Home / Artikel / Mitos dan Demitologisasi Teknologi

Mitos dan Demitologisasi Teknologi

KEMAJUAN teknologi yang luar biasa merupakan faktor utama yang menandai era globalisasi dan era informasi dewasa ini. Kata teknologi seolah tak lepas dari bahasa kemajuan sehari-hari. Begitu dalamkah kata dan makna teknologi, terutama jika dihubungkan dengan upaya modernisasi di negeri kita?

Di Indonesia, seperti umumnya di negara-negara sedang berkembang lainnya, kadang -kadang ketika orang mendengar kata teknologi sepertinya ada dua kutub berbeda yang sangat dominan. Pertama, terdapat kubu yang memperlihatkan bahwa teknologi bisa membantu memecahkan hampir semua persoalan yang dihadapi manusia.

Kedua, ada juga kubu lain yang memperlihatkan bahwa teknologi seolah-olah merupakan sumber bencana. Artinya, ketika mendengar istilah teknologi, terbayang langsung di benak mereka mengenai perang nuklir, pengurasan uang negara, proses yang memusingkan manusia, dan sebagainya.

Masing-masing kutub di atas telah menempatkan teknologi sebagai mitos. Kutub yang pertama memitoskan teknologi sebagai “obat mujarab yang bisa menyembuhkan smuua penyakit”. Sedangkan kutub sebaliknya, yang kedua, memitoskan teknologi sebagai “ancaman” dan fobia. Apa yang kita rasakan atau apa yang membuat kita lebih memitoskan teknologi daripada negara-negara Eropa yang maju –Amerika dan Jepang misalnya— punya latar belakang tertentu. Artinya, Negara-negara maju tersebut –sebelum sampai ada era teknologinya saat— ini-telah membutuhkan waktu yang sangat panjang dan berabad-abad. Teknologi sudah menjadi bagian hidup, memulai dari yang sederhana, kemudian mereka tumbuhkembangkan secara inkremental. Sedangkan kita di Indonesia sungguh berada dalam posisi dan proses yang tidak sama dengan mereka di negar a-negara maju.

Teknologi dimungkinkan menjadi mitos, karena secara tiba-tiba ia seperti dicangkokkan. Muksudnya, bila negara-negara maju butuh waktu erabad-abad untuk mengembangkan teknologi, secara mendadak di negeri kita teknologi itu bisa diimpor dalam waktu yang sangat cepat dan singkat, atau mungkin cuma satu hari. Teknologi satelit, misalnya, Indonesia secara tiba-tiba sudah punya dan memakai satelit tanpa harus mengalami proses panjang. Pada gilirannya, kita menjadi kaget-budaya dan kembali pada dua kutub mitos tersebut.

Dua kutub yang melahirkan mitos-mitos akan terus dan selalu ada. Tetapi secara umum, kita sebagai individu dan sebagai bangsa haruslah melepaskan mitos-mitos tadi. Terhadap mitos-mitos ini kita tidak bisa hitam-putih menentukan apakah anti atau pro sama sekali terhadap teknologi. Karena perkembangan kemanusiaan sebenarnya dapat kita lihat dari teknologi yang digunakan, seperti penggolongan masyarakat tradisional ataupun modern. Lagipula, perlu disadari bahwa teknologi punya perjalanan panjang sejak zaman paling awal sejarah manusia dulu. Maksudnya, yaitu ketika orang mulai mencari cara memenuhi dorongan lapar, rasa dingin dan panas, maka sudah dapat dikatakan teknologi. Teknologi memang bukan hanya mengenai sesuatu yang canggih-canggih dan bukan hanya mengenai barang, tetapi mencakup juga yang sederhana dan yang menyangkut cara kerja.

Berangkat dari dua kutub dan mitos yang saling berlawanan, antara yang pro dan kontra terhadap teknologi, tepatlah jika kita melakukan koreksi. Dengan kata lain, menempatkannya pada posisi yang sesungguhnya atau melepaskan diri dari pertentangan dua kutub atau mitos di atas. Apabila kita sudah berhasil melepaskan diri dari mitos-mitos tersebut, banyak hal positif yang dapat diperoleh dalam proses pembangunan dan pendewasaan diri kita sebagai manusia dan masyarakat modern lndonesia. Dalam konteks inilah kita memandang perlunya demitologisasi.

DEMITOLOGISASI
Dalam hal ini, demitologisasi diartikan bahwa bilamana orang melihat teknologi sebagai bagian hidupnya, sebagai sesuatu yang tidak menakutkan atau menimbulkan fobia, juga sekaligus tidak memandangnya sebagai “obat ajaib” untuk segalanya. Ada beberapa hal yang menjadi alasan pentingnya demitologisasi teknologi. Pertama, apabila kita terus-menerus membiarkan pemitosan teknologi, maka implikasinya bisa terus di ujun-ujung dua kutub dan mitos-mitos. Implikasi yan lebih besar adalah dalam sistem kenegaraan kita, perpecahan dalam kubu-kubu yang sungguh tak menyehatkan. Sebagian menganggap teknologi penting, sebagian lagi justru memandang apatis dan membencinya.

Kedua, supaya tidak timbul ‘pulau’ di mana teknolog, budayawan, ekonom ataup kalangan-kalangan lainnya tidak bicara dengan dirinya sendiri saja. Dengan begitu, maka masing-masing pihak akan saling terbuka, saling membutuhkan, dan memperluas horison. Ketiga, dengan dua alasan sebelumnya, maka pengambilan keputusan dan kebijaksanaan diharapkan bisa lebih tepat. Yaitu, setelah melalui akomodatif yang positif dan sintesis dialektis.

Untuk teknolog yang cenderung overly optimistic(optimis yang berlebihan), dengan demitologisasi, mereka akan kembali mempertanyakan kegunaan teknologi tertentu bagi kepentingan umat. Misalnya ada yang mengatakan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) hanya akan membuat orang yang established menjadi semakin established, dan yang kaya menjadi semakin kaya. Jika kita mengacu pada asas manfaat, pertanyaannya adalah apakah bermanfaat bagi manusia Indonesia. Kemudian apakah manfaat teknologi tertentu itu bisa menyentuh sebanyak-banyaknya manusia Indonesia, tidak hanya sekedar masyarakat perkotaan ataupun kalangan kelas atas semata-mata. Memang, kita pun harus berani membuat kebijakan-kebijakan yang membuat teknologi juga relevan untuk pemerataan.

Pendapat yang mengatakan bahwa teknologi membutuhkan pembiayaan yang sangat besar membuktikan betapa demitologi teknonologi dibutuhkan. Sebenarnya teknologi itu tidaklah bisa diukur dalam satu hari. Jika kita lebih arif, seharusnya kita sadar bahwa dengan pengembangan teknologilah bisa didapatkan dan dihasilkan kemampuan kerja manusia serta efisiensi harga/biaya dan waktu. Sebagai ilustrasi, kita dapat memperbandingkan kebijaksanaan teknologi antara India dan Korea. Meski jumlah ilmuwan India luar biasa banyaknya, justru Korea tampak lebih “menggelinding”. Hal ini bisa terjadi karena kebijaksanaan Korea langsung kepada teknologi untuk pembangunan nasional, yang sudah tentu membawa nilai-tambah, sementara India tampak lebih kepada basic science. Wajarlah jika kita pun bisa menarik nilai positif dari perbandingan tersebut.

Selain itu, mungkn menyebutkan teknologi dikembangkan untuk kepentingan teknologi itu sendiri dan steril dari aspek-aspek lain. Tentu saja kemungkinan tersebut harus dijauhkan. Menurut hemat saya, pengembangan teknologi integral dengan pengembangan masyarakat secara keseluruhan. Jika teknologi tidak lagi dimitoskan, kita akan lebih selektif dan dewasa. Artinya, kita tidak lagi mengagung-agungkan semua yang serba canggih seraya menafikan dan sinis terhadap semua yang dianggap kecil ataupun tradisional. Juga bukan demi akselerasi, lalu kita melupakan dan meninggalkan kebutuhan-kebutuhan lain.

KUNCI DEMITOLOGISASI
Sikap mental, persepsi yang harus dibangun sejak usia dini, mewarnai pola asuhan, sistem pendidikan, dan program media massa merupakan kunci demitologisasi.

Dalam demitologisasi, demi menjauhkan orang dari rasa fobia teradap teknologi, sangat diperlukan
Persiapan dan prakondisi. Karena bagaimanapun, orang yang terkena fobia, baik orang yang memang tidak tahu ataupun yang tidak mau tahu, perlu diperhatikan. Prakondisinya terutama tidak melihat kepada kemilauan teknologinya, melainkan kesiapan manusianya untuk mengembangkan dan memanfaatkan teknologi.

Menyangkut soal pembinaan kesadaran akan teknologi, pengalaman negara lain bisa dijadikan contoh. Misalnya di Amerika, betapa bagusnya ide pengenalan iptek kepada anak-anak di sana. Program televisinya juga menyiarkan kekayaan sejarah teknologi, bahkan dalam film kartun sekalipun.

Teknologi mempunyai tujuan yang mulia dan dibutuhkan kita semua, tanpa perlu memitoskan teknologi itu sendiri. Teknologi perlu dijadikan grand strategy, tidak sebagai posisi sentral yang steril, melainkan sebagai pilar pendukung atau sebagai instrumen yang sangat dibutuhkan secara nasional supaya eksis di lingkungan global. Dari sinilah kita coba beranjak dan menempatkan teknologi dalam posisi yang benar dan wajar, demi mengantisipasi tantangan mendesak yang dihadapi manusia dan masyarakat modern Indonesia dalam proses pembangunan yang terus bergulir.

Marwah Daud Ibrahim Ph.D, Penulis adalah Staf Peneliti BPP Teknologi

Sumber: Jawa Pos, 29 Januari 1991

Share
x

Check Also

Peringkat ”e-Government” Indonesia

Menurut PBB, sejak 2018 secara global terjadi peningkatan rata-rata skor e-government pada 193 negara anggota ...

%d blogger menyukai ini: