Home / Berita / Musibah Lion Air, Kisah Sukses Kapal Riset Baruna Jaya dalam Pencarian Obyek Bawah Laut

Musibah Lion Air, Kisah Sukses Kapal Riset Baruna Jaya dalam Pencarian Obyek Bawah Laut

Rabu (31/10/2018) siang, Kapal Riset Baruna Jaya I milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menemukan sinyal kotak hitam (black box) pesawat Lion Air registrasi PK-LQP bernomor penerbangan JT-610 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat.

Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) M Ilyas yang turut dalam operasi SAR bersama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dengan Baruna Jaya I mengonfirmasi temuan indikasi sinyal kotak hitam berdasarkan ping locator. ”Kami temukan indikasi sinyal black box berdasarkan ping locator,” katanya.

ARSIP BPPT–Kapal Riset Baruna Jaya I milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Bagaimana Kapal Riset (KR) Baruna Jaya I bisa menemukan lokasi yang diindikasikan kotak hitam Lion Air yang jatuh di perairan Karawang tersebut?

KR Baruna Jaya I merupakan satu dari empat kapal riset yang dimiliki BPPT. Tidak hanya sekali, Baruna Jaya I berhasil menemukan lokasi kapal/pesawat yang tenggelam di lautan.

Tahun 2007 silam, KR Baruna Jaya juga menemukan lokasi pesawat Adam Air yang jatuh di Selat Makassar. Saat Kapal Motor Penumpang Bahuga Jaya tenggelam di Selat Sunda tahun 2012, peralatan multibeam echosounder dan side scene sonar yang dimiliki KR Baruna Jaya IV menemukan lokasinya di kedalaman 76 meter.

Tahun 2014, lokasi pesawat Air Asia yang jatuh di Selat Karimata juga ditemukan kapal riset ini. Tahun ini, peralatan canggih yang ada di KR Baruna Jaya, remotely operated underwater vehicle (ROV), juga berhasil menemukan KM Sinar Bangun yang tenggelam di dasar Danau Toba, Sumatera Utara.

DOKUMENTASI BASARNAS–Basarnas menggunakan peralatan canggih milik BPPT berupa remotely operated underwater vehicle (ROV) atau robot di bawah air dalam usahanya menemukan korban dan bangkai kapal Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba pada 18 Juni 2018. Pencarian korban tewas dan bangkai kapal Sinar Bangun dengan menggunakan ROV dimulai 27 Juni 2018.

Sejumlah keberhasilan kapal riset BPPT menunjukkan kredibilitas tinggi dalam membantu proses pencarian lokasi kapal ataupun pesawat yang tenggelam di laut dan danau tersebut.

Adalah Menteri Negara Riset dan Teknologi/Kepala BPPT saat itu, Prof Dr Ing BJ Habibie, yang menginisiasi program Baruna Jaya. Awalnya, pada tahun 1980, Habibie melalui program Baruna Jaya bermaksud menginventarisasi potensi sumber daya laut Indonesia secara mandiri. Namun, baru lima tahun kemudian Pemerintah Indonesia melalui BPPT akhirnya menandatangani kontrak pengadaan KR Baruna Jaya I, II, dan III dengan Ateliers et Chantiers de la Manche (ACM), Perancis. Kontrak pengadaan ditandatangani pada 11 Februari 1985.

Dalam penandatanganan adendum kontrak pada 1986, ketiga kapal riset tersebut masing-masing didedikasikan untuk kepentingan riset oseanografi, hidrooseanografi, dan multipurpose geologi-geofisika.

BPPT kemudian bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut untuk pengoperasian KR Baruna Jaya. TNI AL menunjuk Dinas Hidro-Oseanografi TNI AL (Dishidros) sebagai pelaksana teknis kerja sama tersebut.

Tahun 1993, armada KR Baruna Jaya bertambah satu setelah BPPT membeli satu kapal lagi dari Societe D’Armement Maritime et de Transports (SAMT)/Constructions Mecaniques de Normandie (CMN). Kapal ini kemudian dinamakan Baruna Jaya IV dan didedikasikan untuk riset khusus perikanan serta oseanografi.

Setelah Reformasi, ada tuntutan pengoperasian dan pengawakan kapal riset oleh kalangan sipil. Keinginan ini sebenarnya juga sesuai ketentuan-ketentuan konvensi dan regulasi kelautan internasional dalam pengoperasian kapal survei ataupun riset.

Baruna Jaya yang ketika itu sudah menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Baruna Jaya yang berada di bawah koordinasi Kedeputian Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam Kementerian Negara Riset dan Teknologi/Kepala BPPT kemudian berubah lagi kelembagaannya menjadi Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT tahun 2004.

Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material Hammam Riza mengungkapkan, dalam membantu pencarian lokasi jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT-610, KR Baruna Jaya I dilengkapi empat jenis peralatan canggih, yakni multibeam echosounder hydrosweep DS, side scan sonar edgetech 4125, G-882 marine magnetometer, dan ROV – Seaeye 12196 falcon.

Multibeam echosounder hydrosweep adalah alat pemetaan topografi dasar laut secara akurat. Alat ini mampu mengukur sampai dengan kedalaman 11.000 meter dan diletakkan pada lunas kapal.

Side scan sonar ialah alat pemindai obyek pada permukaan dasar laut, seperti pipa bawah lautan dan kapal karam. Alat ini juga mampu membedakan sedimen pembentuk dari permukaan dasar laut.

Marine magnetometer adalah alat pendeteksi obyek logam di bawah air. Salah satunya untuk mendeteksi logam pada pesawat karam di dasar laut.

Sementara ROV merupakan robot yang dikendalikan dengan remote control untuk melakukan pencarian obyek bawah laut. ROV dilengkapi dengan kamera dan mampu menyelam sampai 1.000 meter.

”Keempat peralatan itu ditambah dengan peralatan dari KNKT melalui transponder di Baruna Jaya I menangkap suara yang diidentifikasi sebagai ping kotak hitam. Saat ini sudah mendekati ditemukannya pesawat karena sudah mendengarkan sinyal kotak hitam,” ujar Hammam.

Sebenarnya empat kapal jelas tidak cukup. Baruna Jaya ada yang umurnya 25 tahun. Kami ingin ada pergantian kapal. Namun, anggarannya memang enggak ada untuk melakukan pengadaan kapal riset baru.

Untuk mengidentifikasi lebih lanjut suara yang diidentifikasi ping kotak hitam, akan diturunkan penyelam. ”Jadi, ini nanti akan diverifikasi dengan mengirim penyelam ke sana untuk melihat. Setelah terverifikasi, nanti Basarnas akan menyampaikan hal ini,” lanjutnya.

Menurut Hammam, multibeam echosounder yang dimiliki KR Baruna Jaya I merupakan yang tercanggih di Indonesia. ”Multibeam echosounder yang dimiliki Baruna Jaya I bisa mencapai kedalaman 10.000 meter. Ini satu-satunya. Memang ada kapal lain seperti milik Pertamina yang punya multibeam echosounder, tapi enggak sampai 10.000 meter,” katanya.

KR Baruna Jaya sebenarnya tidak secara khusus dimanfaatkan untuk pencarian kapal/pesawat yang tenggelam di laut. Sebagai kapal survei, tugas utamanya adalah melakukan pengkajian dan penerapan teknologi survei kelautan serta memberikan pelayanan jasa teknologi survei kelautan.

KR Baruna Jaya I terutama melakukan survei batimetri atau survei hidrografi yang dilakukan untuk mengetahui topografi dasar laut ataupun daerah perairan yang lain. KR Baruna Jaya II punya fungsi antara lain untuk pemetaan seismik.

KOMPAS/AGNES RITA SULISTYAWATY–Kapal Baruna Jaya IV bersandar di Pelabuhan Bungus, Kota Padang, 29 November 2008. Kapal milik BPPT ini dilengkapi dengan alat pengukur kedalaman permukaan laut dengan dasar laut.

KR Baruna Jaya III, seperti halnya Baruna Jaya I, biasanya dimanfaatkan untuk survei pemetaan, pengamatan lingkungan, dan men-deploy buoy di laut. Selain itu, Baruna Jaya III juga biasa melakukan survei pemasangan kabel laut dan infrastruktur dasar laut lainnya. Adapun KR Baruna Jaya IV secara khusus melakukan survei migas.

Menurut Hammam, BPPT sebenarnya ingin memperkuat armada kapal riset. Terlebih Indonesia adalah negara maritim. Dengan hanya memiliki empat kapal riset, hal itu jelas tak cukup bagi BPPT melakukan riset menyeluruh terhadap potensi sumber daya lautan Indonesia.

Apalagi kapal-kapal riset BPPT ini sudah tergolong tua usianya. ”Sebenarnya empat kapal jelas tidak cukup. Baruna Jaya ada yang umurnya 25 tahun. Kami ingin ada pergantian kapal. Namun, anggarannya memang enggak ada untuk melakukan pengadaan kapal riset baru. Yang bisa kami lakukan baru revitalisasi peralatannya saja,” tuturnya.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Perekayasa muda bidang hidrografi Dwi Haryanto mengoperasikan sistem Teledyne Hydrosweep DS untuk riset pemetaan dasar laut di dalam kabin Kapal Riset Baruna Jaya I milik BPPT yang berlayar menjalankan misi riset dari Pelabuhan Muara Baru, Jakarta Utara, Jumat (29/6/2018). Kapal yang mampu melakukan misi khusus laut dalam dengan penetrasi hingga 11 kilometer tersebut akan melakukan pemetaan dalam rangka protek pemasangan kabel optik bawah laut PT Telkom.

Indonesia memiliki total luas wilayah 7,81 juta kilometer persegi (km²), dengan luas wilayah lautan mencapai 3,25 juta km² dan 2,55 juta km² lautan di zona ekonomi eksklusif (ZEE). Empat kapal riset tersebut jelas tak cukup.

”Kalau mau serius, sekurang-kurangnya ada 10 kapal riset. Tidak hanya BPPT, tapi instansi lain juga perlu kapal riset, seperti Dishidros TNI AL, LIPI, hingga Kementerian Kelautan dan Perikanan,” ucap Hammam.

”Terlebih saat ini di Indonesia hampir 70 persen bencana datangnya dari iklim laut. Muka bumi kita di-cover sebagian besar oleh laut. Panjang garis pantai kita juga luar biasa. Mitigasi bencana juga bisa menggunakan kapal-kapal riset ini,” lanjut Hammam.

Pascagempa dan tsunami Aceh tahun 2004, KR Baruna Jaya, misalnya, men-deploy buoy untuk kebutuhan sistem peringatan dini tsunami meski belakangan buoy-buoy tersebut rusak dan tak terawat.

”BPPT men-deploy buoy pascagempa dan tsunami Aceh selama tahun 2008-2012 dalam rangka early warning system. Buoy-buoy itu banyak yang rusak dan hilang. Kan, peralatan tersebut butuh perawatan, kami enggak punya anggarannya,” kata Hammam.

DOKUMEN BPPT–Beberapa model buoy pendeteksi tsunami yang dikembangkan BPPT.

Di masa depan, riset kemaritiman sebenarnya dibutuhkan tak hanya untuk kebutuhan mitigasi bencana. ”BPPT sudah diminta Jepang dan Amerika Serikat untuk menangani yang namanya ilmu pengetahuan kelautan. Di UNESCO saat ini ada decade of ocean science. Iptek kelautan ini diarahkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan,” ujar Hammam.

Jika seperti puisi yang dibacakan Presiden Joko Widodo dalam pidato pembukaan Our Ocean Conference 2018 di Bali, 29 Oktober, bahwa lautan adalah sahabat yang akan memberikan kehidupan, maka tak cukup menggali sumber kehidupan ini dengan hanya empat kapal riset BPPT.–KHAERUDIN

Sumber: Kompas, 31 Oktober 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antarktika 90 Juta Tahun Lalu Berupa Hutan Hujan Beriklim Sedang

Pada 90 juta tahun lalu, benua Antarktika masih berupa hutan hujan beriklim sedang. Kini, Antarktika ...