Home / Berita / Tingkat Penularan Covid-19 Makin Mengkhawatirkan

Tingkat Penularan Covid-19 Makin Mengkhawatirkan

Penambahan kasus harian rata-rata yang tinggi dan rasio positif yang meningkat menunjukkan tingkat penularan Covod-19 makin mengkhawatirkan. Pembatasan sosial berskala besar terbukti efektif menahan laju penularan.

Jumlah kematian karena Covid-19 di Indonesia sudah melebihi 10.000 orang, bahkan angkanya lebih dari dua kali lipat jika memasukkan korban dengan gejala klinis, tapi belum diperiksa dengan tes usap. Korban di kalangan tenaga kesehatan pun terus bertambah hingga 226 orang.

Penambahan kasus harian rata-rata yang tinggi dan rasio positif yang cenderung meningkat menunjukkan tingkat penularan Covod-19 makin mengkhawatirkan. Menurut data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, penambahan kasus harian di Indonesia kembali memecahkan rekor tertinggi dengan 4.634 orang terkonfirmasi positif.

Penambahan kasus ini didapatkan dengan memeriksa 34.786 orang sehingga angka rasio positif 13,3 persen, sedangkan rata-rata rasio positif dalam sepekan 16,1 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rasio postif rata-rata 14,8 persen pada pertengahan September dan 13,4 persen pada akhir Agustus lalu.

Penambahan kasus harian terbanyak terjadi di Jakarta, yang mencapai 1.044 kasus, disusul Jawa Barat 804 orang, Jawa Tengah 434 kasus, dan Jawa Timur 343 kasus. Sementara penambahan korban terbanyak terjadi di Jawa Timur 27 orang, Jawa Tengah 25 orang, Jakarta 20 orang, dan Jawa Barat 12 orang.

”Tingginya data kematian tidak akan terhindarkan kalau yang masuk rumah sakit terus bertambah. Untuk Jakarta, saat ini untuk masuk ke ICU (ruang perawatan intensif) harus menunggu antrean sehingga risiko terlambat ditangani dan meninggal meningkat,” kata Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Ari Fahrial Syam, di Jakarta.

Dokter spesialis paru di Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Rebo, Jakarta Timur, Eva Sri Diana, mengatakan, rata-rata rumah sakit di Jakarta dan sekitarnya sudah penuh. Padahal, pasien dengan gejala ringan dipindahkan ke Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet.

Saat ini, pemerintah terus berupaya menambah kapasitas rumah sakit dan Wisma Atlet. Data Dinas Kesehatan Daerah Khusus Ibukota Jakarta menunjukkan, hingga Kamis ini, okupansi tempat tidur di ruang isolasi saat ini mencapai 81 persen, dan ruang perawatan intensif (ICU) 74 persen.

Menurut Ari, situasi di rumah sakit merupakan hilir dari penanganan Covid-19. Meski protokol penanganan pasien membaik dan kapasitas rumah sakit terus bertambah, jika penularan terus meningkat, akan banyak korban tak tertangani. ”Kita harus lebih fokus di sektor hulu karena tenaga kesehatan semakin banyak yang jadi korban,” tuturnya.

Laporan dari para sejawat dokter di daerah juga menyebutkan, tren peningkatan pasien dan ini dikhawatirkan makin membebani tenaga kesehatan yang sudah kelelahan. ”Aceh dan Sumatera Barat naik semua. Orang pulang mau pilkada dan membawa penyakit. Sudah jelas penularan akan meningkat kalau ada kerumunan dan mobilitas, harusnya dalam situasi sekarang pembatasan diperketat di semua daerah,” katanya.

Menurut Ari, tren meningkatnya jumlah tenaga kesehatan yang meninggal juga bisa menjadi indikator tingginya penularan dan kapasitas kesehatan yang semakin tertekan. Data pada Pusara Digital Laporcovid19.org menunjukkan, hingga saat ini ada 226 tenaga kesehatan meninggal karena Covid-19, terdiri dari 122 dokter, 8 dokter gigi, 90 perawat, 4 bidan, dan 2 laboran.

Pembatasan sosial
Pembatasan sosial yang ketat terbukti efektif menurunkan penularan Covid-19. Data yang dipaparkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menunjukkan, setelah pembatasan sosial berskala besar diberlakukan, penularan kasus masih tinggi tapi lajunya melambat. Pada 30 Agustus sampai 11 September 2020 terjadi peningkatan kasus aktif di Jakarta 3.864 kasus atau 49 persen dalam dua minggu. Pada 12 – 23 September ada penambahan kasus aktif 1.453 kasus atau 12 persen.

Sebagaimana tren penambahan kasus, angka kematian di Jakarta juga melandai walaupun rata-rata hariannya masih tinggi. Namun, dengan data-data ini terlihat pembatasan pergerakan penduduk berpengaruh menurunkan penularan.

Tim Fakultas Kedokteran UI merekomendasikan, butuh minimal 60 persen penurunan pergerakan penduduk agar penularan wabah melandai dan terus berkurang. Berdasarkan analisis pergerakan penduduk oleh Tim Sinergi Mahadata UI, jumlah penduduk yang di rumah saat ini baru 50 persen.

Data juga menunjukkan, saat ini Jakarta sudah melakukan pemeriksaan enam kali lipat dari standar minimal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 1 per 1.000 orang per minggu.

Pentingnya pembatasan sosial dalam penurunan penularan juga dilaporkan pada ilmuwan dari Universitas Georgia di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) yang dirilis hari ini. Studi ini menemukan, pembatasan yang ketat selama dua bulan menurunkan risiko kematian karena Covid-19 hingga seperempatnya.

Italia menjadi contoh negara yang berhasil menurunkan tingkat kasus dan kematian secara drastis setelah melakukan pembatasan ketat. Dengan menekan kasus penularan hingga tingkat minimal, Italia terhindar dari gelombang kedua penularan dibandingkan negara lain di Eropa, seperti Inggris.

Angka kematian
Di tengah tingginya kasus dan kematian, Kementerian Kesehatan mewacanakan menambah kriteria angka kematian akibat Covid-19. Seperti dijelaskan Staf Ahli Kementerian Kesehatan bidang Ekonomi Kesehatan Muhammad Subuh, dalam keterangan tertulis di laman Kemenkes.go.id pada Kamis 17 September lalu. ”Angka kematian harus kita definisikan dengan benar, meninggal karena Covid-19 atau karena ada penyakit penyerta sesuai panduan WHO,” ujarnya.

Rencana ini, menurut Subuh, disusun setelah bertemu dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawangsa di Jawa Timur. Sejauh ini, angka kematian terkait Covid-19 masih belum padu. Perbedaan data antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat yang dikelola Kemenkes juga makin melebar.

Misalnya, pada Kamis ini, data Kemenkes menyebut jumlah kematian di Jateng bertambah 25 orang sehingga total menjadi 1.359 orang. Namun, data di laman Pemerintah Provinsi Jateng menyebutkan, pada hari yang sama terjadi penambahan 30 korban jiwa sehingga totalnya menjadi 1.885 orang atau ada selisih total korban sebanyak 526 orang.

Secara nasional, data yang dikumpulkan Laporcovid19 berdasarkan laporan kabupaten dan kota di seluruh Indonesia hingga Kamis mencapai 20.673 orang. Sementara data Rumah Sakit Online, hingga Sabtu (19/9), telah tercatat 23.444 korban jiwa. Baik Laporcovid19 maupun Rumah Sakit Online memasukkan jumlah korban yang meninggal dengan status diduga dan suspek Covid-19 sesuai dengan pedoman WHO pada 11 April 2020.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 25 September 2020

Share
%d blogger menyukai ini: