Home / Berita / Mutasi Virus Korona Dinilai Tak Menghambat Riset Vaksin

Mutasi Virus Korona Dinilai Tak Menghambat Riset Vaksin

Mutasi virus SARS-CoV-2 yang memicu Covid-19 ditemukan terjadi di sejumlah daerah. Meski demikian, mutasi itu dinilai tak menghambat pengembangan calon vaksin.

Sejumlah riset menemukan ada mutasi virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Mutasi ini juga ditemukan pada virus yang menular di beberapa wilayah di Indonesia. Meski begitu, kondisi ini dinilai tidak akan mengganggu pengembangan vaksin yang sedang berlangsung.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, dari proses pengurutan menyeluruh gen virus (whole genome sequencing) dari virus SARS-CoV-2 di Indonesia, ada 24 galur (strain) virus yang ditemukan. Sembilan galur di antaranya merupakan mutasi virus dalam kelompok D614G.

”Dari sembilan mutasi virus D614G, ditemukan dua (galur) di Surabaya, tiga dari Yogyakarta, dua dari Tangerang dan Jakarta, serta dua lagi dari Bandung. Sampai saat ini belum ada bukti yang menyatakan mutasi virus ini penyebarannya lebih cepat ataupun lebih ganas dan berbahaya,” katanya di Jakarta, Rabu (2/9/2020).

Mutasi virus ini juga tidak berpengaruh pada perjalanan klinis dan pengobatan pasien. Mutasi ini pun dinilai tidak mengganggu proses pengembangan vaksin. Ini karena mutasi yang terjadi tak mengubah struktur dan fungsi RDB (receptor binding domain) dari virus yang menjadi target pemberian vaksin.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Amin Soebandrio memaparkan, mutasi virus SARS-CoV-2 dalam kelompok D614G diperkirakan sudah terjadi pada April 2020. Berbagai riset masih terus dilakukan untuk melihat luas penyebaran dari mutasi virus itu. Laporan yang didapatkan saat ini masih terbatas di sejumlah wilayah.

Pada Januari 2020, mutasi virus D614G dilaporkan pertama kali di Jerman dan China. Sampai kini, berdasarkan pendataan proses pengurutan menyeluruh gen virus SARS-CoV-2 di dunia, 78 persen virus termasuk dalam kelompok D614G.

”Meskipun belum ada data ilmiah yang membuktikan mutasi virus ini menyebabkan penularan lebih luas dan beratnya penyakit, masyarakat tetap jangan mengabaikan pandemi ini. Kewaspadaan harus ditingkatkan dengan mencegah penularan melalui protokol kesehatan,” kata Amin.

Secara terpisah, Guru Besar Ilmu Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Pratiwi Pujilestari Sudarmono mengungkapkan, adanya mutasi virus penyebab Covid-19 tak memengaruhi proses deteksi. Deteksi virus masih efektif dilakukan melalui pemeriksaan PCR (reaksi rantai polimerase).

”Meski sudah bermutasi, virus ini masih dalam kelompok SARS-CoV-2 sehingga tetap bisa terdeteksi melalui tes PCR. Hasil pemeriksaan pun tetap akurat,” ucapnya.

Menurut Direktur Operasional GSI (Genomik Solidaritas Indonesia) Lab Budiman Kharma, peningkatan tes PCR menjadi salah satu kunci mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Semakin masif pemeriksaan dilakukan, penanganan kasus makin cepat. Dengan begitu, penyebaran virus bisa ditekan.

GSI Lab merupakan gerakan solidaritas dan kolaborasi dari sejumlah pihak untuk mendukung penanganan Covid-19 melalui pengadaan laboratorium tes PCR. Laboratorium ini diklaim mampu memeriksa spesimen mencapai 5.000 tes per hari dengan hasil pemeriksaan yang dapat diakses dalam satu hari.

Pengembangan vaksin
Bambang menyampaikan, kerja sama pengembangan vaksin dengan pihak luar negeri masih berjalan. Seiring dengan itu, pengembangan vaksin merah putih yang diteliti peneliti dalam negeri terus berproses. Ada lima tim peneliti di dalam negeri yang mengembangkan vaksin Covid-19, yakni Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Airlangga, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Setiap tim peneliti mengembangkan vaksin dengan basis virus berbeda. Diharapkan, berbagai penelitian ini mampu menghasilkan vaksin yang efektif dan sesuai dengan kondisi di Indonesia.

”Pengembangan vaksin yang dilakukan Lembaga Eijkman sudah mencapai 40 persen dari seluruh tahapan yang harus dilakukan. Diharapkan pada akhir 2020 bisa diuji coba pada hewan uji dan tahun depan bisa dilanjutkan di Bio Farma untuk proses uji klinis,” kata Bambang.

Per 2 September 2020, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 melaporkan ada penambahan kasus Covid-19 sebanyak 3.075 kasus. Penambahan tertinggi terjadi di DKI Jakarta (1.054 kasus), Jawa Timur (385 kasus), dan Jawa Tengah (264 kasus). Dari penambahan ini, jumlah total kasus Covid-19 di Indonesia menjadi 180.646 kasus dengan 129.971 pasien sembuh dan 7.616 pasien meninggal.

Oleh DEONISIA ARLINTA

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 2 September 2020

Share
x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: