Home / Berita / Laju Penularan Covid-19 Terus Meningkat

Laju Penularan Covid-19 Terus Meningkat

Laju penularan Covid-19 di Indonesia terus meningkat. Selain menandai kurangnya kapasitas dan jangkauan pemeriksaan spesimen, hal itu juga menunjukkan bahwa laju penularan penyakit itu di komunitas bertambah.

Rasio kasus positif Covid-19 dari pemeriksaan di Indonesia terus meningkat. Selain menandai kurangnya kapasitas dan jangkauan tes spesimen, hal itu menunjukkan, laju penularan penyakit itu di komunitas bertambah karena mobilitas warga yang tinggi. Risiko penularan makin besar dengan ditemukannya mutasi SARS-CoV-2 yang lebih menular.

Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat penambahan 2.858 kasus baru Covid-19, Minggu (30/8/2020), dari pemeriksaan terhadap 11.317 orang. Hal itu berarti rasio kasus positif (positivity rate) di Indonesia 25 persen atau ada 1 orang positif dari empat orang yang diperiksa. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rasio kasus positif kumulatif 13,4 persen atau ada 172.053 kasus positif dari 1.282.618 orang yang diperiksa. Rata-rata rasio positif di Indonesia sepekan terakhir 14,8 persen.

Tren peningkatan rasio kasus positif Covid-19 juga terjadi di Jakarta, yang pada Minggu 22,4 persen atau dari 4.872 yang diperiksa, ada 1.094 orang terinfeksi. Penambahan kasus harian ini yang tertinggi di Jakarta, demikian halnya rasio positif yang jauh meningkat dari rata-rata 9,7 persen sepekan terakhir.

Padahal, Juli lalu, angka rasio positif Covid-19 di Jakarta rata-rata 5 persen. Sesuai panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ambang maksimal rasio kasus positif 5 persen, dengan catatan jumlah tes minimal 1 per 1.000 orang per minggu.

”Tren peningkatan rasio kasus positif jadi indikasi, penularan virus di komunitas tinggi. Tes naik atau turun, rasio positifnya naik, artinya penularan meluas,” ucap epidemiolog Indonesia di Griffith University, Dicky Budiman, saat dihubungi dari Jakarta, kemarin.

Cakupan tes minim
Rasio positif Covid-19 yang tinggi juga menandakan kurangnya jumlah dan cakupan tes. ”Tes ibarat jaring dan ikannya itu Covid-19, sedangkan warga ialah kolam pandemi. Makin besar jaring, peluang dapat ikan makin besar. Kalau jaring kecil, tetapi dapat banyak ikan, berarti di kolam ada banyak ikan. Kasus Covid-19 amat tinggi,” tuturnya.

Menurut Dicky, kebanyakan daerah di Indonesia hanya memakai jaring amat kecil untuk mencari Covid-19. ”Yang dites hanya orang yang berpeluang besar positif, bisa karena ada gejala dan datang di rumah sakit atau hanya yang punya kontak dekat,” ujarnya.

Hal itu menunjukkan, penemuan kasus baru melalui pemeriksaan massal belum dilakukan. Jumlah kasus yang ditemukan dari pelacakan riwayat kontak pun terbatas. Di DKI Jakarta, 62 persen kasus ditemukan saat ke rumah sakit, 34 persen dari penelusuran kontak, dan 4 persen dari temuan kasus baru.

Berdasarkan laporan WHO pada 26 Agustus 2020, Jakarta melebihi jumlah tes spesimen Covid-19 berkisar 4-4,5 kali dari standar minimal. Gabungan 33 provinsi lain belum separuh dari syarat minimal. Laporan ini juga menyebut, jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit di DKI Jakarta yang menurun pada Juni lalu meningkat sejak 8 Juli lalu. Pada 7 Juli 2020, jumlah pasien yang dirawat kurang dari 500 orang, kini mendekati 3.000 orang.

Zona merah
Data laman Corona.jakarta.go.id menunjukkan, situasi pandemi Covid-19 Jakarta merata zona merah karena di semua kelurahan ada kasus positif. Untuk itu, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti menyatakan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menambah tenaga kesehatan seiring penambahan daya tampung ruang perawatan intensif dan tempat tidur rumah sakit.

Kini, keterisian ruang perawatan intensif (ICU) ataupun tempat tidur di rumah sakit rujukan Covid-19 mencapai 70 persen. Per 23 Agustus 2020, dari 4.456 tempat tidur di ruang isolasi di 67 RS rujukan, sudah terisi 64 persen. Dari jumlah tempat tidur ICU 483 unit, sudah terpakai 71 persen.

Kapasitas pemeriksaan spesimen Covid-19 pun akan ditingkatkan melalui laboratorium kesehatan milik Pemprov DKI Jakarta dan swasta. Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Oktavia, seiring kenaikan angka kasus harian, pemeriksaan spesimen mesti lebih masif untuk mencegah meluasnya penularan Covid-19.

Lebih menular
Selain tingginya mobilitas masyarakat, risiko penularan bertambah dengan ditemukannya mutasi SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19, yang lebih menular. Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amien Soebandrio mengatakan, mutasi virus korona baru SARS-CoV-2 yang dalam kelompok D614G semakin banyak ditemukan di Indonesia. ”Dari 22 spesimen yang dianalisis, ada delapan yang memiliki mutasi D614G. Mungkin akan bertambah,” katanya.

Menurut sejumlah kajian Bette Korber dari Los Alamos National Laboratory, AS, di jurnal Cell pada 3 Juli 2020, D614G menjadi varian dari SARS-CoV-2 yang paling dominan karena lebih mudah menular. Pelacakan frekuensi varian mengungkapkan pola berulang peningkatan G614G di berbagai tingkat geografis, mulai dari nasional hingga regional.

Meski dianggap lebih menular, sejauh ini belum ada bukti apakah hal itu bisa memicu tingkat keparahan yang lebih tinggi. Kemampuan G614G yang bisa menular 10 kali lebih cepat ini baru diamati di laboratorium.

Menurut Amin, perlu ada kajian terhadap pasien yang diambil spesimennya di Indonesia, tetapi hal itu belum dilakukan. Sebelumnya, Malaysia dan Filipina mengidentifikasi ada mutasi virus korona baru SARS-CoV-2 yang dikelompokkan dalam D614G. Kelompok mutasi yang banyak ditemukan di Eropa ini sebelumnya juga telah ditemukan di Surabaya oleh tim Universitas Airlangga.

Oleh AHMAD ARIF DAN HELENA F NABABAN

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 31 Agustus 2020

Share
x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: