Home / Berita / Mutasi SARS-CoV-2 Kemungkinan Lebih Menular

Mutasi SARS-CoV-2 Kemungkinan Lebih Menular

Malaysia dan Filipina mengidentifikasi adanya mutasi virus korona baru atau SARS-CoV-2 yang dikelompokkan dalam D614G. Kelompok mutasi ini diduga lebih menular.

Malaysia dan Filipina mengidentifikasi adanya mutasi virus korona baru atau SARS-CoV-2 yang dikelompokkan dalam D614G. Kelompok mutasi ini banyak ditemukan di Eropa dan sebelumnya juga telah ditemukan di Surabaya, yang diduga lebih menular, tetapi belum ada bukti dampak meningkatkan keparahan pada pasien.

SARS-CoV-2 dengan clade atau kelompok D614G dilaporkan ditemukan di kelompok Malaysia yang terdiri atas 45 kasus yang dimulai dari seseorang yang kembali dari India pada Minggu (16/8/2020). Sementara Filipina mendeteksi strain tersebut di antara sampel Covid-19 yang diperiksa di Filipina pada Senin (17/8/2020). Sebelumnya, strain D614G ini juga telah ditemukan pada salah satu sampel Covid-19 di Surabaya pada Juni 2020.

Temuan strain D614G di Malaysia ini dilakukan oleh Institut Penelitian Medis Malaysia dan dilaporkan Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia Noor Hisham Abdullah. ”(Strain) Ini ditemukan sepuluhkali lebih menular dan mudah disebarkan oleh ’penyebar super’ individu,” katanya.

Wakil Menteri Kesehatan Filipina Maria Rosario Vergeire juga mengatakan, strain ini diduga memiliki kemampuan penularan lebih tinggi. ”Kami masih belum memiliki cukup bukti kuat untuk mengatakan bahwa itu akan terjadi,” katanya.

Belum jelas dampaknya
Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Herawati Supolo Sudoyo mengatakan, mutasi virus sangat lazim terjadi saat mereplikasi, apalagi SARS-CoV-2 merupakan virus RNA yang lebih mudah bermutasi. Mutasi terjadi secara acak dan bisa menyebabkan perubahan pada asam amino, yang merupakan komponen penyusun protein. Misalnya, galur dari Indonesia yang dianalisis Eijkman dan diberi kode JKT-EIJK2444 mengalami mutasi asam amino pada protein S atau spike, yaitu bagian yang digunakan virus untuk menempel pada sel manusia, dari Threoinin menjadi Isoleusin.

Untuk kelompok D614G ini, menurut Herawati, diduga awalnya bermutasi di Eropa dan kemudian menyebar luas di sejumlah negara, termasuk di sebagian Amerika Serikat, sekalipun leluhurnya juga dari Wuhan, China.

”Kelompok D614G ini mengalami mutasi pada asam aminonya dan memang ada penelitian yang menyebutkan diduga lebih menular, tetapi masih butuh kajian lebih lanjut,” kata Herawati.

Menurut Herawati, dari 15 total genom SARS-CoV-2 yang dianalisis Eijkman dari sampel pasien di Jakarta, belum ditemukan varian D614G ini. ”Akan tetapi, D614G ini sebelumnya telah dilaporkan pada salah satu sampel yang ditemukan rekan di Unair dari sampel di Surabaya. Kami sedang menyiapkan 24 urutan genom lagi dari total 100 yang direncanakan. Belum ketahuan apakah ada kelompok baru atau tidak,” katanya.

Herawati menambahkan, tingkat kematian Covid-19 di Jawa Timur, khususnya Surabaya, saat ini termasuk yang tertinggi. Namun, tidak bisa disimpulkan itu terkait dengan adanya kelompok D614G di sana. ”Butuh penelitian lebih mendalam dengan sampel lebih banyak, termasuk melihat kondisi pasien,” katanya.

Kajian Bette Korber dari Los Alamos National Laboratory, AS, di jurnal Cell, 3 Juli 2020, menyebutkan, D614G menjadi varian dari SARS-CoV-2 yang paling dominan. Pelacakan frekuensi varian mengungkapkan pola berulang peningkatan G614G di berbagai tingkat geografis, nasional hingga regional.

”Konsistensi pola sebaran ini sangat signifikan secara statistik, menunjukkan bahwa varian G614 mungkin memiliki keunggulan dibandingkan varian lainnya. Kami menemukan bahwa varian G614G tumbuh ke titer yang lebih tinggi dan menunjukkan viral load saluran pernapasan bagian atas yang lebih tinggi,” sebut Bette dalam kajiannya.

Meskipun pasien yang terinfeksi dengan G614G memiliki jumlah virus yang lebih banyak dalam sampelnya, Bette tidak menemukan bahwa sakit mereka menjadi lebih parah atau mereka harus tinggal di rumah sakit lebih lama.

Kajian oleh Lucy van Dorp dari University College London di jurnal Infection, Genetics, and Evolution untuk edisi September 2020, menunjukkan, sekalipun terus bermutasi, sampai saat ini belum ada perubahan signifikan dari karakter SARS-CoV-2 dibandingkan leluhurnya awalnya di Wuhan, China. Belum ada bukti bahwa mutasi-mutasi ini berkonsekuensi menyebabkan keparahan pada pasien.

Kajian ini dilakukan dengan menganalisis kumpulan data dari 7.666 kumpulan genom SARS-CoV-2 dari sejumlah negara. Disebutkan, karena penularan yang ekstensif, keragaman genetik virus di beberapa negara juga beragam.

”Dengan berfokus pada mutasi yang muncul secara independen beberapa kali (homoplasi), kami mengidentifikasi adanya 198 mutasi berulang. Hampir 80 persen dari mutasi berulang menghasilkan perubahan nonsinonim pada tingkat protein, menunjukkan kemungkinan adaptasi SARS-CoV-2 yang sedang berlangsung,” tulis Drop. (REUTERS)

Oleh AHMAD ARIF

Editor: ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 18 Agustus 2020

Share
x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: