Home / Berita / Kesiapan Rumah Sakit Hadapi Penyebaran Covid-19 Ditingkatkan

Kesiapan Rumah Sakit Hadapi Penyebaran Covid-19 Ditingkatkan

Pemerintah akan menambah 32 rumah sakit rujukan penyakit infeksi emerging, termasuk menangani Covid-19 setelah penetapan seratus rumah sakit sebagai rujukan penyakit infeksi emerging.

Sebanyak 100 rumah sakit telah ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan penyakit infeksi emerging, termasuk untuk menangani Covid-19. Upaya penguatan kesiapasiagaan penanggulangan penyakit ini ditingkatkan dengan menambah 32 rumah sakit rujukan baru.

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Bambang Wibowo menyampaikan, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan pedoman penanggulangan COVID-19. Pedoman itu juga telah disosialisasikan ke semua fasilitas pelayanan kesehatan mulai dari fasilitas kesehatan primer seperti puskesmas, rumah sakit daerah, rumah sakit pusat, dan rumah sakit swasta.

“Kita sudah punya 100 rumah sakit rujukan untuk penyakit infeksi emerging. Namun, melihat potensi penularan (Covid-19) ini (rumah sakit) akan diperluas sehingga sedang disiapkan lagi 32 rumah sakit rujukan,” ujarnya di Jakarta, Senin (2/3/2020).

Adapun 100 rumah sakit rujukan penyakit infeksi emerging tersebut tersebar di 31 provinsi di seluruh Indonesia. Seluruh rumah sakit ini sebelumnya juga ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan penanggulangan flu burung pada 2007. Dari 100 rumah sakit tersebut, Rumah Sakit Pusat Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan nasional.

Bambang tidak menyebutkan nama 32 rumah sakit tambahan yang ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan Covid-19. Meski begitu, rumah sakit yang ditunjuk akan diprioritaskan yang berada di pintu masuk negara.

“Rumah sakit rujukan yang telah ditetapkan dipastikan sudah siap, baik dari fasilitas maupun SDM (sumber daya manusia). Simulasi penanganan penyakit juga sudah dilakukan bersama dengan semua komponen terkait, seperti petugas KKP (kantor kesehatan pelabuhan), dinas kesehatan, fasilitas kesehatan primer. Ini juga termasuk bagaiman standar pengambilan material (spesimen) juga transportasi yang digunakan,” ujarnya.

Bambang menambahkan, seluruh pembiayaan perawatan pasien yang masuk sebagai pasien dalam pengawasan di RS rujukan akan ditanggung Kementerian Kesehatan. Pembiayaan ini mulai dari pemeriksaan spesimen sampai perawatan selesai, pada pasien dengan hasil pemeriksaan Covid-19 positif maupun negatif.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes, Siswanto, menambahkan, 153 kasus telah diterima laboratorium Balitbangkes terkait Covid-19. Dari jumlah itu, 151 kasus dinyatakan negatif dan dua kasus lain dikonfirmasi positif. Kasus terkonfirmasi positif Covid-19 ini secara resmi disampaikan Presiden Joko Widodo pada Senin, pagi.

“Spesimen yang telah diterima Balitbangkes ada 153 kasus dengan dua diantaranya terkonfimrasi positif. Itu belum termasuk 188 spesimen yang diambil dari awak kapal World Dream dan 69 awak kapal Diamond Princess yang diobservasi. Dari 188 spesimen dari World Dream semuanya negatif dan spesimen dari Diamond Princess masih diperiksa,” katanya.

Pelacakan kontak
Terkait dua orang pertama yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyampaikan, pelacakan pada orang sekitar yang melakukan kontak dengan kedua pasien tesebut masih dilakukan. Pelacakan ini dilakukan menyeluruh oleh tim terpadu dari Dinas Kesehatan setempat, mulai dari pelacakan kontak terdekat hingga kontak lingkungan dari pasien.

Berdasarkan kronologi laporan yang diterima Kementerian Kesehatan, Terawan mengatakan, pasien perempuan berusia 31 tahun diduga terinfeksi setelah melakukan kontak dengan warga negara Jepang yang ternyata menderita Covid-19 setelah kembali ke tempat tinggalnya di Malaysia. Sementara satu pasien lain berjenis kelamin perempuan berusia 64 tahun terinfeksi setelah kontak dengan pasien pertama. Kedua kasus ini terkonfirmasi Covid-19 pada 1 Maret 2020.

“Sampai detik ini kedua pasien dalam kondisi baik. Perawatan yang diberikan sesuai gejala yang dialami. Lima hari lagi baru diperiksa kembali dengan melakukan swab dan pengambilan spesimen lain untuk diketahui apakah masih ada virus atau tidak,” ujarnya.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono menuturkan, surveilans aktif masih berlangsung dalam upaya pelacakan kontak dari kedua pasien terkonfirmasi Covid-19. Setidaknya, 48 orang telah masuk dalam daftar kontak erat dengan pasien. Selain kontak erat, pelacakan akan dilakukan pada orang yang berada di lingkungan sekitar pasien.

Ia menyampaikan, dari dua kasus pertama yang terkonfirmasi Covid-19 di Indonesia, masyarakat dihimbau waspada. Kondisi ini menandakan sudah ada transmisi lokal untuk penularan penyakit ini di Tanah Air. Meski begitu, pemerintah belum ada pembatasan khusus bagi perjalanan dalam negeri maupun luar negeri.

“Epidemiologi penularan di tiap negara berbeda-beda. Misalnya di Kota Daegu, Korea Selatan yang sudah diisolasi itu penularannya sebagain besar asimtomatik (tidak bergejala). Ini berbeda dengan di Iran yang angka kematiannya tinggi. Kondisi ini yang disampaikan oleh Kementerian Kesehatan,” ucapnya.

Meski begitu, Anung menambahkan, sejumlah negara patut diwaspadai sebagai negara dengan risiko penularan Covid-19. Negara tersebut yakni, daratan China, Korea Selatan, Italia, Iran, dan Singapura. “Negara ini masuk sebagai negara berisiko sesuai dengan situasi perkembangan status yang dilaporkan secara periodic kepada kami (Kemenkes),” katanya.

Oleh DEONISIA ARLINTA

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 3 Maret 2020

Share
x

Check Also

Instrumen Nilai Ekonomi Karbon Diatur Spesifik

Pemerintah sedang menyusun peraturan presiden terkait instrumen nilai ekonomi karbon dalam. Ini akan mengatur hal-hal ...

%d blogger menyukai ini: