Home / Berita / Merintis Rating Memupuk Masa Depan Industri Permainan Elektronik

Merintis Rating Memupuk Masa Depan Industri Permainan Elektronik

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika tengah menyebarkan Rancangan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika tentang klasifikasi permainan interaktif elektronik atau video game.

Pada dasarnya ini adalah dokumen yang mengatur panduan bagi konsumen ataupun pelaku bisnis mengenai produk yang sesuai dengan usia. Dokumen tersebut tersedia untuk diunduh di situs mereka dan tidak lupa kontak Kepala Bagian Hukum dan Kerja Sama Direktorat Jenderal Aplikasi Telematika Anthonius Malau dan Kepala Subbagian Penyusunan Rancangan Peraturan Ferdinandus Setu.

Dimulai sejak 20 Oktober, uji publik ini akan ditutup pada 30 Oktober sebelum seluruh masukan dipertimbangkan dalam rancangan akhir yang akan diajukan sebagai peraturan menteri.

Pada dasarnya klasifikasi ini berfungsi layaknya sistem rating yang diterapkan untuk permainan interaktif elektronik di beberapa negara. Di Amerika Serikat, misalnya, bisa ditemukan dengan nama Entertainment Software Rating Board (ESRB), Pan European Game Information (PEGI) yang diterapkan oleh negara-negara di Eropa, ataupun Australia Classification Board (ACB) yang berlaku di Australia.

Rating bersifat panduan bagi konsumen sewaktu membeli produk mengingat permainan interaktif elektronik sama seperti film adalah medium seni dengan cara penyampaian berbeda. Baik tampilan visual maupun komponen permainan harus dipastikan agar ditonton pengguna yang cukup usia. Bagi konsumen, rating bisa menjadi panduan untuk membeli produk yang sesuai, misalkan ibu yang membelikan anaknya tentu mencari produk yang sesuai umur.

3d255dc3df3244a2a6666ba3b3d93f77KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Personel di Touchten Games, salah satu studio pengembang permainan interaktif elektronik atau video game dari Tanah Air, Senin (10/8). Mereka tengah merampungkan permainan Target Acquired yang didanai lewat internet lewat skema crowdfunding.

Berdasarkan rancangan peraturan menteri tersebut, klasifikasi dibuat berdasarkan kategori kelompok umur 2-6 tahun, 7-12 tahun, 13-16 tahun, di atas 17 tahun, untuk semua usia. Untuk memilah sebuah produk masuk ke kelompok usia tertentu, mereka mematok komposisi konten yang ada di dalamnya, seperti keberadaan rokok, minuman keras dan narkoba, adegan kekerasan, darah, penggunaan bahasa, penampilan tokoh, horor, penunjukan seksualitas, dan interaksi daring.

Kelompok usia paling muda, yakni 2-6 tahun, akan memiliki konten paling aman seperti tidak memperlihatkan tulisan atau gambar berhubungan dengan rokok, minuman keras, dan narkoba, tidak menampilkan kekerasan dan darah, tidak terdengar bahasa kasar diucapkan, hingga adegan yang bisa memancing hasrat seksual.

22e4ad7ed8f2490ca6c0afdb150f5467KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Personel di Touchten Games, salah satu studio pengembang permainan interaktif elektronik atau video game dari Tanah Air, Senin (10/8).

Berbeda dengan kelompok usia di atas 17 tahun yang memperlihatkan sebaliknya meski pada beberapa hal tetap dipastikan agar tidak kebablasan. Contohnya ketentuan mengenai adegan yang memancing hasrat seksual yang masih diperbolehkan oleh klasifikasi tetapi tidak untuk diperlihatkan.

Perbandingan
Jika dibandingkan dengan ESRB, klasifikasi serupa bisa ditemukan meski dengan istilah yang berbeda, yakni usia dini, untuk semua usia, untuk semua usia 10 tahun ke atas, remaja, dewasa, dan khusus dewasa. Setiap kategori memiliki komposisi dari konten ataupun intensitasnya. Kategori untuk semua usia dan semua usia 10 tahun ke atas sama-sama menampilkan kekerasan meski kategori kedua bisa memiliki kadar yang lebih besar.

Sistem rating sudah menjadi keharusan bagi industri permainan interaktif elektronik dan menjadi syarat agar produk mereka bisa diedarkan ke pasar. Berdasarkan laporan tahunan PEGI tahun 2013 saja sudah ada 1.542 judul permainan yang diperiksa atau 21.847 judul sejak sistem tersebut diberlakukan tahun 2003.

Dari angka tahun 2013, mayoritas permainan yang melalui klasifikasi mereka adalah produk yang ditujukan kepada usia 3 tahun ke atas dengan 30,5 persen, diikuti 7 tahun ke atas sebanyak 24 persen dan judul untuk 18 tahun ke atas menempati porsi paling kecil dengan 9,7 persen.

Untuk menentukan klasifikasi sebuah permainan, dibutuhkan tim yang harus memeriksa isi permainan tersebut dan menentukan apakah kontennya sudah sesuai untuk kelompok usia tertentu. Dari laporan yang dibuat ACB pada 2013-2014 sewaktu menyeleksi 458 judul yang masuk, mereka memiliki pertimbangan tertentu sewaktu memutuskan sebuah judul permainan masuk dalam klasifikasi umur tertentu.

“Kekerasan umumnya terjadi di jarak sedang yang menyebabkan muncul cipratan darah, dan genangan darah, tetapi luka tidak diperlihatkan dengan seksama. Anggota dewan mengklasifikasikan permainan ini dengan kategori MA 15+ dengan rekomendasi: kekerasan yang kuat dan pengalaman bermain mungkin berubah saat daring” adalah kutipan dari pertimbangan ACB sewaktu memeriksa permainan Call of Duty: Ghosts yang memiliki genre aksi tembak dari sudut pandang pertama (FPS).

MA 15+ sendiri adalah kategori yang mengharuskan pembelinya berusia di atas 15 tahun dan wajib didampingi orangtua atau orang dewasa saat bertransaksi. Australia yang dikenal sebagai negara dengan sistem klasifikasi paling ketat memiliki kelas RC atau judul yang dilarang beredar, padahal permainan yang sama bisa lolos di negara-negara lain seperti misalkan South Park: The Stick of Truth di tahun 2013 karena menampilkan kekerasan seksual, setelah diubah dengan menghilangkan bagian tersebut, judul ini bisa diedarkan dengan klasifikasi R 18+ atau untuk pengguna di atas 18 tahun.

Edukasi
Pertanyaan pun muncul setelah menyimak beberapa contoh dari negara lain, akan seperti apakah sistem klasifikasi permainan interaktif elektronik di Indonesia?

Luat Sihombing, Kepala Seksi Pengembangan Produk Industri Konten Multimedia, Unit Kerja Direktorat Pemberdayaan Industri Informatika Kementerian Kominfo, menegaskan bahwa peraturan ini baru tahap awal untuk memberikan pemahaman kepada pengguna. Dari sudut pandang industri, klasifikasi ini membantu mereka untuk menetapkan segmen usia yang mereka tuju.

Hanya saja, yang dimaksud dengan tahap awal ini juga meliputi mekanisme pengklasifikasian yang masih dilakukan sendiri. Menurut Luat, nantinya produsen tinggal mendaftar ke situs dan memastikan apakah karya mereka mengandung konten-konten tertentu dan di akhir akan mendapatkan rating secara otomatis.

Di masa mendatang, peraturan tersebut diharapkan lebih luas mengatur soal dewan yang menelaah setiap judul game yang didaftarkan, begitu pula terkait sanksi ataupun keharusan untuk mendaftarkan karya game ke proses klasifikasi.

Harapan serupa juga diutarakan Presiden Asosiasi Game Indonesia Andi Suryanto. Ditemui beberapa saat sebelumnya, dia mengungkapkan bahwa rating bermanfaat bagi industri sekaligus melindungi konsumen agar mendapatkan judul permainan yang sesuai dengan mereka. Bukan membeli kucing dalam karung atau gaya visual seolah untuk anak kecil padahal kontennya untuk mereka yang lebih dewasa.

DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO

Sumber: Kompas Siang | 27 Oktober 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: