekarang kami bisa bikin demplot, pupuk kompos, dan akhirnya punya pemikiran baru. Gaharu, misalnya, ada di hutan kami dan daunnya bisa jadi minuman teh,” kata Laway.

Gaharu bisa dimanfaatkan daunnya setelah tiga tahun. Setelah umur 13 tahun pohon gaharu bisa ditebang dan bisa menjadi komoditas ekspor. Lada bisa panen setelah tiga tahun.

Di Indonesia, ada 25.763 desa/kampung yang berada di kawasan hutan dan 71 persen masyarakatnya menggantungkan hidup dari sumber daya hutan. Diperkirakan terdapat 10,2 juta jiwa masyarakat hutan dalam kondisi miskin. Adapun laju deforestasi pada periode 2000-2010 mencapai 1,2 juta hektar hutan alam tiap tahun. Laju deforestasi di Kalimantan 5,5 juta hektar selama periode 2000-2009.

Muttaqien, Project Manager Program Kemakmuran Hijau MPM Muhammadiyah, mengatakan, Berau menghasilkan lebih dari 21 MtCO2 emisi per tahun. Ini sekitar 10 persen dari total emisi di Kaltim. Laju penggundulan hutan di Berau lebih dari 24.000 hektar per tahun, yang banyak disebabkan pembalakan hingga pembukaan kebun sawit.

Sekitar 75 persen wilayah Berau berupa hutan dan harus dipertahankan. Karena itu, Haedar mengatakan, penting mengentaskan masyarakat sekitar hutan dari kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi. Di tiga kampung ini, ada 214 keluarga yang sudah diberi pendampingan. (PRA)
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 2 Oktober 2017, di halaman 14 dengan judul “Budidaya Tanaman untuk Perbaiki Hutan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: