Menumpukan Harapan pada “Saudara Digital”

- Editor

Selasa, 21 November 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kawasan pabrik ban yang berjarak 70 kilometer di Qingdao, China, terasa lengang pada suatu siang. Gedung bundar dengan tulisan “Doublestar” kontras berdampingan dengan barisan gedunggedung memanjang yang dipisahkan oleh jalan aspal. Kerja keras dalam memproduksi ban dilakukan di dalamnya, hanya saja sebagian besar bukan oleh manusia.

Isi gedung dipenuhi dengung suara mesin yang bekerja tanpa jeda. Seluruhnya berjalan tanpa campur tangan manusia, berkat tangan robot, ban berjalan, hingga mobil otonom terkendali yang lalu lalang membawa ban menuju tempat penyimpanan.

Dengan produksi 6 juta ban setiap tahun, Doublestar berubah dari merek yang nyaris dilupakan sejak dua tahun lalu menjadi merek paling berpengaruh. Ini terjadi karena perombakan rantai industri ke arah digital dengan menggandeng Siemens. Dampaknya, tingkat cacat produksi berkurang 80 persen, produktivitas naik 300 persen, dan keuntungan naik 50 persen pada 2016.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Doublestar juga menjadi merek ban China nomor satu. “Data yang dihasilkan dari peralatan ini akan dipelajari agar lebih efisien lagi,” kata Lin Zebo, Vice Presidents Provincial General Manager Shandong Siemens Ltd China, beberapa waktu lalu.

Deputy General Manager Doublestar Group Li Yong menuturkan, rantai produksi dilakukan sepenuhnya oleh peralatan yang bisa menjadwalkan sesuai kebutuhan dan ketersediaan bahan mentah. Permintaan pasar juga bisa diketahui.

Perombakan diikuti perkenalan sistem penjualan dan layanan konsumen. Keputusan Doublestar merengkuh Industri 4.0 tidak mudah. Investasi untuk membeli peralatan yang memiliki sensor mengirim data hingga merampingkan tenaga kerja dari 1.000 orang hingga seperempatnya adalah beberapa hal yang dipilih. Meski demikian, hasilnya tidak berbohong.

Masa Industri 4.0 hadir bersama datangnya internet dan dipengaruhi semua benda mati yang kini tersambung ke internet. Kini pengelola bisa mengetahui efektivitas pasokan dan meramalkan masa perawatan.

“Era produksi massal sudah mulai digantikan oleh personalisasi massal. Keinginan konsumen untuk memiliki produk yang sama tetapi berbeda hanya bisa diakomodasi jika pabrik bisa fleksibel. Itu hanya bisa diwujudkan lewat era Industri 4.0,” ujar Pascal Dricot, Head of Factory Automation PT Siemens Indonesia.

Kontribusi pendapatan
Mindsphere adalah pelantar yang digunakan Siemens untuk mengelola data dalam ukuran raksasa dan menerjunkan layanan. CTO Member of the Managing Board of Siemens AG Roland Busch menjelaskan, mereka serius berinvestasi dalam pengembangan Mindsphere dengan merekrut ahli. Pada 2016, mereka berinvestasi 4,7 miliar dollar AS untuk riset dan pengembangan secara umum.

Mindsphere memang baru berkontribusi 4,3 miliar dollar AS bagi Siemens. Itu masih lebih kecil dibandingkan layanan tradisional seperti elektrifikasi pembangkit listrik yang mencapai 42 miliar dollar AS. Namun, Busch menegaskan, digitalisasi pabrik adalah salah satu impian Siemens.

Head of Business Unit Process Automation, Digital Factory, Process Industry, and Drives Division PT Siemens Indonesia Danu Setyo Nugroho mengatakan, perhitungan biaya dengan kebutuhan usaha menjadi tantangan. Investasi untuk menerapkan Industri 4.0 harus disesuaikan dengan rencana jangka panjang.

Siemens tidak sendirian. Perusahaan penyedia solusi bagi perusahaan seperti GE juga berpikiran sama. Perusahaan penyedia peralatan produksi dan teknologi itu juga serius menggarap digitalisasi pabrik dengan membuka unit usaha baru GE Digital lima tahun silam.(Didit Putra Erlangga)

Sumber: Kompas, 21 November 2017

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 16 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru