Home / Berita / Napak Tilas Pendirian UGM

Napak Tilas Pendirian UGM

Sebagai rangkaian peringatan Dies Natalis ke-68 Universitas Gadjah Mada, Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada akan menggelar Nitilaku Perguruan Kebangsaan yang diwarnai dengan berbagai kegiatan budaya. Ditargetkan sebanyak 7.000 alumni akan terlibat dalam kegiatan yang diadakan untuk mengenang proses pendirian UGM ini.

Para peserta Nitilaku akan berjalan kaki sejauh 6 kilometer dari Pagelaran Keraton Yogyakarta menuju Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada di kawasan Bulaksumur, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Paling tidak enam Menteri Kabinet Kerja yang merupakan alumni UGM dijadwalkan mengikuti kegiatan yang akan diselenggarakan pada Minggu (17/12) ini.

Dihubungi pada Rabu (6/12), Ketua Panitia Nitilaku Perguruan Kebangsaan 2017, Hendrie Adji Kusworo, mengatakan, tahun ini Nitilaku bertransformasi menjadi peristiwa budaya. Dalam transformasi ini, terdapat empat elemen yang saling bersinergi yakni akademisi UGM, masyarakat, swasta, dan pemerintah.

“Tahun ini Nitilaku bertransformasi menjadi peristiwa budaya. Dalam transformasi ini, terdapat empat elemen yang saling bersinergi yakni akademisi UGM, masyarakat, swasta, dan pemerintah.”

Unsur-unsur sejarah perjuangan dan kebangsaan serta keberagaman Nusantara menjadi nilai utama dari kegiatan Nitilaku. “Para peserta pawai akan menggunakan kostum dengan tema perjuangan dan kostum adat dari seluruh Indonesia,” tutur Hendrie.

Sepanjang perjalanan dari Pagelaran Keraton Yogyakarta hingga Balairung, Gedung Pusat UGM, para peserta dan masyarakat akan disuguhi beragam pertunjukan seni tradisional dan modern di 20 panggung. Sedangkan di Gedung Pusat UGM, tersedia 5 panggung utama untuk penampilan berbagai macam seni pertunjukan.

“Para penampil merupakan mahasiswa, alumni, berbagai komunitas seni, masyarakat, hingga anggota Kabinet Kerja yang merupakan alumni UGM” ujar Hendrie. Sedikitnya akan ada 12 unit kegiatan mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini.

Simbolisasi sejarah UGM
Rektor UGM, Panut Mulyono mengatakan keberadaan UGM tidak terlepas dari peran penting Sultan Hamengku Buwono dan Keraton Yogyakarta. Berdasarkan catatan sejarah, kegiatan belajar dan mengajar UGM kali pertama dilakukan di Pagelaran Keraton Yogyakarta.

“Kemudian, ketika kampus Bulaksumur sudah dibangun, kegiatan belajar mengajar pindah ke bangunan yang sekarang bernama Gedung Pusat UGM,” ujar Panut.

Ribuan civitas akademika maupun alumni Universitas Gadjah Mada akan mengikuti pawai budaya Nitilaku Perguruan Kebangsaan 2017 untuk mengenang sejarah berdirinya kampus itu. Nitilaku, lanjut Panut, adalah pawai budaya sebagai simbolisasi sejarah UGM yang berawal dari Keraton Yogyakarta.

“Nitilaku adalah pawai budaya sebagai simbolisasi sejarah UGM yang berawal dari Keraton Yogyakarta.”

Pada hari sebelumnya Ketua Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) yang sekaligus menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, melakukan pemaparan terkait kegiatan ini, di UGM.

Dalam kesempatan itu, Ganjar menilai bahwa kegiatan Nitilaku bermanfaat untuk mengangkat sejarah masa lalu, mengangkat kearifan lokal juga dapat menghidupkan seni dan budaya khususnya yang ada di Yogyakarta.–DIMAS WARADITYA NUGRAHA

Sumber: Kompas, 7 Desember 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: