Home / Berita / Polytron Masuk ke Pasar Ponsel

Polytron Masuk ke Pasar Ponsel

Sulit untuk memisahkan nama Polytron dari benak masyarakat Indonesia, terutama yang lahir sebelum tahun 2000. Produsen elektronik asal Kudus, Jawa Tengah, ini sejak 1975 mengawali kiprah di Indonesia dan memiliki lini produk elektronik mulai dari televisi, perangkat audio, radio, kulkas, mesin cuci, pendingin udara, hingga penanak nasi.

Perangkat elektronik dengan merek tersebut menjadi pemandangan yang lumrah di rumah-rumah penduduk, baik di perkotaan maupun pedesaan.

Perusahaan tersebut membuat keputusan penting pada 2011, yakni ikut terjun memproduksi telepon seluler. Itu merupakan keputusan yang cukup berisiko mengingat pasar ponsel sudah dikuasai merek dari luar negeri, seperti Samsung, HTC, dan LG, untuk segmen menengah dan menengah ke atas.

Sementara segmen menengah ke bawah dibuat jenuh dengan produk asal Tiongkok yang berharga murah, namun memiliki spesifikasi serampangan.

Tantangan yang dihadapi Polytron sungguh jelas, harus mulai dari awal untuk bertarung di pasar ponsel Indonesia. Polytron tidak cukup bangga dengan reputasi dan prestasi yang sudah diraih di masa lalu. Perusahaan elektronik ini tidak bisa lagi membanggakan keberhasilan masa lalu. Kenyataan yang dihadapi adalah sekarang dan masa mendatang.

Kini, Polytron harus bertarung dengan ponsel lain yang sudah lebih dulu merambah pasar Indonesia.

Polytron meluncurkan ponsel mulai dari yang memiliki fitur dasar, yakni telepon dan pesan singkat, hingga ponsel pintar dengan sistem operasi Android yang diproduksi hingga 70 persen. Produk paling premium ditawarkan seharga Rp 4 juta.

a7b3356b58054d558e3a291ae2793a1dEmpat tahun berlalu, Polytron teguh pada pendiriannya untuk mengembangkan lini produk ponsel. Hal ini diutarakan General Manager PT Hartono Istana Teknologi Usun Pringgodigdo, yang menyebut lini ponsel diharapkan terus tumbuh sebagai alur pemasukan baru di samping lini produk elektronik yang sudah berjalan.

Era ponsel premium dengan harga terjangkau juga direngkuh Polytron dengan meluncurkan produk Zap 5 yang memiliki spesifikasi menengah, seperti prosesor buatan Qualcomm berteknologi 64 bit, memori 1 gigabyte, kapasitas penyimpanan 8 gigabyte, dan sistem operasi versi Kitkat.

Dengan spesifikasi seperti itu, Zap 5 yang bekerja di jaringan 4G ini ditawarkan dengan harga Rp 1,1 juta dan mampu bersaing dengan ponsel-ponsel terjangkau yang sedang marak di pasar. Zap 5 terbilang sukses. Ini terbukti dengan 5.000 unit pertama yang sudah habis terpesan.

Komponen lokal
Kekuatan yang dimiliki Polytron adalah sumber daya yang sudah ada selama ini. Mereka memiliki dua pabrik di Kudus dan di Semarang dengan 10.000 karyawan.

Produksi ponsel Polytron dilakukan di Kudus dengan kapasitas 2,4 juta unit per tahun. Pertengahan tahun ini, kapasitasnya bakal ditambah menjadi 1 juta unit per bulan.

Polytron memiliki 64 unit layanan purnajual yang tersebar di semua provinsi di Indonesia. Sebanyak 57 unit layanan masih menggabungkan perbaikan ponsel dengan perangkat elektronik, sementara tujuh unit layanan di kota besar sudah spesifik melayani perbaikan ponsel saja.

Rencana pemerintah mengharuskan produsen ponsel berteknologi 4G untuk memiliki tingkat kandungan dalam negeri hingga 40 persen juga disambut Polytron dengan percaya diri.

Produk pertama Polytron sudah memiliki kandungan lokal 35 persen melalui investasi tenaga kerja, komponen yang dibuat di dalam negeri, dan investasi peralatan. ”Termasuk juga sisi perangkat lunak untuk pembaruan versi Android menggunakan server dari dalam negeri,” kata Usun.

Usun berpendapat, ketentuan yang digariskan pemerintah merupakan sesuatu yang positif demi mendorong tumbuhnya industri dalam negeri. Hingga kini, Polytron belum berencana untuk mengincar pasar luar negeri karena permintaan dari dalam negeri belum bisa dipenuhi.

Tantangan Polytron ke depan adalah membangun reputasi baru, yakni sebagai produsen elektronik andal sekaligus pembuat telepon seluler yang bisa dipercaya.

Didit Putra Erlangga Rahardjo

Sumber: Kompas, 16 Februari 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: