Home / Profil Ilmuwan / Myrta Artaria, Si Ahli Rekonstruksi Wajah

Myrta Artaria, Si Ahli Rekonstruksi Wajah

Punya keahlian unik dan langka yaitu, mengungkap identitas orang lewat cara rekonstruksi wajah, tak membuat Myrta Artaria (53) menggunakannya untuk keuntungan pribadi. Guru besar di Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya, Jawa Timur ini sejak 14 tahun lalu menawarkan diri mengajari orang lain. Ia rela membagikan ilmunya di dalam maupun luar negeri secara gratis, demi membantu aparat mengungkap identitas seseorang.

KOMPAS/SOELASTRI SOEKIRNO–Prof Myrta Artaria, guru besar antropologi Universitas Airlangga Surabaya di Surabaya pada 30 Januari 2019.

Ilmu rekonstruksi wajah adalah ilmu untuk mengungkap identitas seseorang lewat reka wajah hanya dari tengkorak dan temuan tulang lainnya. Keahlian tersebut merupakan bagian dari ilmu antropologi ragawi dan spesialis antroplogi forensik.

Myrta yang akrab dipanggil Mita merupakan satu-satunya ahli rekonstruksi wajah dan satu-satunya profesor antropologi ragawi di Indonesia. Kemampuannya itu membuat orang dari Thailand dan Malaysia belajar darinya. Tahun 2017 dan 2018, ia mengajarkan kepiawaiannya ke perguruan tinggi di dua negara itu secara gratis.

“Saya hanya minta mereka menyediakan akomodasi. Tiket pesawat saya minta dari Unair yang memang menyediakan untuk keperluan itu,” tutur Mita beberapa waktu lalu di kampus Fisip Unair.

Kerjasama terus berlanjut, tahun ini universitas di Thailand mengirim mahasiswanya ke Unair untuk belajar lagi ke Mita. “Saya sering promosi ilmu itu lewat konferensi-konferensi baik nasional maupun internasional. Saya juga menawari mahasiswa saya, terutama yang ambil magister antropologi forensik. Mahasiswa saya itu polisi, jadi sangat berkait dengan tugasnya,” katanya lagi.

Mengenai hobi membagikan ilmu secara gratis hingga ke mancanegara, ibu dari seorang anak lelaki ini tak merasa rugi waktu, biaya dan tenaga. Ia justru senang karena bisa beramal lewat ilmu yang ia miliki “Saya percaya, rejeki itu sudah ada pandonnya (pembagiannya), sesuai ajaran ibu saya yang sangat Jawa,” tuturnya. Dalam soal prinsip hidup, Mita mengaku dipengaruhi sang ibu, drg. Soeti Halimah yang mengajarkan, bekerja itu jangan untuk mencari uang.

“Karena saya perempuan, ibu mengarahkan sebaiknya jadi dosen saja supaya bisa beramal. Ilmu bukan untuk mencari uang, jangan sikut-sikutan untuk cari uang. Saat bekerja juga jangan suka nronyol (mengedepankan diri) ke pimpinan. Kata ibu saya, jangan ngoyo dan itung-itungan, kerjalah dengan baik nanti rejeki akan mengikutimu,” katanya menirukan petuah ibunya. Mita merasa nasehat ibunya benar. “Alhamdulilah, memang begitu,” lanjutnya dengan wajah sumringah.

Meski sudah promosi mengajarkan ilmu tanpa bayaran, toh belum banyak polisi tahu kemampuan langka Mita. Dari sekian kepolisian daerah (polda), yang pernah menggunakan keahlian Mita untuk mengungkap misteri kejahatan, baru pihak Polda Jawa Timur. Meski terasa ironis, Mita tak lelah berupaya meningkatkan kemampuan polisi dalam menangani kasus tertentu yang butuh keahliannya.

“Banyak mahasiswa saya tertarik belajar setelah lihat film kriminal seperti NCIS, Criminal Minds, Crime Scene Investigation (CSI) di TV. Ini karya mereka,” ujarnya sambil menunjukkan hasil rekonstruksi wajah sebuah tengkorak. Di luar negeri, terutama di negara belahan barat dunia, keahlian Mita penting untuk membantu menguak kejahatan rumit yang disertai upaya penghilangan identitas dan wajah korban.

KOMPAS/SOELASTRI SOEKIRNO–Prof Myrta Artaria di Laboratorium Antropogi Ragawi, Departemen Anatomi dan Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya pada 30 Januari 2019

Lebih efisien
Di Tanah Air, Mita pernah mendapat permintaan dari Polda Jawa Timur untuk membantu menguak identitas korban kejahatan dari tengkorak, serpihan tulang dan sebuah gigi karena korban dibakar sampai tubuhnya hampir musnah. Identitas korban kejahatan keji tersebut akhirnya diketahui.

Rekonstruksi wajah memang tak bisa menggantikan upaya identifikasi seseorang dengan tes DNA. Namun membuat anggaran penanganan kasus lebih efisien karena tes DNA butuh waktu lebih lama dan mahal. “Dengan rekonstruksi wajah tinggal melihat mirip siapa, kalau ada yang mirip keluarga si korban, cukup yang di tes DNA satu saja sehingga lebih efisien,” jelas Mita.

Ia mendapat keahlian itu saat mengambil pendidikan master antropologi ragawi di Arizona State University, AS. Pengajarnya seorang seniman. Biaya kursus sebesar 1.000 dolar AS dari uang pribadi. Tahun 2004, setelah jadi doktor, ia mulai mengajarkan ilmu itu.

Membuat rekonstruksi wajah hanya perlu waktu sehari sampai dua hari, tetapi sebelum membuat rekaan wajah harus lebih dulu punya data tentang orang yang direka. Selain itu, si pereka juga harus bisa menggambar wajah rekaannya. “Sebenarnya, ini kan seni he he..,” lanjut profesor yang pintar menggambar itu.

Ia tak menghitung berapa banyak orang yang belajar darinya. Yang ia ingat minat orang luar negeri mempelajari ilmu tersebut besar. “Ketika saya diundang mengajar di luar negeri, pesertanya banyak. Sekali pelatihan langsung banyak yang belajar, apalagi saya gratiskan,” tambahnya. Peminat di dalam negeri selain anggota kepolisian yang sedang kuliah program S2 antropologi forensik Unair, juga ada mahasiswa S1 dan S3.

Tak sengaja
Mita jatuh cinta kepada bidang antropologi ragawi sejak pandangan pertama. Penyuka pelajaran biologi tersebut mengenal antropologi secara tak sengaja ketika tengah ikut program pertukaran pelajar AFS di Amerika Serikat tahun 1984-1985. Waktu itu guru SMAnya mengajak ia mengunjungi Nothern Illinois University. Gurunya menjelaskan apa itu antropologi, tulang-tulang di tempat itu beserta cara mengidentifikasinya. “Perkenalan” tersebut langsung membuatnya tertarik sampai ia memutuskan untuk menjadi antropolog.

Mita lalu kuliah di Antropologi Unair, namun pada tahun pertama ia ingin mundur untuk pindah jurusan karena tak mendapat pelajaran yang ia impikan. Keputusan itu membuat dosennya, Prof Dr Habil Josef Glinka SVD heran. “Beliau bertanya nilaimu bagus mengapa ingin mundur. Saya jawab ternyata antropologi disini tak sesuai ekspektasi saya,” kata Mita menirukan jawabannya waktu itu.

Mendiang Glinka yang adalah pendiri pendidikan antropologi ragawi di Indonesia itu menjelaskan, mata kuliah forensik, paleoantro yang ia inginkan ada di tahun kedua. Dan mata kuliah itu hanya ada di Unair. “Ternyata Prof Glinka adalah pendiri antropologi ragawi Unair. Beliau minta saya tak pindah,” ujar Mita mengenang peristiwa puluhan tahun lalu tersebut. Belakangan Mita dan teman-temannya menjadi antropolog ragawi penerus Prof Glinka dan drg Adi Sukadana yang berjasa dalam pengembangan ilmu antropologi ragawi di Tanah Air.

KOMPAS/SOELASTRI SOEKIRNO–Upaya menguak identitas orang tidak hanya dilakukan lewat tes DNA. Ada ilmu untuk membantu mengindentifikasi yaitu rekontruksi wajah. Di Indonesia, pemilik ilmu itu baru satu orang, namanya Prof Myrta Artaria, Guru Besar Departemen Antropologi Ragawi Univesrsitas Airlangga Surabaya, Jawa Timur.

Selain menjabat sebagai Wakil Dekan 3 Fisip Unair, Mita masih mengajar serta membimbing mahasiswa S3. Ia juga tetap rajin meneliti, menulis banyak jurnal dan buku serta membantu mendirikan Help Center Unair (lembaga yang membantu mahasiswa yang punya masalah), dan Airlangga Inclusive Learning untuk membantu mahasiswa berkebutuhan khusus.

Perempuan yang senang memotret, berolahraga dan menampung kucing liar itu terus bersemangat mengembangkan ilmunya karena sadar antropologi ragawi tak hanya untuk keperluan menguak identitas tapi juga meneliti tumbuh kembang anak berdasarkan kebiasaan, budaya dan genetik. Hasil penelitian berupa rekomendasi ke Kementerian Kesehatan RI terkait upaya memperbaiki tumbuh kembang anak untuk kemajuan bangsa ke depan.

Prof Dra Myrtati D. Artaria, MA, Ph.D.

Suami : Benny Nasution

Anak : Omar Nasution

Jabatan : Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya

Pendidikan :
– Sarjana Antropologi Unair (1990)
– Master Antropologi Ragawi dari Master Program Arizona State University, AS (1996)
– Doktor Antropologi Ragawi dari PhD program The University of Adelaide, Australia (2003)

Karya : puluhan jurnal dan 17 buku

Penghargaan (antara lain) :
– Dosen Berprestasi peringkat ke I se FISIP Universitas Airlangga 2009 dan 2010
– Kartini Award “Perempuan ber Iptek dan berkeahlian unik” Surabaya Plaza Hotel and Women Study Center 2009
– Dosen Berprestasi peringkat ke I se Universitas Airlangga 2010
– 100 Best Achievers Among Women Researchers dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan 2015 (TRI)

SOELASTRI SOEKIRNO

Sumber: Kompas, 9 Maret 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mengenang Sediono MP Tjondronegoro dan Reforma Agraria

Sebagai intelektual Tjondronegoro istimewa karena mampu menjelaskan sebab-sebab struktural dan politik agraria dari kemiskinan agraria ...

%d blogger menyukai ini: