Home / Berita / MERS Belum Masuk Indonesia

MERS Belum Masuk Indonesia

Satu Pasien yang Diduga Terinfeksi Dinyatakan Negatif
Sindrom pernapasan Timur Tengah akibat virus korona atau MERS-CoV dipastikan belum menyebar ke Indonesia. Terakhir, seorang pasien berusia dua tahun diduga tertular setelah berlibur ke Korea Selatan, tetapi hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan pasien itu negatif MERS-CoV.

Meski demikian, pemerintah tak mengendurkan kewaspadaan terhadap potensi masuknya penyakit ini di masa depan.

Ketua Tim Penanganan Emerging and Reemerging Diseases (penyakit baru dan penyakit lama yang muncul lagi) Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof Dr Sulianti Saroso, Ida Bagus Sila, mengatakan, anak usia balita terduga MERS-CoV itu masih dirawat di ruang isolasi RSPI Prof Dr Sulianti Saroso. Pasien pergi bersama orangtuanya ke Korea Selatan pada 1-5 Juni 2015 dan tiba di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Jakarta, 6 Juni lalu. Pasien berinisial M dan berjenis kelamin laki-laki.

“Pasien mulai dirawat di ruang isolasi pada 22 Juni (Senin),” kata Sila pada seminar bertema “MERS-CoV Update bagi Petugas Kesehatan Se-DKI Jakarta”, Rabu (24/6), di Jakarta. Pasien mengalami gejala demam dan batuk sejak tiga hari sebelum dirawat. Dalam pemantauan hari pertama perawatan, suhu tubuh pasien 37,8 derajat celsius.

MERS-CoV merupakan penyakit akibat virus korona baru (novel corona virus) yang menyerang saluran pernapasan dan menimbulkan gejala ringan hingga berat. Masa inkubasi 2-14 hari. Penyakit bisa kian parah jika pasien menderita penyakit lain, seperti penyakit paru kronik dan penyakit jantung kronik. Virus MERS-CoV pertama kali ditemukan di Arab Saudi pada 2012.

Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso, Fatmawati, menjelaskan, karena M masih berusia balita, ibunya terus mendampingi. Petugas kesehatan senantiasa memeriksa kondisi ibu pasien, mencegah penularan jika pasien terinfeksi MERS-CoV. Pemantauan terakhir menunjukkan kondisi ibu pasien normal.

Sesuai petunjuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), spesimen dari pasien terduga MERS-CoV harus diuji laboratorium tiga kali. Jika ketiganya menunjukkan hasil negatif, pasien baru akan dikeluarkan dari ruang isolasi dan dirawat di ruang rawat biasa sesuai penyakit yang diderita. Pihak RS menanti hasil laboratorium dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan.

Saat dikonfirmasi, Kepala Balitbangkes Kemenkes Tjandra Yoga Aditama mengatakan, hasil uji reaksi rantai polimer (PCR) terhadap M menunjukkan negatif MERS-CoV. Pemeriksaan pada orang-orang yang kontak dengan M menunjukkan hasil negatif. “Gejala klinis pasien bukan MERS-CoV,” ujarnya.

Menurut Tjandra, pasien M tak tampak amat lemah dan suhu tubuh tak terlalu tinggi. Meski ada suara tak normal saat pernapasan pasien didengar melalui stetoskop, hasil rontgen menunjukkan gangguan pada paru-paru tak luas. Jadi, gejala pada M ringan sehingga bisa cepat pulih.

8a3328a3ba7945c69bbc11465a469610Perawat berkomunikasi dengan perawat lain yang menangani pasien di kamar isolasi Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr Sulianti Saroso, Jakarta Utara, Rabu (24/6). Rumah sakit ini merupakan pusat rujukan nasional penyakit infeksi, termasuk MERS-CoV.–KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA

Di Korea Selatan, belum ada penularan MERS-CoV di masyarakat. Penularan hanya di RS, yakni kasus tertular karena pernah datang ke RS atau kontak dengan penderita MERS-CoV.

Tetap waspada
Hal itu berarti belum ada kasus penularan MERS-CoV di wilayah Indonesia. Meski demikian, pemerintah terus mewaspadai penyebaran penyakit itu, apalagi banyak warga Indonesia yang bepergian ke Arab Saudi, negara asal MERS-CoV, antara lain untuk ibadah haji dan umrah.

Fatmawati mengatakan, semua staf RSPI Sulianti Saroso terus bersiaga, mulai dari tenaga kesehatan hingga petugas kebersihan dan administrasi. Rumah sakit itu rutin mengadakan simulasi menghadapi situasi wabah penyakit menular seperti MERS-CoV.

Rumah sakit itu dilengkapi ruang isolasi berstandar WHO dan berjumlah 12 kamar. Fatmawati menunjukkan ruang isolasi tersebut melalui pantauan kamera, Rabu (24/6). Tiap ruang berukuran 3×4 meter persegi, dilengkapi kamar mandi, pintu khusus pasien, dan pintu khusus petugas.

Pasien M yang masih dalam pengamatan itu sedang bersama ibunya. Dua petugas ada di ruang tersebut dengan alat pelindung diri lengkap antara lain penutup kepala, kacamata, masker, apron, dan sarung tangan panjang.

Pintu masuk dan pintu keluar ruang isolasi bagi petugas berbeda. Pintu keluar menuju ke kamar mandi sebab petugas wajib mandi seusai menangani pasien. Perawatan dengan prosedur itu dilakukan selama pasien berada di ruang isolasi.

Sebelum merawat pasien M, RSPI Sulianti Saroso pernah merawat 16 pasien terduga MERS-CoV, yakni 12 pasien selama 2014 dan 4 pasien pada 2015. Dari semua pasien itu, tak ada kasus positif MERS-CoV.

Hingga 22 Juni, WHO melaporkan 171 kasus positif MERS-CoV di Korea Selatan, dengan 27 pasien meninggal. Tjandra mengingatkan, penyakit tersebut masih aktif di Arab Saudi, dan jemaah umrah asal Indonesia akan atau tiba di kawasan itu.

Ada tiga kasus baru MERS di Arab Saudi sehingga total pasien 1.038 orang. Ada 459 orang meninggal, 573 orang sembuh, dan 6 pasien dalam perawatan. Kunci bagi jemaah di wilayah itu agar tak terinfeksi MERS-CoV antara lain berperilaku hidup bersih dan sehat serta menghindari kontak dengan unta. (JOG)
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 Juni 2015, di halaman 13 dengan judul “MERS Belum Masuk Indonesia”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: