Home / Berita / Segmentasi Pasar Ponsel Premium dan Pengalaman di Balik Lembar Spesifikasi

Segmentasi Pasar Ponsel Premium dan Pengalaman di Balik Lembar Spesifikasi

Tren ponsel untuk mengisi segmen harga di bawah Rp 2 juta diperkirakan terus terjadi hingga 2016. Fenomenanya bahkan bakal makin sengit karena merek-merek luar mulai berdatangan menawarkan ponsel dengan spesifikasi kencang, tetapi harga terjangkau.

Setidaknya hal itu bisa membantu mengubah cara pandang konsumen melihat sebuah ponsel sebagai produk. Namun, pada saat yang sama bukan berarti disimpulkan bahwa merek yang selama ini menjual ponsel dengan harga yang terbilang mahal tidak layak untuk dibeli.

Di balik spesifikasi sebuah gawai, ada suguhan lain yang ditawarkan kepada konsumen, seperti rasa nyaman ataupun kepuasan saat memakai. Selain itu juga rasa tenang untuk mendapatkan pelayanan purnajual.

Sony, misalnya, memutuskan hanya menggarap ponsel untuk kelas menengah dan premium guna menghindari perang harga seperti terjadi di kelas pemula. Tetapi, alasan yang dikemukakan adalah memfokuskan diri untuk menghadirkan perangkat yang mampu menghadirkan pengalaman yang premium kepada penggunanya. Sebelumnya mereka merilis trio ponsel seri premium, yakni Xperia Z5 dengan harga Rp 8 juta hingga Rp 12 juta.

Saat peluncuran, Jason Smith, Director and Market Head Sony Mobile Indonesia, menuturkan, mereka ingin menjadikan ponsel tidak sekadar sebagai alat komunikasi. Hal yang juga didorong oleh Sony adalah agar gawai juga bisa menjadi muara yang menghubungkan manusia sebagai penggunanya pada ekosistem perangkat elektronik yang mereka miliki, seperti perangkat audio, televisi, dan perangkat dari internet untuk segalanya (internet of things).

4686e76776c94d8e89ad277971ea4d40KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Asus meluncurkan beberapa varian dari ponsel Zenfone untuk menyasar berbagai segmen konsumen ponsel di Indonesia, mulai dari penyuka swafoto hingga pengguna yang menuntut spesifikasi tercanggih saat ini, Kamis (19/11). Mereka serius menggarap pasar Indonesia dengan sebelumnya berhasil menjual hingga 5 juta unit Zenfone sejak tahun 2014.

Tidak berhenti pada spesifikasi, Sony mengerahkan fitur terbaik dari tiga divisi yang mereka miliki seperti layar, kamera, dan konten digital untuk ditanamkan ke Xperia. Itulah mengapa setiap pengguna Xperia berhak mengakses konten digital berupa film dan musik.

Begitu pula dengan merek Samsung yang memiliki lini produk dari kelas pemula hingga premium dengan harga Rp 12 juta. Tidak hanya berhenti pada layanan purnajual, Samsung juga dikenal karena dukungan dari bentuk konten digital. Para pengguna bisa mendapatkan akses ke majalah atau koran elektronik secara terbatas begitu mengaktifkan ponsel, termasuk penawaran berupa potongan harga yang muncul secara berkala.

Samsung juga gemar merilis produk dengan desain yang membuatnya berbeda dengan ponsel lainnya. Akhir 2014, mereka memperkenalkan seri Galaxy Note Edge yang mempertemukan ponsel layar besar dengan pena stylus serta layar lengkung di sisi kanan ponsel. Tren serupa diteruskan sewaktu memperkenalkan Galaxy S6 Edge dengan kedua sisi yang melengkung.

Dengan performa yang melampaui spesifikasi rata-rata di pasar, pengguna bisa menikmati aplikasi ataupun layanan tanpa ada kendala seperti pelambatan atau jeda. Dan, dianalogikan dengan sebuah investasi, membeli ponsel dengan spesifikasi yang kencang membuat penggunanya tidak perlu khawatir harus memperbaharui perangkatnya setiap kali ada model baru yang keluar. Setidaknya dia memiliki waktu beberapa tahun untuk tetap bisa menikmati layanan, aplikasi, ataupun permainan elektronik yang ada tanpa kendala.

Itu pula yang dijanjikan Asus sewaktu memperkenalkan ZenFone 2 Deluxe Special Edition dengan spesifikasi prosesor dari Intel berkecepatan 2,3 gigahertz, RAM sebesar 4 gigabita, serta penyimpanan internal 128 gigabita. Dengan spesifikasi yang melampaui komputer jinjing paling terjangkau saat ini, Asus memasang harga Rp 6 juta.

“Ini adalah komputer yang bisa Anda masukkan ke dalam saku,” ujar CEO Asus Jerry Shen di tengah perhelatan ZenFestival pada pertengahan November lalu.

Dengan demikian, pilihan tetap ada di tangan konsumen. Dia bisa memilih ponsel dengan pertimbangan harga atau pertimbangan pengalaman saat menggunakannya. Teknologi adalah alat, bukan majikan yang bisa mendefinisikan siapa dia.

DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO

Sumber: Kompas Siang | 29 Desember 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: