Mutu Perguruan Tinggi Tertinggal

- Editor

Senin, 27 April 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kualitas Pendidikan Tinggi Timpang
Mutu pendidikan tinggi Indonesia masih tertinggal jauh dan membutuhkan perhatian serius. Pada salah satu indikator mutu, publikasi ilmiah, misalnya, Indonesia kalah bersaing dengan negara tetangga. Perguruan tinggi yang masuk 500 peringkat terbaik dunia pun berkurang.
Mengacu data publikasi ilmiah yang terindeks Scopus, total produksi 10 perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia sekalipun belum bisa mengalahkan publikasi ilmiah satu universitas di Malaysia, yakni Universitas Kebangsaan Malaysia. Jika UKM mampu menghasilkan hingga 18.000 publikasi yang terindeks Scopus, total publikasi ilmiah dari 10 perguruan tinggi negeri di Indonesia baru berkisar 14.000 yang terindeks Scopus.

Kondisi mutu pendidikan tinggi Indonesia tersebut dipaparkan Sekretaris Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Patdono Suwignjo dalam seminar nasional dan deklarasi

Gerakan Transformasi Pendidikan Tinggi Berbasis Mutu, di Jakarta, Jumat (24/4). Kegiatan itu digagas Pusat Layanan Pengkajian dan Implementasi (Puslapim) Berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia dan Penyelenggaraan Perguruan Tinggi Berbasis Sistem Pengendalian Mutu Internal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Masalah akses pendidikan mulai teratasi. Tetapi, untuk mutu, kondisinya akut. Oleh karena itu, pada 2015-2019, prioritas pendidikan tinggi difokuskan untuk meningkatkan mutu dan relevansi,” kata Patdono.

Tertinggalnya mutu pendidikan tinggi Indonesia juga terlihat dari jumlah perguruan tinggi yang masuk peringkat 500 terbaik dunia. Jika beberapa tahun lalu, Indonesia mampu menempatkan enam perguruan tinggi negeri di 500 top dunia, kini cuma tersisa dua, yakni Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung. Adapun Malaysia justru meningkat dengan menempatkan lima perguruan tingginya di 500 top dunia.

Patdono mengatakan, pemerintah mendorong perguruan tinggi negeri potensial, seperti Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Airlangga, untuk masuk 500 top dunia. Dukungan berupa dana dan pendampingan.

Ketimpangan
Persoalan mutu perguruan tinggi di Indonesia bukan hanya kalah bersaing di dunia internasional. Di dalam negeri, terjadi ketimpangan mutu mencolok antara perguruan tinggi di Pulau Jawa dan luar Jawa.

Berdasarkan penilaian mutu eksternal dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi pada 2014, terdata baru 164 perguruan tinggi dari total 4.274 perguruan tinggi yang terakreditasi institusinya. Hanya dua perguruan tinggi di luar Pulau Jawa yang mampu meraih akreditasi A.

Demikian pula dengan akreditasi program studi. Hanya 223 prodi dari perguruan tinggi luar Jawa yang mendapat nilai A daripada 1.478 prodi di Pulau Jawa yang meraihnya.

Menurut Patdono, peningkatan mutu harus serius. Harapan masyarakat terhadap pendidikan tinggi tidak lagi cukup sebagai agen pendidikan ataupun riset. “Pendidikan tinggi kini diharapkan jadi agen pembangunan ekonomi. Untuk itu, perguruan tinggi tidak cukup menghasilkan lulusan dan riset yang baik, tetapi menghasilkan inovasi, pekerjaan, industri, dan devisa,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Puslapim Willy Susilo mengatakan, pembangunan pendidikan tinggi menjadi elemen fundamental dalam mencapai kemajuan, kesejahteraan, dan kekuatan Indonesia pada masa depan. Puslapim sebagai institusi nirlaba memiliki misi dalam menyediakan layanan pengembangan, bimbingan penerapan, jasa pemeriksaan, pengkajian, serta peningkatan sistem manajemen mutu penyelenggaraan perguruan tinggi.

Pada kesempatan itu, sejumlah pemimpin perguruan tinggi bersama Kementerian Ristek dan Dikti mendeklarasikan komitmen mengupayakan penyelenggaraan perguruan tinggi bermutu. Harapannya, lulusan mampu

berperan dan berkontribusi lebih besar dalam pembangunan nasional.

Laksamana Madya DA Mamahit, selaku penasihat Puslapim yang juga Rektor Universitas Pertahanan, mendorong perguruan tinggi membangun kesadaran bela negara di kalangan mahasiswa sebagai salah satu bentuk penguatan karakter. Generasi muda yang mengangkat harkat dan martabat bangsa di mata dunia.

Associate Puslapim, Iyung Pahan, mengatakan, peningkatan mutu perguruan tinggi dibutuhkan untuk menjawab kebutuhan bonus demografi, yakni angkatan kerja produktif. Pendidikan tinggi berbasis mutu perlu dengan mengacu manajemen mutu terpadu. (ELN)
————————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 April 2015, di halaman 11 dengan judul “Mutu Perguruan Tinggi Tertinggal”.

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 6 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB